Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Merealisakan Hikmah Shalat Berjamaah dalam Kehidupan Bermasyarakat.
Shalat berjamaah bukan sekadar ritual ibadah yang bernilai pahala berlipat, tetapi ia adalah madrasah sosial bagi orang-orang beriman untuk membentuk kepribadian, menata hati, dan menumbuhkan tatanan masyarakat yang beradab.
Dalam shalat berjamaah, umat Islam dilatih untuk tertib, setara, patuh pada kepemimpinan, serta saling peduli kepada sesama manusia.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah
Nilai-nila tersebut tidak hanya dibicarakan dan dipraktikkan di dalam masjid saja, tetapi hendaknya mampu direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Khutbah selengkapnya silakan baca berikut:
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Khutbah ke-1:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah , Rabb Yang telah memperjalankan hamba-Nya Nabi Muhammad ﷺ dalam peristiwa agung Isra’ dan Mi’raj sebagai tanda kemuliaan risalah, pengokohan iman, dan turunnya perintah shalat lima waktu sebagai hikmahnya.
Shalawat dan salam kita curahkan kepada junjungan Nabi kita Muhammad ﷺ beserta keluarganya, para sahabatnya serta kaum Muslimin dan muslimat semuanya hingga akhir zaman.
Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah , dengan melaksanakan segenap perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Pada kesempatan yang berbahagia ini, khatib akan menyampaikan khutbah berjudul “Merealisasikan Hikmah Shalat Berjamaah dalam Kehidupan Bermasyarakat.” Sebagai landasannya, marilah kita merenungkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Qalam [68] ayat ke 42–43, yang berbunyi:
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍۢ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (٤٢) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌۭ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (٤٣). (القلم [٦٨]: ٤٢-٤٣)
“Pada hari betis disingkapkan, dan mereka dipanggil untuk bersujud tetapi mereka tidak mampu. Pandangan mereka tertunduk hina, diliputi kehinaan. Padahal dahulu mereka telah dipanggil untuk bersujud (shalat) ketika mereka masih mampu (ketika hidup di dunia).”
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian
Setelah ayat sebelumnya menggambarkan keadaan orang-orang yang bertakwa, bahwa di hari Kiamat nanti mereka mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan, kemudiaan pada ayat ini, Allah menyebutkan gambaran orang-orang yang enggan menunaikan shalat, bahwa mereka diliputi penyesalan dan kehinaan.
Ibnu Katsir Rahimahullah, menukil kalimat yang disampaikan Sa’id bin Musayyib berkata, yang artinya: “Mereka mendengar panggilan adzan, حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ (Mari mengerjakan shalat) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ (Mari menuju kemenangan!), namun mereka tidak memenuhi panggilan itu, padahal mereka dalam keadaan sehat lapang, tanpa udzur syar’I (halangan yang dibenarkan syariat).”
Maka, mereka yang enggan memenuhi panggilan adzan itu, pada hari Kiamat mereka tidak dapat sujud di hadapan Allah , maka ia dipermalukan dan dihinakan.
Adapun maksud kalimat فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (mereka tidak mampu) adalah tubuh mereka kaku, punggung mereka menjadi keras, tidak dapat menunduk, sebagai balasan karena menolak sujud waktu di dunia.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Untuk itu, hendaknya menjadi perhatian bagi semua, jangan sampai kita mengabaikan panggilan adzan, meninggalkan shalat, termasuk shalat berjamaah di masjid, padahal sebenarnya kita mampu memenuhinya.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Shalat berjamaah bukan sekadar ritual ibadah yang bernilai pahala berlipat, tetapi ia adalah madrasah sosial bagi orang-orang beriman untuk membentuk kepribadian, menata hati, dan menumbuhkan tatanan masyarakat yang beradab.
Dalam shalat berjamaah, umat Islam dilatih untuk tertib, setara, patuh pada kepemimpinan, serta saling peduli kepada sesama manusia.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
Nilai-nila tersebut tidak hanya dibicarakan dan dipraktikkan di dalam masjid saja, tetapi hendaknya mampu direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika umat Islam mampu secara maksimal menerapkan nilai-nilai dan hikmah shalat berjamaah. Maka akan tercipta masyarakat yang rukun, adil, disiplin, dan penuh kasih sayang.
Shalat berjamaah adalah miniatur kehidupan masyarakat yang ideal. Di dalamnya ada imam sebagai pemimpin, makmum sebagai anggota, aturan yang ditaati bersama, serta tujuan yang sama, yaitu ikhlas beribadah untuk mendapat ridha dan pahala Allah .
Karena besarnya kedudukan shalat berjamaah dalam Islam, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian dan penegasan yang sangat kuat terhadap pelaksanaannya. Beliau tidak hanya menganjurkan, tetapi menegaskan bahwa selama seseorang masih mendengar azan dan tidak memiliki udzur syar‘i yang sah, maka ia diperintahkan untuk memenuhinya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Hal ini tampak pada kisah sahabat yang buta, Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu. Ia meminta izin untuk tidak hadir ke masjid. Rasulullah ﷺ lalu bertanya, “Apakah engkau mendengar adzan?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Nabi ﷺ bersabda: فَأَجِبْ “Penuhilah panggilan itu.”
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Hikmah dari shalat berjamaah yang perintahnya disampaikan kepada Rasulullah ﷺ pada peristiwa Isra’ Mi’raj di bulan Rajab ini minimalnya ada empat hal, yaitu:
Pertama, Kebersamaan
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Shalat berjamaah adalah ciri dari kebersamaan umat Islam. Semua berdiri sejajar tanpa memandang status, menghadap kiblat yang sama, satu irama, dan tunduk kepada Allah dalam satu barisan.
Shalat berjamaah merupakan salah satu sarana terwujudnya syariat Al-Jamaah yang menyebabkan turunnya rahmat Allah , sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,
الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ (رواه أحمد)
“Al-Jama’ah adalah rahmat, dan perpecahan adalah azab.” (HR. Ahmad)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Hidup berjama’ah merupakan implementasi dari perintah Allah untuk menghindari perpecahan yang dapat mengundang azab-Nya. Allah berfitman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا…(ال عمران [٣]: ١٠٣)
“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah dan janganlah bercerai-berai…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103)
Kedua, Ketaatan pada Imaam (pemimpin)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Dalam shalat berjamaah, makmum wajib mengikuti imam, bukan mendahuluinya dan bukan pula tertinggal darinya. Hal itu mengajarkan pentingnya ketaatan, selama pemimpin berada di jalur yang benar.
Dalam kehidupan bermasyarakat, hikmah ini dapat diterapkan dengan mendukung pemimpin yang amanah, menaati aturan bersama, dan menyampaikan kritik dengan cara yang santun dan konstruktif.
Namun, jika makmum tidak taat kepada imam, shalat menjadi kacau, gerakan tidak serasi, dan tujuan ibadah kehilangan kekhusyukannya. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat, ketika anggota masyarakat enggan taat kepada pemimpin yang amanah, keteraturan berubah menjadi kekacauan, perpecahan, dan hilangnya ketentraman dalam masyarakat.
Ketiga, Prinsip Kesetaraan dan Anti-Diskriminasi
Shaf shalat tidak mengenal kelas sosial. Nilai ini sangat penting untuk direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam menghapus sikap diskriminatif, baik karena ekonomi, suku, maupun latar belakang keduniaan lainnya.
Kedudukan dan derajat seseorang berdasarkan hendaknya diukur dengan ketakwaan, akhlak, dan kontribusinya dalam masyarakat, bukan pada status dan kedudukan duniawinya. Inilah fondasi keadilan sosial sejati yang hendaknya berlaku di tengah-tengah masyarakat
Keempat, Ukhuwah dan Solidaritas Sosial
Kebersamaan dalam shalat berjamaah seharusnya melahirkan kepekaan sosial. Jamaah yang berdiri berdampingan di masjid idealnya saling mengenal. Maka dalam kehidupan bersyarakat diharapkan mereka bisa saling membantu, tolong-menolong, bekerja sama dan saling mendoakan dalam kebaikan.
Ketika nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan) dan solidaritas sosial hidup dalam masyarakat, maka masalah kemiskinan, musibah, dan ketimpangan sosial akan lebih bisa diatasi.
Kepedulian sosial hendaknya tidak berhenti pada lingkungan terdekat saja, tetapi harus meluas hingga mencakup saudara-saudara seiman yang tertindas di berbagai belahan dunia, termasuk di Palestina.
Mereka adalah bagian dari umat Islam. Penderitaan mereka seharusnya menggugah hati kita untuk melakukan aksi nyata membantu mereka.
Dari ukhuwah dan solidaritas sosial itulah lahir kekuatan umat yang akan mampu menghapus segala bentuk kedzaliman di muka bumi.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah ke-2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic