Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Berqurban, Menghilangkan Kedengkian  

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 7 Mei 2026 - 14:06 WIB

Kamis, 7 Mei 2026 - 14:06 WIB

486 Views ㅤ

Suasana khutbah Jumat di sebuah masjid di Indonesia (foto: Fpik)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Berqurban, Menghilangkan Kedengkian.

Ibadah qurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan momentum spiritual untuk melawan penyakit hati, terutama kedengkian, keserakahan, dan egoisme.

Sesungguhnya semangat berkorban adalah fitrah kehidupan manusia. Sejak lahir ke dunia, manusia telah belajar tentang pengorbanan dengan meninggalkan alam rahim dan terputus dari sumber kehidupan yang selama ini menjaganya. Karena itu, sikap rela berkorban harus terus dipupuk dalam kehidupan manusia.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Dalam konteks itulah, ibadah qurban mengandung pelajaran besar untuk membersihkan jiwa dan melawan kedengkian.

Khutbah selengkapnya, silakan baca berikut:

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Khutbah ke-1:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang telah menanamkan iman dan Islam di dalam hati-hati kita.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga hari pembalasan.

Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Dalam keadaan apa pun, senang maupun sulit, marilah kita tetap istiqamah memegang teguh nilai-nilai takwa.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan Jum’at yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah [5]: 27, yang berbunyi:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ (المائدة (٥): ٢٧)

“Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertaqwa””.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Ayat ini menjadi landasan utama dalam memahami hakikat berqurban. Dalam tafsir Al-Maraghi dijelaskan bahwa diterimanya qurban bukan karena bentuk lahiriah semata, tetapi karena ketakwaan dan keikhlasan kepada Allah . Habil mempersembahkan yang terbaik dengan hati yang bersih, sementara Qabil mempersembahkan dengan hati yang rusak.

Habil adalah seorang peternak. Ia mempersembahkan qurban terbaik dari hewan ternaknya. Adapun Qabil adalah seorang petani, namun ia mempersembahkan hasil pertanian yang buruk. Ketika qurbannya ditolak, Qabil tidak melakukan introspeksi dan tidak berusaha memperbaiki diri. Sebaliknya, ia dipenuhi rasa dengki (hasad) terhadap saudaranya yang qurbannya diterima oleh Allah ﷻ.

Menurut salah satu riwayat, perintah berqurban kepada Qabil dan Habil merupakan bagian dari penyelesaian konflik di antara keduanya terkait pernikahan silang yang berlaku pada masa itu. Qabil merasa iri kepada Habil karena Habil mendapatkan pasangan yang lebih baik dan lebih menarik dibanding pasangan yang diperuntukkan baginya.

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa hasad merupakan dosa besar pertama yang terjadi di langit, yaitu ketika iblis menolak perintah Allah ﷻ untuk bersujud kepada Nabi Adam ‘alaihis-salām. Kemudian dosa ini kembali terjadi di bumi, ketika Qabil dipenuhi kedengkian terhadap saudaranya, Habil.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Kedengkian itu tidak berhenti pada sekadar perasaan, tetapi berkembang menjadi kebencian, berubah menjadi permusuhan, hingga berujung pada pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Karena itu, hasad adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia merusak agama, menghancurkan hubungan antarmanusia, dan membuka lebar pintu kezaliman.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pelajaran bagi umat Islam, bahwa kedengkian adalah akar dari kerusakan besar di muka bumi. Apa yang terjadi pada Qabil bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi gambaran nyata yang terus berulang dalam sejarah manusia.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Pertentangan, permusuhan, peperangan, dan pembunuhan yang terjadi di berbagai penjuru dunia hari ini, berawal dari kedengkian, kebencian, dan ketidakridhaan terhadap kebenaran, sebagaimana kebencian Yahudi dan Nasrani terhadap Nabi Muhammad ﷺ dan umat Islam sampai saat ini. Allah  berfirman akan hal itu:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (البقرة  (٢): ١٢٠)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sungguh jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 120)

Mereka tidak pernah akan berhenti dalam memusuhi Islam sampai umat Islam mengikutinya, dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai jika mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan mengikutinya.” … (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Ibadah qurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan momentum spiritual untuk melawan penyakit hati, terutama kedengkian, keserakahan, dan egoisme.

Sesungguhnya semangat berkorban adalah fitrah kehidupan manusia. Sejak lahir ke dunia, manusia telah belajar tentang pengorbanan dengan meninggalkan alam rahim dan terputus dari sumber kehidupan yang selama ini menjaganya. Karena itu, sikap rela berkorban harus terus dipupuk dalam kehidupan manusia.

Dalam konteks itulah, ibadah qurban mengandung pelajaran besar untuk membersihkan jiwa dan melawan kedengkian, di antaranya adalah:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

Pertama : Menyembelih Nafsu Kebinatangan

Ibadah kurban adalah simbol menyembelih “nafsu kebinatangan” yang ada dalam diri manusia. Nafsu ini meliputi sifat serakah, kikir, egois, serta keinginan untuk menghalalkan segala cara.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa qurban adalah simbol penyembelihan sifat kebinatangan dalam diri manusia. Maka dengan berqurban, manusia dapat membuang jauh-jauh sifat buruk tersebut.

Kedua, Melawan Kedengkian dan Egoisme

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Dengan berkurban, seorang Muslim dididik untuk berbagi, yang secara langsung mengikis penyakit hati berupa kedengkian, iri hati atas nikmat orang lain dan egoisme.

Maka jangan sampai kita berqurban, tetapi hati kita masih dipenuhi kedengkian kepada sesama. Tetapi mari kita gantikan semua itu dengan keikhlasan dalam beramal, Syukur atas nikmat dan ketaqwaan kepada Allah  sebagaimana bunyi akhir ayat Al-Maidah: 27 di atas, “…Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertaqwa”.

Ketiga, Wujud Kepedulian Sosial

Kurban merupakan ibadah yang humanis dan bukti solidaritas sosial. Ini menekankan bahwa manusia tidak hidup sendiri dan memiliki kewajiban untuk memperhatikan sesama, dan hal itu akan menghilangkan benih-benih permusuhan dan sifat dengki.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Orang-orang yang memiliki sikap rela berkorban akan menjadi makhluk yang sangat dicintai oleh Allah . sebaliknya, orang yang terlena dengan nafsu kebinatangan, kufur nikmat, mengobarkan api perpecahan dan permusuhan, maka mereka menjadi orang yang paling dibenci dan dilaknat oleh Allah Ta’ala, Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَى اللَّهِ أَلْيَنُكُمْ أَكْنَافًا، الَّذِينَ يَأْلَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَى اللَّهِ الْمَشَّاؤُونَ بِالنَّمِيمَةِ، الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ (رواه الطبراني)

“Sesungguhnya orang yang paling dicintai di antara kalian oleh Allah adalah yang paling lembut perangainya, yang mudah bergaul dan disenangi (serta menyenangkan orang lain). Dan sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah mereka yang berjalan ke sana kemari menyebarkan adu domba, yang memecah-belah di antara orang-orang yang saling mencintai.” (HR. At-Thabrani)

Keempat Penyucian Diri

Berkurban menjadi ajang untuk mensucikan harta dan jiwa, sehingga hati menjadi bersih dari penyakit hati, cinta dunia dan lebih dekat kepada Allah .

Dengan demikian berqurban adalah upaya nyata untuk memperbaiki hubungan dengan Allah (habluminallah) dan hubungan antarmanusia (habluminannas) dengan cara membersihkan hati dari penyakit-penyakitnya. Hati yang dipenuhi dengan sifat dengki, maka tidak akan pernah lahir ketenangan dan kasih sayang diantara umat Islam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat