Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kiprah Bangsa Palestina Mendukung Kemerdekaan Indonesia

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 16 Agustus 2026 - 17:58 WIB

Ahad, 16 Agustus 2026 - 17:58 WIB

34 Views ㅤ

Ilustrasi: Bendera Indonesia dan Palestina. (Nabd)

HUBUNGAN antara Indonesia dan Palestina bukanlah sekadar kisah persahabatan duan negara yang lahir di era modern. Ia adalah ikatan bersejarah yang berakar jauh sebelum Sang Saka Merah Putih berkibar.

Bahkan ketika Indonesia masih dalam belenggu penjajahan, dari tanah suci Palestina telah terpancar dukungan moral yang menggetarkan. Inilah kiprah yang patut kita kenang dan peninggalan yang harus kita jaga.

  1. Pengakuan De Facto Sebelum Proklamasi

Mendengar kabar ada sebuah bangsa yang ingin Merdeka, yakni Indonesia, Mufti Besar Palestina, Syekh Muhammad Amin al-Husaini, bergerak cepat. Melalui siaran radio berbahasa Arab dari Berlin, Jerman, ia menyampaikan ucapan selamat dan dukungan terhadap perjuangan Indonesia.

Bayangkan, Indonesia bahkan belum memproklamasikan kemerdekaannya. Namun dari Palestina, sudah terdengar suara yang mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto.

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Pernyataan selamat itu juga dimuat dalam surat kabar terkemuka Mesir, Al-Ahram. Ini menjadikan Palestina sebagai salah satu pihak pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

  1. Peran Duo Tokoh Palestina: Mufti dan Saudagar

Ada dua tokoh utama di balik dukungan awal kemerdekaan Indonesia.

Pertama, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini (Mufti Besar Palestina).

Peran Al-Husaini tidak lahir secara tiba-tiba. Jejaknya telah terjalin sejak 1931, ketika seorang pemuda Indonesia bernama Abdul Kahar Muzakir diundang untuk menghadiri Konferensi Dunia Islam di Yerusalem.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Saat itu, Muzakir, yang kemudian menjadi tokoh penting Indonesia, diminta menjadi sekretaris konferensi, mendampingi langsung Al-Husaini. Ini adalah tonggak awal hubungan diplomatik informal antara dua bangsa, Indonesia-Palestina.

Muzakir memanfaatkan momen itu untuk memperkenalkan Indonesia sebagai negeri berpenduduk mayoritas Muslim dan meminta dukungan bagi perjuangan kemerdekaannya.

Kedua, Muhammad Ali Taher (Saudagar dan Raja Media Palestina).

Selain dukungan moral, ada pula dukungan materi yang sangat signifikan. Muhammad Ali Taher, seorang pengusaha media kaya raya asal Tepi Barat, adalah sosok di balik itu.

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Ia adalah pemilik surat kabar Asyyura, Al-Shabab, dan lainnya, yang secara konsisten memberitakan perjuangan Indonesia dan melobi negara-negara Arab untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.

Pada awal Agresi Militer II Belanda (Desember 1948), ketika Republik sedang terdesak, Ali Taher memanggil M. Zein Hassan (diplomat Indonesia) ke Bank Arabia dan mengeluarkan seluruh uang simpanannya untuk diserahkan demi perjuangan Indonesia.

  1. Solidaritas dalam Aksi dan Pengakuan

Dukungan Palestina tidak berhenti pada kata-kata dan uang. Saat Inggris melancarkan serangan di Surabaya pada 10 November 1945, di Timur Tengah terjadi demonstrasi anti-Belanda dan anti-Inggris, dan dilangsungkan shalat ghaib bagi para syuhada Indonesia. Ini adalah bentuk dukungan spiritual yang menyentuh hati.

Jejak kiprah ini semakin nyata ketika pada 1947, Indonesia termasuk negara pertama di Asia yang menolak Rencana Pembagian Palestina oleh PBB (Resolusi 181). Ini adalah bentuk balasan atas dukungan yang pernah diberikan.

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

  1. Peninggalan Sejarah yang Abadi
  2. Jejak Nama “Kudus” dan Masjid Al-Aqsha di Jawa

Salah satu peninggalan paling menarik adalah Kota Kudus di Jawa Tengah. Nama “Kudus” diyakini berasal dari kata Al-Quds, nama Arab untuk Yerusalem. Sunan Kudus (Syaikh Ja’far Shadiq), salah satu Wali Songo, terinspirasi oleh Kota Baitul Maqdis di Palestina ketika menamai wilayah tersebut.

Ia juga membangun Masjid Menara Kudus pada tahun 1478-1568 yang diberi nama Masjidil Aqsa, sebagai bentuk penghormatan dan simbolisasi terhadap masjid suci di Palestina.

  1. Pengakuan terhadap Kemerdekaan Indonesia

Seperti telah disebutkan, pengakuan de facto pada 1944 oleh Mufti Palestina dan dukungan aktif Ali Taher adalah warisan sejarah yang tak ternilai. Ini menjadi fondasi mengapa seluruh presiden Indonesia, tanpa kecuali, konsisten mendukung perjuangan Palestina.

  1. Pembukaan Kedutaan Besar Palestina di Jakarta

Pada 19 Oktober 1989, pada masa Presiden Soeharto, dibangun Kantor Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, menjadikan Indonesia sebagai negara Asia Tenggara pertama yang memberi status diplomatik resmi bagi Palestina. Ini adalah pengakuan timbal balik atas dukungan historis yang pernah diberikan.

Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla

  1. Ikatan Emosional yang Tak Terputus

Sampai hari ini, masyarakat Gaza khususnya terbukti sangat mencintai Indonesia. Laporan menyebutkan bahwa masyarakat Gaza dengan antusias ikut merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus, mengibarkan bendera Merah Putih dan bendera Palestina bersisian, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ini adalah bukti bahwa ikatan sejarah itu hidup dan terpelihara di hati rakyat Palestina.

Ya, inilah kisah yang mengajarkan kita bahwa solidaritas bukanlah kata-kata kosong. Ia adalah tindakan nyata yang melintasi lautan dan zaman.

Palestina telah berdiri bersama Indonesia di saat-saat paling kritis perjuangan kemerdekaan. Maka, tidak heran jika dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina begitu kuat dan konsisten, itu adalah pembalasan atas budi yang pernah diberikan. Dan hutang ini harus dibayar sampai Palestina merdeka dan berdaulat di atas tanah airnya sendiri, dan Masjid Al-Aqsa bebas menjadi milik umat Islam. []

Ali Farkhan Tsani, Penulis Duta Al-Quds Internasional dan Redaktur Senior MINA News.

Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda