Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Krisis Demografi Kian Mengkhawatirkan, Jepang Kehilangan 360 Ribu Anak dalam Setahun

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Kamis, 11 Juni 2026 - 11:09 WIB

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:09 WIB

46 Views ㅤ

potret anak Jepang (foto; Fpik)

Tokyo, MINA – Jepang kembali mencatat rekor terendah jumlah anak dalam sejarah modernnya setelah populasi penduduk berusia di bawah 15 tahun menyusut sekitar 360 ribu jiwa dalam setahun terakhir.

Data terbaru menunjukkan jumlah anak di Negeri Sakura kini tinggal sekitar 13,3 juta orang atau hanya 10,8 persen dari total populasi nasional, angka terendah sejak pencatatan statistik dimulai pada 1950. Channel News Asia melaporkan, Kamis (11/6).

Penurunan tersebut menandai tahun ke-45 berturut-turut berkurangnya populasi anak di Jepang. Kondisi itu mempertegas tantangan demografi yang telah lama dihadapi negara tersebut, yakni rendahnya angka kelahiran yang tidak mampu mengimbangi jumlah penduduk lanjut usia maupun tingkat kematian yang terus meningkat.

Tingginya biaya hidup, mahalnya biaya pendidikan dan pengasuhan anak, serta perubahan pola hidup masyarakat menjadi faktor utama yang membuat banyak pasangan Jepang menunda pernikahan atau memilih memiliki lebih sedikit anak.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Selain itu, budaya kerja yang padat dan ketidakpastian ekonomi juga disebut turut memengaruhi keputusan generasi muda untuk membangun keluarga.

Pemerintah Jepang dalam beberapa tahun terakhir telah meluncurkan berbagai program untuk mendorong angka kelahiran, mulai dari bantuan finansial bagi keluarga, perluasan fasilitas penitipan anak, hingga insentif bagi pasangan muda.

Namun berbagai kebijakan tersebut sejauh ini belum mampu membalikkan tren penurunan populasi yang berlangsung selama beberapa dekade.

Krisis demografi itu berdampak langsung pada struktur penduduk Jepang yang semakin menua. Saat ini usia median penduduk Jepang telah mencapai sekitar 50 tahun, menjadikannya salah satu negara dengan populasi tertua di dunia. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap sektor ketenagakerjaan, sistem pensiun, layanan kesehatan, dan produktivitas ekonomi nasional.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem

Dengan jumlah penduduk yang terus menyusut dan tingkat kesuburan yang masih berada jauh di bawah angka pengganti generasi, banyak pengamat memperingatkan bahwa Jepang memerlukan langkah yang lebih komprehensif untuk mengatasi krisis ini.

Jika tren tersebut terus berlanjut, negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia itu diperkirakan akan menghadapi tantangan yang semakin besar dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sistem sosialnya pada masa mendatang. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Rekomendasi untuk Anda