Gaza, MINA – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk setelah perang dan blokade memasuki tahun ketiga, dengan 1,6 juta pengungsi hidup di tenda-tenda.
Jutaan warga kekurangan makanan dan air, serta menghadapi kehancuran infrastruktur dan layanan dasar. Dikutip dari Palinfo, Jumat (28/8).
Keluarga-keluarga bertahan hidup di tenda yang tidak memiliki kebutuhan dasar. Kondisi ini semakin berdampak pada anak-anak, perempuan, dan orang sakit. Pemerintah kota di Gaza juga semakin kesulitan menyediakan air, sanitasi, dan layanan kebersihan.
Menteri Pembangunan Sosial Samah Hamad, memperingatkan memburuknya kondisi kemanusiaan dan sosial di Gaza.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Menurut Hamad, tenda-tenda pengungsi kekurangan jaringan air minum dan makanan pokok. Kondisi itu diperparah oleh kehancuran besar-besaran infrastruktur dan fasilitas pengolahan air. Persediaan air bahkan telah turun di bawah standar internasional.
Ia juga memperingatkan penurunan tajam jumlah truk bantuan serta suplemen nutrisi bagi anak-anak dan perempuan hamil, meskipun terdapat keputusan-keputusan PBB.
Sekitar 500 ribu warga disebut mengalami kelaparan. Jumlah itu diperkirakan dapat meningkat menjadi 1,8 juta orang pada akhir tahun.
Hamad juga memperingatkan kemungkinan sekitar 500 ribu anak mengalami penyakit akibat kekurangan gizi. Data tersebut mengacu pada laporan 15 lembaga internasional, termasuk Integrated Food Security Phase Classification (IPC).
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
Bantuan pendidikan masih tertahan
Di bidang pendidikan, Hamad juga mengatakan pemerintah berkoordinasi dengan organisasi internasional dan lokal untuk menyediakan perlengkapan sekolah dan mendukung pusat-pusat anak yatim.
Namun, sebagian besar bantuan tersebut masih tertahan di perbatasan.
Dalam bidang sosial, ia menyoroti meningkatnya perpecahan keluarga dan angka perceraian akibat kehidupan yang berlangsung lama di dalam tenda.
Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid
Jumlah anak yatim atau anak yang tidak didampingi kini mencapai sekitar 55 ribu anak. Upaya untuk mengaktifkan kembali pusat-pusat perlindungan bagi mereka terus dilakukan.
Ruang hidup Gaza kurang dari 30 persen
Direktur Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil di Jalur Gaza, Muhammad Saleha, Selasa, memperingatkan terjadinya bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia mengatakan ruang yang tersedia bagi kehidupan warga telah menyusut menjadi kurang dari 30 persen dari total luas Jalur Gaza akibat perintah evakuasi paksa yang terus berlangsung serta serangan terhadap pusat pengungsian dan wilayah berpenduduk.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
Jaringan tersebut pekan lalu juga menyatakan Gaza menghadapi kebijakan kelaparan sistematis akibat pembatasan ketat Israel terhadap masuknya bantuan.
Pasokan yang masuk ke Gaza, menurut jaringan itu, hanya memenuhi sekitar 20–30 persen kebutuhan dasar penduduk.
Ketua jaringan tersebut memperingatkan kondisi kemanusiaan dan bantuan semakin memburuk karena pembatasan arus bantuan dan kenaikan tajam harga barang-barang penting di pasar lokal.
67% warga mengalami kerawanan pangan
Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Palestina melaporkan pada Juli lalu bahwa 67 persen penduduk Gaza mengalami kerawanan pangan, sementara sekitar 10 persen penduduk mendekati ambang kelaparan.
OCHA juga menyebut sekitar 1,4 juta warga Palestina di Gaza mengalami kerawanan pangan. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa kondisi darurat pangan dapat berkembang menjadi kelaparan apabila bantuan kemanusiaan tidak terus mengalir dan situasi di lapangan tidak membaik.
Sekitar 2 juta warga Palestina di Gaza kini hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sangat buruk akibat blokade dan pembatasan Israel terhadap masuknya bantuan dalam jumlah yang memadai.
Kondisi tersebut menyebabkan kekurangan gizi dan penyakit terkait semakin menyebar. Rumah sakit juga kesulitan memberikan pelayanan karena kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis. []
Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic