Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Krisis Obat di Gaza, Ribuan Pasien Kehilangan Akses Kemoterapi

Arina Islami Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 30 Juli 2026 - 21:17 WIB

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:17 WIB

40 Views ㅤ

Pasien korban perang dari jalur Gaza (FOTO: Hilal Ahmar Palestine)

Gaza, MINA – Krisis obat kanker di Gaza semakin memburuk seiring berlanjutnya pembatasan masuknya obat-obatan dan perlengkapan medis oleh Zionis Israel.

Akibatnya, ribuan pasien kanker di Gaza kehilangan akses kemoterapi, sehingga meningkatkan risiko kematian di tengah krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.

Salah satu korban krisis tersebut adalah Kholoud Abu Sahmoud (33), dosen universitas dan ibu dua anak yang kini mengungsi di sebuah sekolah yang dijadikan tempat penampungan di Gaza selatan.

Ia berjuang melawan kanker hati dalam kondisi yang sangat terbatas.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Setelah menjalani 15 kali kemoterapi, Abu Sahmoud diberitahu dokter bahwa pengobatan tidak dapat dilanjutkan karena obat kemoterapi di Gaza yang tersedia tidak sesuai dengan jenis kanker yang dideritanya.

“Saya didiagnosis menderita kanker hati sesaat setelah melahirkan putri saya sekitar sembilan bulan lalu. Namun setelah beberapa kali kemoterapi, kondisi saya justru semakin memburuk,” ujarnya kepada Middle East Eye, dikutip pada Kamis (30/7).

Ia mengatakan kemoterapi yang dijalaninya tidak mampu mengobati kanker, tetapi justru menyebabkan rambut dan kukunya rontok.

Hampir 10 bulan setelah kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025, Zionis Israel masih membatasi masuknya berbagai obat esensial dan penyelamat nyawa ke Jalur Gaza, termasuk obat kanker, obat kemoterapi, antibiotik, obat bius, perlengkapan laboratorium, alat diagnostik, serta perlengkapan bedah.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Data lembaga-lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa hingga Maret lalu sekitar 46 persen obat-obatan esensial dan 66 persen bahan medis habis pakai telah habis dari stok di Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza bulan ini juga mengumumkan bahwa layanan kemoterapi di Gaza untuk berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara, kanker kolorektal, kanker saluran pencernaan, tumor kepala dan leher, serta sarkoma, nyaris berhenti total akibat stok obat onkologi mencapai tingkat kritis.

Dari sekitar 11.000 pasien kanker di Gaza, sedikitnya 4.000 pasien telah memperoleh rujukan medis, tetapi masih menunggu izin untuk keluar dari Jalur Gaza guna menjalani pengobatan.

Direktur Pusat Kanker Gaza, Dr. Muhammed Abu Nada, mengatakan tenaga medis bahkan terpaksa menggunakan obat yang telah kedaluwarsa akibat kelangkaan yang sangat parah.

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

“Kini bahkan obat-obatan yang sudah kedaluwarsa itu pun telah habis. Kondisi ini jelas meningkatkan angka kematian pasien,” katanya.

Menurut Abu Nada, Gaza kini menghadapi krisis obat kemoterapi terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Persediaan obat kanker payudara yang tersisa hanya cukup untuk pasien yang sedang menjalani terapi, sementara pasien baru tidak lagi memiliki pilihan pengobatan.

Ia menambahkan, dokter kini terpaksa menggunakan terapi satu jenis obat sebagai pengganti protokol pengobatan standar.

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Kondisi tersebut mengurangi efektivitas pengobatan, memperburuk hasil terapi, meningkatkan komplikasi, serta diperparah dengan kelangkaan obat imunoterapi yang sangat dibutuhkan pasien kanker.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza

Rekomendasi untuk Anda