Tokyo, MINA – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak Presiden Iran Masoud Pezeshkian memastikan Selat Hormuz kembali terbuka bagi pelayaran yang bebas dan aman tanpa biaya tambahan. Desakan itu disampaikan dalam percakapan telepon kedua pemimpin pada Rabu (12/8).
Dalam pembicaraan tersebut, Takaichi menilai situasi di sekitar Selat Hormuz telah memasuki tahap kritis. Ia meminta Iran berdiskusi erat dengan komunitas internasional, termasuk negara-negara yang menggunakan jalur strategis tersebut, untuk menjamin kelancaran navigasi. Laman Kementerian Luar Negeri Jepang melaporkan, Kamis (13/8).
Takaichi juga mendorong penurunan ketegangan militer di kawasan dan penyelesaian berbagai persoalan melalui diplomasi. Jepang meminta Amerika Serikat dan Iran kembali berunding berdasarkan kesepahaman yang telah dicapai kedua pihak, termasuk penyelesaian isu nuklir Iran.
Selain Selat Hormuz, Perdana Menteri Jepang turut menyoroti kondisi di Selat Bab el-Mandeb. Ia meminta Iran mendorong kelompok Houthi di Yaman menahan diri, menyusul kekhawatiran terhadap serangan terhadap kapal komersial dan fasilitas terkait minyak.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Pezeshkian dalam pembicaraan itu menjelaskan perkembangan komunikasi Iran dengan Oman mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Terkait Bab el-Mandeb, Presiden Iran mengatakan pihaknya juga tengah melakukan dialog dengan Arab Saudi untuk mencari penyelesaian. Kedua pemimpin sepakat melanjutkan komunikasi erat guna mempercepat penurunan ketegangan.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis bagi perdagangan dan keamanan energi dunia. Karena itu, gangguan terhadap pelayaran di jalur tersebut berpotensi berdampak luas terhadap distribusi energi dan perekonomian global.
Jepang yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Timur Tengah berkepentingan memastikan jalur tersebut tetap aman dan terbuka. []
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic