Lawan Aneksasi, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Serukan Pemboikotan Produk Israel

Bogor, MINA – Sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina dan penolakan atas rencana aneksasi Israel atas wilayah Tepi Barat, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) menyerukan pemboikotan terhadap produk-produk Israel atau yang pro terhadapnya.

“Sejak 2017, Zionis Yahudi dan Amerika Serikat secara intensif dan masif menggelar propaganda “Deal of The Century” yang termasuk di dalamnya rencana untuk mencaplok dengan paksa dan ilegal (aneksasi) wilayah Tepi Barat yang secara sah menjadi milik bangsa Palestina. Aneksasi Tepi Barat tersebut akan menimbulkan kesengsaraan yang lebih buruk bagi bangsa Palestina dan mengancam perdamaian dunia,” ujar Jama’ah Muslimin dalam keterangan tertulis pada Rabu (1/7).

Jama’ah Muslimin mengatakan, aneksasi akan menjadikan Zionis Yahudi semakin zalim menindas muslimin Palestina dan akan menghancurkan berbagai situs suci yang menjadi milik umat lslam sedunia seperti masjid-masjid bersejarah, makam para Nabi dan para sahabat Rasulullah dan puncaknya adalah Masjid Al Aqsa.

“Maka kita harus berbuat sesuatu semampu kita untuk menghentikan rencana tersebut. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memboikot produk-produk zionis Yahudi atau pendukungnya,” tegas keterangan itu.

Secara khusus seruan boikot juga disampaikan oleh Duta Besar Palestina untuk lndonesia, Zuhair Al Shun, pada Konferensi Pers tentang Penolakan terhadap Rencana Zionis Yahudi untuk Menganeksasi Tepi Barat yang digelar oleh Al Aqsa Working Group (AWG) di Jakarta 25 Juni lalu.

Lebih lanjut Jama’ah Muslimin menjelaskan, gerakan boikot ini harus didukung dengan data dan informasi yang akurat dengan berpegang kepada prinsip tabayyun agar semua ikhwan diminta aktif mencari informasi valid terkait produk-produk Zionis Yahudi dan pendukungnya agar terhindar dari kesalahan.

Adapun yang termasuk dalam gerakan boikot ini adalah tidak melakukan hal-hal yang terkait dengan membeli, mengonsumsi dan menyiarkan keberadaan atau penggunaan produk-produk tersebut melalui iklan (secara langsung atau tidak langsung) di media massa dan media sosial.

“Gerakan boikot ini memerlukan komunikasi yang efektif dan persuasif serta dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dimulai dengan keluarga sendiri dan terus meluas kepada orang-orang di sekitar kita. Gerakan boikot ini dilaksanakan sampai Zionis Yahudi betul-betul membatalkan rencana aneksasi Tepi Barat dan akan dievaluasi secara berkala setiap 3 (tiga) bulan,” pungkasnya. (R/R7/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)