Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makna Terpilihnya Khalil al-Hayya sebagai Pemimpin Baru Hamas

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 23 Juli 2026 - 06:25 WIB

Kamis, 23 Juli 2026 - 06:25 WIB

54 Views ㅤ

Khalil al-Hayya (foto :x)

Gaza, MINA – Terpilihnya Khalil al-Hayya sebagai Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) pada Senin, 20 Juli2026, bukan sekadar pergantian rutin kepemimpinan. Di tengah genosida yang masih berlangsung di Jalur Gaza, eskalasi militer Israel, serta tekanan diplomatik global, proses pemilihan ini menjadi bukti nyata bahwa struktur kepemimpinan Hamas tetap berjalan, bahkan dalam kondisi perang dan pengepungan total.

Para analis politik menilai bahwa terpilihnya al-Hayya mencerminkan tahap baru dalam struktur internal dan pilihan strategis gerakan, setelah serangkaian pembunuhan sistematis yang menimpa sejumlah pemimpin utamanya selama dua tahun terakhir, terutama syahidnya Ismail Haniyeh, Saleh al-Arouri, dan Syahid Yahya Sinwar.

Proses Pemilihan di Tengah Suasana Perang

Proses pemilihan Khalil al-Hayya dilakukan melalui mekanisme internal Hamas yang berlangsung secara musyawarah di tengah kondisi keamanan yang sangat sulit. Pertemuan-pertemuan konsultatif dilakukan dengan protokol keamanan ketat, mengingat Zionis Israel terus memburu para pemimpin dan kader Hamas di berbagai wilayah, termasuk Gaza, Tepi Barat, dan luar negeri.

Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang

Meskipun menghadapi ancaman pembunuhan yang terus mengintai, mekanisme demokrasi internal Hamas tetap berjalan. Dewan Syura dan badan-badan kepemimpinan gerakan berhasil menyelesaikan proses konsultasi dan mencapai konsensus untuk mengangkat al-Hayya sebagai pemimpin baru. Ini menjadi bukti bahwa gerakan perlawanan tersebut masih memiliki kesatuan internal yang kuat meskipun menghadapi upaya pembunuhann kepemimpinan dari Zionis Israel.

Situasi Gaza

Al-Hayya mengambil alih kepemimpinan di saat Gaza berada dalam kondisi paling kelam dalam sejarahnya. Hampir seluruh infrastruktur hancur, puluhan ribu syuhada berjatuhan, dan lebih dari dua juta penduduk terjebak dalam blokade total tanpa akses makanan, air, listrik, dan obat-obatan yang memadai.

Namun, justru dalam kondisi inilah al-Hayya, yang berasal dari Gaza dan mengalami langsung penderitaan rakyatnya, dipercaya memimpin.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer

Analis politik Mohammed Mustafa Shaheen menegaskan bahwa al-Hayya “bukan pemimpin yang lahir dari teori politik atau pengalaman diplomatik tradisional, tetapi dari pengalaman lapangan yang mengalami rincian konflik Palestina dalam seluruh dimensinya.”

Kehilangan puluhan anggota keluarganya akibat serangan Israel, termasuk putra-putranya Osama, Hamza, Hammam, dan Azzam, menjadikannya simbol bahwa kepemimpinan dalam konteks ini bukanlah sekadar posisi politik, melainkan tanggung jawab yang terkait dengan pengorbanan berkelanjutan.

Peta Geopolitik Global

Terpilihnya al-Hayya juga mengirim sinyal kuat ke panggung geopolitik internasional. Di tengah upaya Zionis Israel dan sekutunya untuk mengisolasi Hamas secara diplomatik dan menganggapnya sebagai “organisasi teroris” yang harus dilenyapkan, gerakan ini justru menunjukkan kemampuannya untuk memperbarui kepemimpinan dan mempertahankan kohesi internal.

Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid 

Analis politik Fayed Abu Shamala menekankan bahwa al-Hayya bukan sekadar “pembawa pesan” dalam tim negosiasi, melainkan bagian dari lingkaran pertama pengambil keputusan strategis. Ia memiliki hubungan luas dengan para pemimpin di luar negeri, pengetahuan mendalam tentang urusan Gaza, serta rekam jejak panjang dalam menyatukan keputusan di dalam gerakan.

Beberapa pesan strategis yang dikirim melalui pemilihan ini:

  1. Kepada Israel dan Amerika Serikat: Pembunuhan pemimpin tidak akan mengakhiri gerakan perlawanan. Justru melahirkan pemimpin baru yang lebih teguh dan lebih terhubung dengan akar perjuangan.
  2. Kepada Dunia Arab dan Regional: Taruhan pada disintegrasi Hamas terbukti keliru. Gerakan ini masih mampu mengatur ulang jajarannya di tahap paling sulit sekalipun.
  3. Kepada Masyarakat Internasional: Negosiasi dan solusi politik tidak bisa mengabaikan Hamas sebagai aktor utama di Gaza. Al-Hayya, dengan pengalamannya dalam berbagai putaran negosiasi, adalah mitra dialog yang memiliki otoritas dan legitimasi internal.

Keterlibatan dalam Negosiasi

Al-Hayya telah menjadi wajah Hamas dalam berbagai putaran negosiasi, terutama yang difasilitasi oleh Qatar, Mesir, dan Turki. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling teguh memegang posisi dan syarat-syarat gerakan, terutama terkait penghentian agresi, penarikan pasukan Israel dari Gaza, pertukaran tahanan and penolakan terhadap pelucutan senjata Gerakan perlawanan.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Abu Shamala mencatat bahwa al-Hayya rela membayar mahal harga pribadi akibat keteguhannya. Serangan Zionis Israel terhadap pertemuan para pemimpin Hamas di Doha pada September 2025 menewaskan putranya Hammam dan manajer kantornya, sebuah bukti bahwa Israel terus memburunya bahkan di luar Palestina.

Profil Singkat Khalil al-Hayya

Nama Lengkap: Khalil Ismail Ibrahim al-Hayya
Tempat/Tanggal Lahir: Kota Gaza, 5 November 1960
Status: Pemimpin Palestina, Kepala Biro Politik Hamas (mulai 2026)

Pendidikan:

Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel

  • Sarjana – Fakultas Dasar Agama, Universitas Islam Gaza (1983).
  • Magister – Ilmu Sunnah dan Hadits, Universitas Yordania (1989).
  • Doktor – Ilmu Sunnah dan Hadits, Universitas Al-Qur’an dan Ilmu Islam, Sudan (1997).

Karier Politik dan Organisasi:

  • Anggota Dewan Legislatif Palestina (2006, mewakili Kota Gaza).
  • Wakil Kepala Biro Politik Hamas (Agustus–Oktober 2024, menggantikan Syahid Saleh al-Arouri).
  • Kepala Tim Negosiasi Hamas dalam berbagai putaran perundingan.
  • Dipenjara oleh pendudukan Israel selama tiga tahun pada awal 1990-an.

Target Pembunuhan dan Korban Keluarga

Al-Hayya telah menjadi sasaran upaya pembunuhan Israel berulang kali. Sejumlah anggota keluarganya gugur dalam serangan Zionis:

  • 2007 – Rumah keluarganya di Gaza menjadi sasaran, menewaskan sejumlah anggota keluarga. Al-Hayya selamat karena tidak berada di lokasi.
  • 2014 – Rumah putranya Osama al-Hayya di lingkungan Shujaiya, Gaza Timur, diserang. Osama, istrinya Hala Saqr Abu Hin, dan sejumlah anak mereka gugur.
  • September 2025 – Upaya pembunuhan di Doha, Qatar. Putranya Hammam dan manajer kantornya, Jihad Labad, gugur.

Total anak dan anggota keluarga yang gugur akibat serangan Israel: Osama, Hamza, Hammam, dan Azzam, sebuah pengorbanan pribadi yang menjadikannya simbol keteguhan di tengah genosida.

Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat

Kepemimpinan yang Lahir dari Medan Perang

Terpilihnya Khalil al-Hayya sebagai Kepala Biro Politik Hamas bukanlah sekadar peristiwa internal. Di tengah genosida yang berlangsung, kepungan total, dan pemburuan internasional, proses pemilihan ini menegaskan bahwa Hamas tetap menjadi aktor politik dan militer yang tidak bisa diabaikan.

Al-Hayya mewakili generasi pemimpin yang lahir dari pengalaman lapangan, pengorbanan keluarga, dan keteguhan dalam negosiasi. Ia adalah simbol bahwa perlawanan Palestina tidak akan padam, bahkan ketika dibombardir dari udara, dicekik dari darat, dan dikepung dari laut.

Di masa depan, dunia akan melihat bagaimana Khalil al-Hayya akan membawa Gerakan perlawanan Hamas melalui salah satu babak paling kritis dalam sejarah perjuangan Palestina, sambil tetap memegang teguh prinsip-prinsip perlawanan dan hak-hak rakyat Palestina. []

Baca Juga: Jelang Musim Dingin, PBB Peringatkan Krisis Pengungsian Gaza

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda