Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mencintai Masjid Al-Aqsa, antara Keberkahan dan Panggilan Jiwa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 4 Mei 2026 - 18:38 WIB

Senin, 4 Mei 2026 - 18:38 WIB

64 Views ㅤ

Masjid Al-Aqsa (Foto: IST)

CINTA. Ia tumbuh bukan di ruang hampa. Ia lahir karena ada sesuatu yang istimewa pada yang dicintai, sebuah keutamaan, kelebihan, atau keindahan yang memikat hati.

Jika yang dicintai adalah seseorang, cinta bisa bersemi karena fisiknya yang menawan, hartanya yang melimpah, kedudukannya yang tinggi, atau karena pribadinya yang mulia. Jika yang dicintai adalah sesuatu, cinta hadir karena manfaatnya, keindahannya, atau keunikannya.

Semakin banyak keutamaan yang melekat, semakin besar pula rasa cinta yang menggelora.

Lalu, bagaimana jika yang kita cintai adalah Masjidil Aqsa? Sebuah tempat yang keutamaannya bukan sekadar cerita turun-temurun, tetapi langsung disampaikan oleh Allah Yang Maha Penyayang dan dipertegas oleh Rasul-Nya yang mencintai karena Allah.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Allah berfirman dalam kitab suci-Nya:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Isra [17]: 1).

Perhatikanlah. Dalam satu ayat, Allah menyebutkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa secara beriringan, sejajar dalam kedudukan, sama-sama diberkahi sekelilingnya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah pernyataan tegas bahwa keduanya sangat istimewa di hati kaum Muslimin.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Mengesampingkan salah satunya, berarti menyepelekan yang lain.

Keberkahan di sekitar Masjidil Aqsa tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam telah memberitakan kepada kita bahwa shalat di Masjidil Aqsa memiliki keutamaan yang luar biasa, lebih utama dibandingkan masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Para ulama menyebutkan pahala shalat di Aqsa mencapai 250 kali, 500 kali, bahkan 1.000 kali lebih baik daripada shalat di masjid lain. Perbedaan angka ini bukanlah pertentangan, melainkan tingkatan yang saling melengkapi. Semuanya menandakan satu kebenaran, betapa mulianya tempat ini di sisi Allah.

Bahkan untuk sekadar mengunjunginya, Islam memberikan perhatian istimewa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidaklah seseorang mengerahkan perjalanan (khusus untuk ibadah) kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsa.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Maka, berkunjung ke Masjidil Aqsa bukanlah sekadar perjalanan wisata. Ia adalah ziarah. Ia adalah perjalanan hati menuju tanah yang diberkahi. Ia adalah bentuk cinta yang diwujudkan dalam langkah kaki yang bersujud.

Cinta yang Tidak Pernah Pudar

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Di sanalah, di tanah yang penuh berkah itu, saudara-saudara kita, para pejuang Palestina, terus berdiri tegak. Mereka tidak menunggu perhatian kita. Mereka tidak bergantung pada simpati dunia. Mereka berjuang karena cinta. Cinta yang murni kepada Masjidil Aqsa, kepada tanah yang diwasiatkan oleh para nabi.

Putra-putra terbaik Palestina terus mengukir nama di barisan para syuhada. Mereka pergi dengan senyum, meninggalkan kita yang masih termangu-mangu dalam kenyamanan.

Maka jangan pernah bertanya, “Mengapa mereka begitu teguh?” Sebab cinta sejati tidak pernah meminta alasan. Ia hanya tahu cara mengorbankan segalanya.

Begitulah, Al-Aqsa bukan sekadar bangunan batu dan kubah. Ia adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman kita. Ia adalah komponen penting dari rasa kepedulian dan kecintaan seorang Muslim.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Jika kita tidak bisa berangkat ke sana dengan fisik, setidaknya berangkatlah dengan doa. Jika kita tidak bisa berjihad di sana, setidaknya jihadilah hati kita agar tidak pernah melupakan tanah yang diberkahi itu.

Karena suatu saat nanti, ketika kaki-kaki ini diizinkan melangkah ke pelataran Al-Aqsa, kita akan menangis. Bukan karena kita tidak pernah ke sana, tetapi karena kita terlalu lama membiarkan dia sendiri. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Dunia Islam
Dunia Islam
Timur Tengah
Timur Tengah
Dunia Islam