Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peran Humas Pesantren: Membangun Citra, Menguatkan Kepercayaan dan Membuka Jaringan Dunia

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 21 Juli 2026 - 16:58 WIB

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:58 WIB

34 Views ㅤ

Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. (Dok Al-Fatah)

DALAM dunia komunikasi modern, Humas (Hubungan Masyarakat) atau Public Relations (PR) bukan sekadar bagian yang bertugas menyampaikan informasi. Humas adalah sebuah strategi membangun hubungan, kepercayaan, dan persepsi positif antara sebuah lembaga dengan publiknya.

Begitu pula dalam lingkungan pesantren. Humas bukan hanya corong yang memberitakan kegiatan pesantren. Lebih luas dari itu, yakni menjadi pengelola hubungan strategis antara pesantren dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), mulai dari wali santri, santri, alumni, masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga jaringan internasional.

Hakikat Public Relations adalah membangun hubungan yang saling memahami dan saling menguntungkan (mutual understanding and mutual benefit). Artinya, Humas pesantren tidak hanya menyampaikan apa yang ingin dikatakan pesantren, tetapi juga mendengar, memahami, dan merespons harapan publik.

Dari Penyampai Informasi Menjadi Pengelola Kepercayaan

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Sebuah pesantren tidak hanya dinilai dari kurikulum, fasilitas, atau jumlah santrinya. Masyarakat juga menilai bagaimana pesantren berkomunikasi, bagaimana keterbukaannya, bagaimana hubungan dengan wali santri, dan bagaimana kontribusinya di tengah masyarakat.

Di sinilah Humas memiliki peran besar. Humas menjadi penjaga reputasi (reputation management) pesantren. Ia memastikan bahwa nilai-nilai luhur pesantren seperti keilmuan, akhlak, kedisiplinan, kemandirian, dan kepedulian sosial dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat.

Sebab, citra tidak hanya dibangun dari apa yang dilakukan sebuah lembaga, tetapi juga dari bagaimana publik memahami dan merasakan keberadaan lembaga tersebut.

Membangun Hubungan Harmonis dengan Wali Santri

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

Dalam konteks pesantren, wali santri adalah publik utama yang harus mendapatkan perhatian.

Humas harus mampu membangun komunikasi yang membuat wali santri merasa tenang menitipkan pendidikan anaknya, mendapatkan informasi yang jelas dan transparan, memahami setiap kebijakan pesantren, dan merasakan keterlibatan dalam perjalanan pendidikan anak.

Ketika pesantren membuat aturan disiplin, program baru, atau perubahan kebijakan, Humas memiliki tugas menjelaskan latar belakang, tujuan, dan manfaatnya. Sebab, komunikasi yang buruk dapat melahirkan prasangka, sedangkan komunikasi yang baik melahirkan dukungan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan teladan dalam membangun hubungan dengan manusia melalui komunikasi yang penuh hikmah.

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

Jadi, prinsip komunikasi yang baik adalah ruh utama dalam Public Relations.

Jembatan Pimpinan Pesantren dengan Dunia Luar

Salah satu fungsi utama Public Relations adalah menjadi penghubung antara organisasi dengan publik eksternal.

Dalam pesantren, Humas menjadi jembatan strategis antara pimpinan pesantren dengan pemerintah daerah, kementerian dan lembaga Pendidikan, tokoh masyarakat, organisasi sosial, perguruan tinggi, dan lembaga internasional.

Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal

Hubungan yang dibangun pun bukan sekadar seremonial, tetapi harus menghasilkan manfaat nyata. Melalui jaringan yang kuat, pesantren dapat membuka peluang: program beasiswa santri, kerja sama Pendidikan, pelatihan guru, pengembangan teknologi Pendidikan, pertukaran pelajar, dan kerja sama internasional.

Humas yang profesional mampu melihat setiap hubungan sebagai aset strategis bagi kemajuan pesantren.

Mengelola Media Pesantren

Di zaman digital, setiap lembaga membutuhkan kemampuan storytelling atau menceritakan dirinya kepada publik.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia

Jika pesantren tidak aktif mengelola informasi, maka orang lain yang akan membentuk persepsi tentang pesantren.

Karena itu, Humas harus menghidupkan berbagai media. Mulai dari Media Internal, seperti: buletin pesantren, majalah santri, dokumentasi kegiatandan informasi wali santri.

Humas juga perlu mengelola Media Digital, seperti: website resmi, YouTube, Podcast, Instagram, TikTok dan Facebook.

Namun, publikasi pesantren bukan sekadar mengejar banyaknya unggahan. Yang lebih penting adalah membangun narasi positif dan bermakna tentang kiprah pesantren.

Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang

Prestasi santri, keteladanan guru, pengabdian masyarakat, kegiatan keislaman, dan inovasi pendidikan harus menjadi cerita yang menginspirasi.

Membangun Citra Pesantren di Tingkat Internasional

Dalam perspektif Public Relations modern, sebuah lembaga tidak boleh hanya dikenal di lingkup lokal. Pesantren memiliki potensi menjadi bagian dari jaringan pendidikan Islam dunia.

Di sini, Humas dapat menjadi pintu internasionalisasi pesantren melalui: Website dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, Profil pesantren dalam bahasa internasional, Publikasi kegiatan global, Hubungan dengan universitas dan lembaga Islam dunia, Program kunjungan ulama dan akademisi internasional, dan Kerja sama pendidikan lintas negara.

Baca Juga: Meski Masih Kondisi Perang, Gaza Kembali Gelar Ujian Sekolah

Pesantren Indonesia memiliki kekayaan tradisi keilmuan yang khas. Tugas Humas adalah memperkenalkan wajah pesantren tersebut kepada dunia.

Bagian dari Dakwah dan Peradaban

Dalam Islam, membangun hubungan baik dengan manusia adalah bagian dari akhlak dan dakwah.

Public Relations dalam perspektif pesantren bukan hanya ilmu komunikasi, tetapi juga bagian dari nilai: Kejujuran (shidq), Amanah, Hikmah dalam berbicara, Menjaga kehormatan Lembaga dan Menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Baca Juga: BAZNAS dan Kemdiktisaintek Siapkan Beasiswa S2 bagi 200 Mahasiswa Palestina

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dikenal sebelum masa kenabian sebagai Al-Amin (yang terpercaya). Kepercayaan itulah yang menjadi modal utama keberhasilan dakwah beliau.

Begitu pula pesantren. Citra terbaik tidak dibangun hanya dengan slogan, tetapi melalui kepercayaan yang tumbuh dari hubungan yang baik.

Penutup: Humas adalah Wajah Pesantren di Mata Dunia

Pesantren yang besar membutuhkan Humas yang besar pula. Humas bukan sekadar tukang dokumentasi kegiatan, bukan hanya pembuat rilis berita, dan bukan hanya pengelola media sosial. Humas adalah arsitek hubungan, penjaga reputasi, pembangun kepercayaan, dan pembuka jaringan masa depan pesantren.

Baca Juga: Memakmurkan Masjid di Era Digital untuk Pembebasan Al-Aqsa

Dengan manajemen Public Relations yang profesional, pesantren tidak hanya dikenal sebagai tempat belajar agama, tetapi menjadi pusat peradaban yang mampu memberi pengaruh positif bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

Karena pesantren yang memiliki ilmu harus memiliki komunikasi. Pesantren yang memiliki cahaya harus mampu memancarkan cahayanya kepada dunia. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Delegasi Universitas Malikussaleh Raih Dua Penghargaan di Indonesian Youth Exchange Malaysia dan Singapura

Rekomendasi untuk Anda