Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjadikan Ilmu Sebagai Cahaya, Menata Ulang Makna Tarbiyah dalam Diri

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 14 Desember 2025 - 22:39 WIB

Ahad, 14 Desember 2025 - 22:39 WIB

12 Views ㅤ

Tarbiyah juga mengajarkan kita untuk sabar pada proses. Tidak semua perubahan terasa cepat, tidak semua doa langsung berbuah.(Foto: ig)

ADA ironi yang sunyi namun nyata: majelis taklim semakin ramai, kajian semakin padat, jadwal semakin penuh—namun hati justru terasa kering. Lisan fasih mengutip dalil, kepala sarat istilah ilmiah dan syar’i, tetapi jiwa kehilangan getarannya. Seolah ilmu hanya singgah di kepala, tak pernah turun menjadi cahaya yang menghidupkan dada. Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: apakah kita benar-benar sedang ditarbiyah, atau sekadar sibuk belajar?

Tarbiyah sejati bukan tentang seberapa sering kita duduk, melainkan seberapa dalam kita berubah. Bukan tentang banyaknya catatan, tapi tentang luruhnya kesombongan. Ilmu yang hidup akan melunakkan hati, membuat air mata mudah jatuh saat nama Allah disebut, dan menjadikan akhlak lebih halus dari sebelumnya. Jika yang terjadi justru sebaliknya—mudah menghakimi, cepat marah, keras pada sesama—maka ada yang salah pada arah tarbiyah kita.

Hati yang kering sering lahir dari ilmu yang terlepas dari tazkiyatun nafs. Kita mengejar pemahaman, namun lupa penyucian. Kita sibuk mengoreksi orang lain, namun lalai menundukkan ego sendiri. Padahal para ulama selalu mengingatkan: ilmu tanpa adab adalah petaka, dan adab tanpa keikhlasan hanyalah topeng. Tarbiyah yang benar seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin merasa paling benar.

Ada pula penyakit lain yang lebih halus: taklim menjadi rutinitas, bukan perjalanan. Datang, duduk, pulang—tanpa muhasabah, tanpa pergulatan batin, tanpa tekad untuk berubah. Hati pun kebal, seolah ayat dan nasihat hanya melintas di permukaan. Padahal tarbiyah sejati menuntut keberanian untuk gelisah, untuk terusik, untuk merasa belum selesai dengan diri sendiri.

Baca Juga: Kunjungi Mesir, MUI Bahas Peluang Beasiswa bagi Pelajar Indonesia

Jika tarbiyah berjalan benar, ia akan terasa menuntun, bukan memukul; menghidupkan, bukan menekan. Ia membangun kesadaran bahwa Allah sedang membentuk kita, bukan sekadar menguji hafalan kita. Maka tanda tarbiyah yang hidup adalah lahirnya kasih sayang, kesabaran, dan kejujuran—bahkan ketika tidak ada yang melihat. Hati yang basah oleh dzikir akan lebih sibuk memperbaiki diri daripada membongkar aib orang lain.

Karena itu, pertanyaannya bukan lagi “berapa kali kita ikut taklim?”, melainkan “apa yang berubah dalam diri kita?” Apakah shalat semakin khusyuk, amanah semakin terjaga, lisan semakin bersih, dan hubungan dengan sesama semakin lapang? Jika jawabannya masih samar, mungkin kita perlu menata ulang niat, memperdalam muraqabah, dan menghidupkan kembali ruh tarbiyah yang nyaris padam.

Rajin taklim adalah nikmat, tetapi hati yang hidup adalah amanah. Jangan sampai kita kenyang ilmu namun lapar hidayah. Mari kembali menjadikan tarbiyah sebagai jalan pembentukan jiwa, bukan sekadar aktivitas rutin. Agar setiap majelis tak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan cahaya—cahaya yang pelan-pelan menghidupkan hati, menenangkan langkah, dan mendekatkan kita kepada Allah dengan penuh kerendahan.

Sering kali hati kering bukan karena kurangnya ilmu, tetapi karena ilmu itu tidak pernah benar-benar kita biarkan menyentuh luka terdalam diri. Kita mendengar ayat tentang ikhlas, namun masih menyimpan haus pengakuan. Kita memahami sabar, tetapi masih menuntut dipahami. Tarbiyah sejati mengajak kita berani membuka lapisan-lapisan batin yang rapuh, mengakui kelemahan tanpa pembelaan, dan membiarkan Allah menyembuhkan kita dari dalam.

Baca Juga: Mengembalikan Jiwa yang Hilang dalam Pola Interaksi Keluarga Era Digital

Ada fase di mana seseorang rajin hadir, namun jiwanya absen. Tubuhnya duduk di majelis, tapi pikirannya sibuk menilai siapa yang paling benar, siapa yang paling salah. Padahal tarbiyah bukan panggung pembuktian diri, melainkan ruang perendahan jiwa. Semakin dalam tarbiyah bekerja, semakin sedikit dorongan untuk tampil, dan semakin besar kebutuhan untuk diam dan merenung.

Hati yang hidup akan mudah disentuh oleh kebenaran, meski datang dari orang yang sederhana. Sebaliknya, hati yang kering hanya mau tunduk pada kebenaran jika disampaikan oleh figur yang diakui. Di sinilah tarbiyah diuji: apakah kita mencari Allah, atau sekadar mencari pembenaran? Ilmu yang dibingkai ego hanya akan menambah jarak, bukan mendekatkan langkah.

Tarbiyah juga mengajarkan kita untuk sabar pada proses. Tidak semua perubahan terasa cepat, tidak semua doa langsung berbuah. Namun hati yang ditarbiyah akan tetap lembut, meski lelah; tetap berharap, meski jatuh. Ia tahu bahwa Allah lebih mencintai hamba yang terus kembali, daripada yang merasa telah sampai. Maka kegagalan bukan akhir, melainkan undangan untuk lebih bersandar.

Akhirnya, mari kita jujur pada diri sendiri: barangkali yang kita butuhkan bukan majelis yang lebih ramai, tetapi hati yang lebih siap menerima. Bukan suara yang lebih keras, tetapi keheningan yang lebih dalam untuk bermunajat. Jika tarbiyah kembali kita maknai sebagai jalan pulang kepada Allah, niscaya kekeringan itu akan diganti dengan ketenangan—tenang karena hati tahu, ia sedang dibentuk, bukan ditinggalkan.[]

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
MINA Edu
Artikel
Tausiyah
Hikmah
Artikel