ADA sebuah ironi yang menyedihkan dalam banyak organisasi Islam hari ini. Kita begitu bersemangat membahas visi besar, merancang program megah, dan mengibarkan panji-panji perjuangan ke segala penjuru. Namun ketika seseorang bertanya pelan, “Siapa yang akan melanjutkan semua ini sepuluh tahun lagi?” ruangan mendadak sunyi. Seolah pertanyaan itu tidak pernah diucapkan.
Kita ingin memetik buah, tetapi tidak pernah benar-benar menanam. Kita ingin panen raya, tetapi tanah kita biarkan tandus tanpa seorang pun yang sudi menyemai benih. Dan ketika musim kemarau datang, ketika pendiri wafat, ketika tokoh utama pergi, ketika semangat generasi pertama memudar seperti senja yang kehilangan warna, organisasi itu rubuh. Bukan karena musuh dari luar. Rubuh karena di dalam, tidak ada siapa-siapa.
Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah yang ditulis lebih dari enam abad silam, telah memperingatkan dengan kalimat yang terasa seperti nubuat. Beliau berkata bahwa suatu peradaban runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan karena ia kehilangan ashobiyyah, yakni ikatan batin dan regenerasi yang menghidupkannya dari dalam.
Organisasi Islam yang kehilangan proses kaderisasi sejatinya sedang kehilangan ikatan batinnya sendiri. Ia masih punya nama, masih punya kantor, masih punya logo di setiap spanduk. Tetapi jiwanya sudah pergi. Yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang menunggu satu hembusan angin untuk merobohkannya.
Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang
Dan di sinilah letak kesalahan paling fundamental yang kita warisi dari generasi ke generasi. Kaderisasi kita tidak dirancang. Ia berjalan secara kebetulan. Siapa yang kebetulan rajin datang, ia yang terbina. Siapa yang kebetulan dekat dengan senior, ia yang diperhatikan. Tidak ada peta jalan. Tidak ada tahapan yang jelas. Tidak ada kurikulum yang disusun dengan kesadaran penuh.
Peter Drucker, bapak manajemen modern, pernah berkata dengan nada yang menampar, bahwa cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya. Masa depan organisasi tidak bisa diserahkan pada kebetulan. Ia harus diciptakan, dirancang, dipetakan, dan dieksekusi dengan keyakinan bahwa setiap kader adalah investasi peradaban, bukan sekadar pengisi kursi rapat.
Coba tengok sejarah dengan mata yang jernih. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengumpulkan sahabat secara acak. Beliau membangun dar al-arqam, sebuah ruang kaderisasi yang terstruktur, intensif, dan penuh kesengajaan. Di sanalah Abu Bakar ditempa menjadi shiddiq. Di sanalah Umar diarahkan dari amarah menjadi keadilan. Di sanalah Mush’ab bin Umair, pemuda yang dulu hidup dalam sutra dan kemewahan, dicetak menjadi duta pertama Islam ke Madinah.
Hasan al-Banna membaca pola ini dengan tajam ketika beliau berpesan bahwa akan datang masa di mana umat membutuhkan kader yang rabbani, bukan sekadar pengikut yang emosional. Kader rabbani tidak lahir dari kerumunan. Ia lahir dari desain. Dari proses yang disengaja. Dari tangan-tangan murabbi yang tahu persis ke mana ia sedang membawa adik kadernya.
Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi
Jim Collins dalam karyanya Good to Great menyodorkan satu temuan yang seharusnya membuat kita semua terdiam. Organisasi yang bertahan melampaui zaman bukanlah organisasi yang memiliki satu pemimpin karismatik, melainkan organisasi yang memiliki sistem untuk terus melahirkan pemimpin baru. First who, then what, tulis Collins. Tentukan dulu siapa orangnya, baru bicara apa agendanya.
Betapa banyak organisasi Islam yang terbalik, begitu sibuk dengan apa hingga lupa menyiapkan siapa. Program berlari kencang, tetapi manusianya tertinggal jauh di belakang. Dan ketika program selesai, yang tersisa hanyalah kelelahan kolektif tanpa satu pun kader yang siap mengambil tongkat estafet.
Sahabat, izinkan saya berkata dengan jujur dan penuh cinta. Setiap kali kita membiarkan satu tahun berlalu tanpa desain kaderisasi yang jelas, kita sedang meminjam masa depan dari anak-anak yang belum lahir. Kita sedang berkata kepada mereka tanpa suara, maaf, kami terlalu sibuk dengan panggung hari ini hingga lupa menyiapkan kalian untuk esok. Dan itu bukan sekadar kelalaian organisatoris. Itu adalah pengkhianatan terhadap amanah.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang ilmu yang tidak diamalkan dan tidak diajarkan. Beliau menjawab dengan suara yang bergetar bahwa itu adalah harta yang ditimbun, dan Allah akan menghisabnya. Kader yang tidak kita bina adalah ilmu yang tidak kita sampaikan. Potensi yang kita kubur hidup-hidup. Amanah yang kita palingkan wajahnya.
Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah
Maka mulailah. Bukan besok. Bukan setelah rapat berikutnya. Hari ini. Duduklah dengan tenang. Ambillah selembar kertas kosong. Tuliskan satu pertanyaan sederhana yang akan mengubah segalanya, siapa yang akan menggantikan saya lima tahun lagi? Apa yang harus ia kuasai?
Siapa yang akan membimbingnya? Tahapan apa yang harus ia lalui? Desain itu tidak harus sempurna. Tetapi ia harus ada. Karena kaderisasi tanpa desain adalah seperti kapal tanpa kompas di tengah lautan luas. Ia mungkin bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar sampai ke mana pun.
Dan ketika Anda sudah mulai merancang, ketika Anda sudah mulai menuliskan nama-nama itu satu per satu dalam peta kaderisasi Anda, ketahuilah bahwa Anda sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih agung dari sekadar administrasi organisasi. Anda sedang meniru cara Allah membangun peradaban. Pelan. Terencana. Penuh kesabaran. Penuh cinta.
Allah tidak menurunkan Al-Qur’an sekaligus. Ia menurunkannya ayat demi ayat, dua puluh tiga tahun lamanya. Karena membangun manusia memang tidak bisa tergesa. Ia butuh desain. Ia butuh waktu. Ia butuh seseorang yang rela tidak melihat hasilnya hari ini, demi memastikan hasilnya masih berdiri tegak seratus tahun lagi.
Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah
Tanamlah. Dengan desain. Dengan niat. Dengan air mata yang tidak perlu dilihat siapa pun. Karena buah yang paling manis selalu berasal dari benih yang ditanam oleh tangan yang tidak pernah berharap dipuji. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan
















Mina Indonesia
Mina Arabic