Addis Ababa, MINA – Pemerintah Mesir mendesak penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza sebagai bagian dari implementasi fase kedua perjanjian gencatan senjata.
Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdel-Aty dan Perdana Menteri Palestina Mohammad Mustafa di sela-sela KTT Uni Afrika di Addis Ababa, ethipia, Sabtu (14/2).
KTT tersebut juga dihadiri Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dan membahas isu keamanan serta konflik regional. Palinfo melaporkan.
Mesir juga menekankan perlunya pembentukan pasukan stabilisasi internasional guna memastikan aliran bantuan kemanusiaan dan memantau penarikan Israel dari wilayah Gaza.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Abdel-Aty juga menyatakan dukungan terhadap Komite Nasional untuk Administrasi Gaza sebagai mekanisme transisi guna mengelola kebutuhan dasar warga selama masa peralihan. Namun, komite tersebut belum dapat beroperasi di Gaza karena memerlukan koordinasi keamanan melalui perbatasan yang dikendalikan Israel.
Perdana Menteri Palestina memuji upaya Mesir dalam memperkuat gencatan senjata dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan.
Kedua pihak menegaskan pentingnya mencegah pemisahan antara Jalur Gaza dan Tepi Barat serta menjaga kesatuan geografis dan administratif Palestina.
Meski perjanjian gencatan senjata diumumkan, laporan menyebut ratusan pelanggaran masih terjadi, termasuk penembakan yang menyebabkan korban jiwa.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Bagi warga Gaza, implementasi penuh perjanjian bukan sekadar proses diplomatik, melainkan soal bertahan hidup. Setiap hari tanpa bantuan berarti kelaparan, tanpa keamanan berarti ketakutan, dan tanpa keadilan berarti luka yang terus terbuka di hadapan dunia. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
















Mina Indonesia
Mina Arabic