JAUH sebelum Gaza dikenal karena peperangan modern, kota di Palestina ini telah melahirkan banyak ulama besar yang berperan penting dalam membangun tradisi keilmuan Islam. Salah satu nama penting itu adalah Najm al-Din Muhammad ibn Muhammad al-Ghazzi, seorang ulama Palestina yang dikenal sebagai penulis ensiklopedia Islam terbesar pada abad ke-16.
Sosok Najmuddin al-Ghazi menjadi bukti bahwa Palestina bukan hanya tanah perjuangan, tetapi juga wilayah yang sejak berabad-abad menjadi pusat lahirnya para cendekiawan Muslim berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam dunia.
Najmuddin al-Ghazi memiliki nama lengkap Najm al-Din Muhammad bin Muhammad al-Ghazzi. Ia lahir pada tahun 977 Hijriah atau sekitar 1570 Masehi di kota Gaza, Palestina, dari keluarga yang dikenal memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat.
Julukan al-Ghazzi merujuk pada asal-usul keluarganya yang berasal dari Gaza. Sejak usia muda, ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan pendidikan agama, sehingga membentuk karakter intelektualnya sejak awal.
Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits
Keberadaan ulama seperti Najmuddin al-Ghazi menunjukkan bahwa Gaza sejak masa lalu bukan sekadar wilayah geografis, tetapi juga pusat lahirnya ilmuwan dan ulama Muslim yang memberi pengaruh besar bagi dunia Islam.
Dalam perjalanan intelektualnya, Najmuddin al-Ghazi kemudian berpindah ke Damascus, yang pada masa itu berada di bawah kekuasaan Ottoman Empire dan menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam terbesar.
Di Damaskus, ia mempelajari berbagai disiplin ilmu seperti fikih, hadis, sejarah Islam, sastra Arab, hingga ilmu tarajim atau ilmu biografi tokoh-tokoh Muslim. Lingkungan ilmiah di kota tersebut memperkuat reputasinya sebagai seorang ulama sekaligus sejarawan Muslim yang memiliki perhatian besar terhadap dokumentasi sejarah Islam.
Perjalanan keilmuan ini kelak menjadi fondasi utama lahirnya karya besar yang membuat namanya dikenal dalam sejarah dunia Islam.
Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa
Al-Kawakib al-Sa’irah, Ensiklopedia Islam Monumental
Nama Najmuddin al-Ghazi dikenang terutama melalui karya monumentalnya yang berjudul Al-Kawakib al-Sa’irah bi A’yan al-Mi’ah al-‘Asyirah.
Kitab ini merupakan ensiklopedia biografi Islam yang mendokumentasikan lebih dari 1.500 tokoh paling berpengaruh pada abad ke-10 Hijriah, atau sekitar abad ke-16 Masehi.
Di dalamnya, al-Ghazi menuliskan biografi para ulama, ahli hadis, fuqaha, sultan, hakim, penyair, ilmuwan, tokoh sufi, hingga para pemimpin politik dari berbagai wilayah dunia Islam.
Baca Juga: Abu Dzar al-Ghifari Sahabat Nabi yang Memilih Hidup Sederhana
Kitab tersebut diterbitkan kembali oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyyah di Beirut dan hingga hari ini masih menjadi referensi penting bagi peneliti sejarah Islam klasik.
Banyak akademisi menyebut karya ini sebagai salah satu ensiklopedia Islam paling lengkap pada era Ottoman karena memotret jaringan ulama dan perkembangan ilmu pengetahuan Islam pada masanya.
Sebagai seorang sejarawan Muslim, kontribusi Najmuddin al-Ghazi tidak hanya terletak pada penulisan nama-nama tokoh. Lebih dari itu, ia berhasil mendokumentasikan bagaimana ilmu pengetahuan berkembang melalui hubungan antara guru dan murid di dunia Islam.
Dalam tradisi Islam klasik, penulisan biografi tokoh memiliki fungsi penting untuk menjaga sanad keilmuan dan merekam perjalanan intelektual generasi sebelumnya.
Baca Juga: Salman al-Farisi: Sang Pencari Kebenaran dari Persia
Melalui karya-karyanya, Najmuddin al-Ghazi membantu generasi Muslim setelahnya memahami bagaimana peradaban Islam dibangun melalui pendidikan, tradisi ilmu, dan jaringan ulama lintas wilayah.
Karya-Karya Lain Najmuddin al-Ghazi
Selain menulis Al-Kawakib al-Sa’irah, Najmuddin al-Ghazi juga menghasilkan sejumlah karya lain yang menunjukkan keluasan ilmunya.
Di antaranya adalah kitab Lutf al-Samar wa Qatf al-Thamar, yang berisi dokumentasi tokoh-tokoh setelah abad ke-10 Hijriah. Ia juga menulis karya-karya tentang sastra Arab dan sejumlah kajian keagamaan lainnya.
Baca Juga: Miahan Khan: Serdadu India yang Memilih Indonesia Setelah Mendengar Takbir
Produktivitasnya sebagai ulama penulis menunjukkan bahwa tradisi intelektual Palestina pada masa itu berkembang sangat maju dan aktif melahirkan karya-karya penting.
Setelah mengabdikan hidupnya dalam dunia ilmu pengetahuan, Najmuddin al-Ghazi wafat pada tahun 1061 Hijriah atau sekitar 1651 Masehi di Damaskus, Suriah.
Meski wafat jauh dari tanah kelahirannya di Gaza, warisan intelektualnya tetap hidup hingga hari ini. Karya-karyanya terus dipelajari di berbagai perguruan tinggi Islam dan menjadi sumber penting dalam studi sejarah Islam klasik.
Namanya tetap dikenang sebagai salah satu ulama Palestina yang berhasil meninggalkan jejak besar dalam dunia keilmuan Islam.
Baca Juga: Mush’ab bin Umair, Duta Islam Pertama Pembuka Jalan ke Madinah
Palestina memiliki sejarah panjang sebagai pusat lahirnya ulama, ilmuwan, dan intelektual Muslim yang turut membentuk peradaban Islam global. Dari tanah Gaza lahir sosok-sosok besar yang karyanya terus hidup melampaui batas ruang dan zaman.
Najmuddin al-Ghazi adalah salah satu bukti nyata bahwa Palestina sejak dahulu merupakan pusat ilmu pengetahuan Islam yang melahirkan cahaya peradaban bagi dunia.
Di tengah berbagai upaya mengaburkan sejarah Palestina, mengenang tokoh seperti Najmuddin al-Ghazi menjadi cara penting untuk mengingat bahwa Gaza pernah dan akan selalu menjadi bagian penting dari sejarah intelektual umat Islam. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hudzaifah bin Yaman: Pemegang Rahasia Nabi dan Sahabat yang Mengetahui Jejak Kemunafikan
















Mina Indonesia
Mina Arabic