Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang Tua Peduli Akhir Zaman: Rumah Ramai, Tapi Hidayah Sepi

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Senin, 12 Januari 2026 - 18:18 WIB

Senin, 12 Januari 2026 - 18:18 WIB

31 Views ㅤ

Rumah yang bercahaya bukan rumah tanpa masalah. Bukan rumah yang selalu tenang. Tetapi rumah yang ketika ada masalah, Allah tetap hadir dalam solusi.(Foto: ig)

RUMAH kita hari ini terasa ramai. Ada suara televisi, notifikasi ponsel, obrolan di grup keluarga, aktivitas anak yang padat dari pagi hingga malam. Namun di balik keramaian itu, ada satu hal yang semakin jarang terdengar: suara hidayah. Tilawah Al-Qur’an makin sunyi, doa bersama kian langka, nasihat iman terasa asing. Rumah ramai oleh manusia, tetapi sepi dari petunjuk Allah.

Inilah potret banyak keluarga di akhir zaman. Secara kasat mata, orang tua merasa telah menjalankan peran: bekerja keras, menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan materi, menyediakan fasilitas terbaik. Namun tanpa disadari, yang paling esensial justru tercecer—penjagaan iman dan arah hidup anak-anak.

Akhir zaman bukan sekadar istilah teologis, tetapi realitas sosial. Fitnah datang dari segala arah, masuk ke rumah melalui layar kecil di genggaman. Anak-anak hidup di era yang lebih berbahaya dari masa orang tuanya. Informasi mengalir tanpa filter, nilai baik dan buruk bercampur, yang salah tampak wajar, yang benar sering terasa asing. Di sinilah peran orang tua seharusnya semakin kuat, bukan melemah.

Sayangnya, banyak orang tua terjebak pada ilusi kesibukan. Merasa cukup karena rumah selalu ramai, padahal keramaian tidak sama dengan keberkahan. Rumah bisa penuh tawa, tetapi kosong makna. Penuh aktivitas, tetapi kehilangan arah. Penuh fasilitas, tetapi miskin nilai. Hidayah tidak datang otomatis hanya karena kita tinggal bersama dalam satu atap.

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

Hidayah membutuhkan suasana. Ia tumbuh dari keteladanan, dari kalimat yang lembut namun konsisten, dari doa yang tidak pernah putus, dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Jika orang tua jarang shalat tepat waktu, sulit berharap anak mencintai shalat. Jika Al-Qur’an hanya menjadi pajangan, jangan heran bila anak asing dengan ayat-ayatnya. Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang hanya mereka dengar.

Di akhir zaman, tantangan orang tua bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal arah hidup. Banyak orang tua berhasil secara dunia, namun gagal menjadi kompas iman bagi anak-anaknya. Padahal, kelak yang akan ditanya bukan seberapa mahal sekolah anak, tetapi ke mana arah mereka berjalan. Apakah rumah menjadi tempat anak pulang kepada Allah, atau sekadar tempat singgah yang sunyi dari nilai-nilai Ilahi.

Ironisnya, sebagian orang tua baru tersentak ketika semuanya terlambat. Ketika anak mulai jauh, keras hati, sulit dinasihati, dan asing dengan agama. Padahal jarak itu tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dari hari-hari tanpa doa bersama, dari malam-malam tanpa nasihat, dari kebiasaan membiarkan tanpa membimbing. Rumah ramai, tetapi hubungan ruhani kering.

Peduli akhir zaman berarti sadar bahwa kondisi hari ini tidak normal. Zaman ini membutuhkan upaya ekstra untuk menjaga iman. Tidak cukup menyerahkan semuanya kepada sekolah, pesantren, atau lingkungan. Orang tua adalah madrasah pertama dan utama. Jika madrasah ini lalai, maka jangan berharap hasil yang baik di luar.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Orang tua yang peduli akhir zaman akan mulai dari hal sederhana: menghadirkan Allah dalam rumah. Shalat berjamaah meski singkat, tilawah walau hanya beberapa ayat, doa bersama sebelum tidur, obrolan ringan yang mengaitkan peristiwa sehari-hari dengan nilai iman. Tidak harus sempurna, yang penting konsisten dan tulus.

Mereka juga sadar bahwa mendidik bukan hanya menyuruh, tetapi menemani. Bukan hanya melarang, tetapi menjelaskan. Bukan hanya mengkritik, tetapi mendoakan. Anak-anak di akhir zaman tidak kekurangan informasi, mereka kekurangan keteladanan. Mereka tidak butuh ceramah panjang, tetapi figur yang nyata.

Judul ini bukan sekadar kritik, melainkan panggilan. Panggilan agar orang tua berhenti terlena oleh keramaian semu. Agar tidak tertipu oleh indikator keberhasilan yang dangkal. Agar berani bertanya jujur pada diri sendiri: apakah rumah ini hanya ramai suara, atau juga ramai cahaya?

Rumah yang bercahaya bukan rumah tanpa masalah. Bukan rumah yang selalu tenang. Tetapi rumah yang ketika ada masalah, Allah tetap hadir dalam solusi. Rumah yang ketika lelah, doa menjadi sandaran. Rumah yang ketika anak jatuh, iman menjadi pegangan.

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

Akhir zaman menuntut kesadaran baru. Orang tua tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi dituntut untuk peduli. Peduli pada iman anak sebelum prestasinya. Peduli pada akhlaknya sebelum pencapaiannya. Peduli pada arah hidupnya sebelum kenyamanannya.

Jika orang tua peduli, hidayah akan menemukan jalannya. Jika orang tua abai, rumah akan tetap ramai—namun kosong makna. Dan itulah kerugian yang sering tidak disadari hingga waktu tak bisa diputar kembali.

Maka, sebelum rumah kita benar-benar sepi dari hidayah, mari mulai dari diri sendiri. Hadirkan Allah kembali di ruang-ruang keluarga. Karena di akhir zaman, rumah yang bercahaya iman adalah benteng terakhir umat.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Rekomendasi untuk Anda

MINA Edu
Artikel
Artikel