Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Parlemen Suriah Bersidang untuk Pertama Kalinya Pasca-Assad

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 13 Juli 2026 - 03:36 WIB

Senin, 13 Juli 2026 - 03:36 WIB

33 Views ㅤ

Parlemen Suriah. (Al Jazeera)

Damaskus, MINA – Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa meminta para anggota parlemen untuk mengutamakan “kepentingan nasional di atas segalanya” saat parlemen transisi yang baru ditunjuk menggelar sidang perdana pasca-pemerintahan Assad, pada Ahad (12/7).

Lebih dari 18 bulan setelah penguasa otoriter lama Bashar al-Assad lengser, para anggota parlemen mengambil sumpah konstitusional di Damaskus. Laporan Al Jazeera.

Al-Sharaa menekankan pentingnya lembaga ini sebagai model tanggung jawab dan kompetensi.

“Saya mendesak Anda untuk menjadikan majelis ini sebagai model tanggung jawab dan kompetensi, serta membantu menumbuhkan budaya dialog, supremasi hukum, dan penghormatan terhadap institusi,” ujar Ahmed al-Sharaa.

Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya

Parlemen yang disebut Majelis Rakyat ini akan bertugas menyusun konstitusi baru dan meletakkan fondasi demokrasi setelah puluhan tahun kekuasaan represif di bawah keluarga al-Assad yang berakhir dengan perang saudara selama 14 tahun, menewaskan lebih dari setengah juta jiwa.

Prioritas Ekonomi, Layanan Publik, dan Investasi

Al-Sharaa menekankan bahwa meningkatkan ekonomi, memperkuat layanan publik, dan menarik investasi internasional adalah prioritas utama bagi parlemen.

Suriah saat ini berada dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan setelah bertahun-tahun konflik dan isolasi politik.

Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa

Majelis ini memiliki 210 kursi. Dua pertiga anggotanya dipilih tahun lalu oleh dewan pemilihan regional, sementara al-Sharaa menunjuk 70 anggota sisanya pada awal bulan ini.

Para pejabat mengatakan pemilihan nasional belum memungkinkan karena tantangan logistik kompleks akibat konflik bertahun-tahun, termasuk catatan populasi yang tidak akurat. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik

Rekomendasi untuk Anda

Kolom
Dunia Islam
Dunia Islam
Internasional
Amerika