Perang Ahzab, Konspirasi Menghancurkan Ummat Islam, Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur

Konspirasi orang Kafir terhadap kaum Muslimin telah berlangsung sejak lama, bahkan sejak permulaan Islam.

Berikut ini adalah beberapa contoh konspirasi orang-orang Kafir terhadap ummat Islam dari masa ke masa:

Peristiwa Perang Ahzab

Perang Ahzab adalah salah satu perang yang paling dahsyat dialami oleh ummat Islam. Kedahsyatan perang itu digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

 إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا)١٠ (هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا / الاحزاب (١٠ــــ١١ )

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat”. (QS. Al-Ahzab [33]: 10-11)

Umi Salamah, salah seorang istri Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa salam mengungkapkan kedahsyatan perang Ahzab sebagai berikut: “Aku telah menyaksikan di samping Rasulullah beberapa peperangan yang hebat dan ngeri seperti perang Muraisyi, Khaibar, dan akupun menyaksikan pertempuran dengan musuh di Khudzaibiyah, dan saya pun juga ikut dalam pembebasan kota Mekkah dan perang Hunain. Tidak ada dari semua peperangan yang saya ikuti lebih membuat Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam lelah dan kami menjadi takut melebihi peperangan Khandaq (Ahzab).

Dalam perang Ahzab tersebut, kaum Muslimin benar-benar terdesak dan terkepung pada waktu itu. Sedangkan Bani Khuraidzah (Yahudi) tidak bisa lagi dipercaya karena sudah membelot kepada pihak musuh. Saat itu, sampai-sampai Kota Madinah dijaga siang malam sehingga terdengan suara takbir dari kaum Muslimin untuk menghilangkan rasa takut mereka.

Satu-satunya yang melepaskan kami dari rasa takut adalah karena musuh yang mengepung Madinah diusir sendiri oleh Allah dari tempat mereka mengepung kaum Muslimin, sehingga mereka pulang dengan sangat kesal dan sakit hati karena maksud mereka menghancurkan Kaum Muslimin tidak tercapai (gagal).

Perang Ahzab yang dinamakan juga perang Khandaq menurut mayoritas ulama shirah, terjadi pada bulan Syawal tahun kelima Hijriyah.  Perang ini terjadi karena provokasi Kaum Yahudi Bani Nadhir terhadap kabilah-kabilah Arab agar memerangi kaum Muslimin.

Demi mewujudkan keinginan mereka untuk memerangi ummat Islam, mereka membentuk tim delegasi yang terdiri atas: Salam bin Abil Haqiq, Huyay bin Akhtab, Kinawah bin Rabi bin Abi Haqiq, Handzah bin Qais dan Abu Ammar.

Delegasi kaum Yahudi ini berhasil menghasut kaum Musyrikin Mekkah, Bani Ghathafar, Bani Fizarah, Bani Murrah dan kabilah-kabilah lain di sekitar Jazirah untuk menyerang Madinah. Delegasi Yahudi itu dapat kembali ke Madinah dengan membawa 10 ribu pasukan, empat ribu tentara dari Musyrikin Mekkah dan enam ribu pasukan dari suku-suku yang berhasil mereka pengaruhi. Jumlah pasukan yang sangat besar itu terkonsentrasi di sekitaran kota Madinah.

Setelah mengetahui informasi-informasi tentang pasukan musuh, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam bermusyawarah dengan para sahabat tetang bagaimana cara menghadapi bahaya konspirasi Ahzab-Yahudi tersebut. Salman Al-Farisi mengutarakan pendapatnya, yaitu agar kaum Muslimin membuat Khandaq (parit besar) guna menghadang pasukan Ahzab.

Mendengar usulan tersebut, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam menerimanya dengan penuh ketakjuban karena strategi membuat parit tersebut belum dikenal di kalangan bangsa Arab.

Maka Nabi Shallallahu alaihi wa salam segera memerintahkan para sahabat menggali parit dengan kedalaman 3,234 meter. Menurut Dr. Akram Dhiya Al-Umari, panjang parit mencapai 5 ribu hasta, lebar 9 hasta dan dalamnya 9-10 hasta. Setiap sepuluh sahabat mendapat jatah menggali parit sepanjang 40 hasta.

Parit tersebut berhasil diselesaikan selama 9-10 hari, bahkan menurut As-Samhuddy hanya memakan waktu selama enam hari dalam kondisi cuaca dingin yang sangat menggigil di Madinah. Betapa beratnya para sahabat yang menggali parit sepanjang kurang lebih 5 km itu karena menurut Imam Al-Bukhari di samping cuaca yang sangat dingin, kaum Muslimin saat itu juga berada dalam kondisi kekurangan bahan makanan sehingga dilanda kelaparan.

Untuk mengurangi rasa lapar, banyak para sahabat yang mengganjal perutnya dengan batu, bahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam mengganjal perutnya dengan dua buah batu. Dalam usaha penggalian parit tersebut, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam secara langsung ikut serta menggali bebatuan dan tanah bersama para sahabat.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Barra Radhiyallahu anhu, ia berkata:” Pada waktu perang Ahzab, saya melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam menggali parit dan mengusung tanah galian sampai-sampai saya tidak melihat dada beliau yang berbulu lebat karena tebalnya tanah yang melumurinya.

Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu bahwa ia mengundang Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam untuk makan, tetapi Rasulullah malah mengajak para sahabat untuk makan bersama beliau, padalah makanan yang tersedia sangat terbatas. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam memotong-motong makanan tersebut dan memerintahkan kepada seluruh sahabat untuk memakannya sampai kenyang sedangkan makanan itu masih tetap banyak. Beliau Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam lantas bersabda:” Makanlah ini dan bagikanlah kepada orang banyak karena sekarang ini sedang musim paceklik”.

Persiapan perang yang berat ini dilakukan secara baik, tanpa mengenal lelah dan itu dilakukan di bulan Ramadhan. Sehingga ketika pasukan musuh datang di Bulan Syawal, parit yang digunakan untuk melindungi kota Madinah telah selesai.

Melihat hal itu (parit), pasukan musuh terkejut karena mereka tidak membayangkan dan mereka belum pernah menemukan strategi seperti itu dalam berbagai peperangan yang mereka alami di Jazirah Arab.

Dengan perasaan masghul, mereka hanya bisa mengambil posisi dan berkemah di sekitar parit mengepung kota Madinah. Di tengah-tengah pengepungan itu, pasukan berkuda musuh, dalam jumlah yang sangat besar, terus menerus berputar-putar di sekitar parit dan secara sporadis mereka berusaha menyerang secara mendadak dengan mencoba melintasi parit yang sempit. Namun usaha mereka berhasil dicegah oleh pasukan Muslimin.

Dalam serangan sporadis itu, telah jatuh korban dari kedua belah pihak. Dari kaum Muslimin korbannya antara lain; Thufail bin An-Nu’man menemui syahid, ternunuh oleh Washi- pembunuh Hamzah (paman Rasulullah)- melalui lemparan tombak yang melintasi parit. Sedangkan kaum Musyrikin yang terbunuh adalah Amr bi Wudd yang terkenal di Jazirah Arab sebagai orang yang memiliki kekuatan seperti seribu orang. Ia dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib ketika pasukan Musyrikin merasa sangat sulit menembus pertahanan parit yang dibuat oleh Kaum Muslimin. Maka mereka merubah strategi dengan mengepung secara ketat Kota Madinah selama hampir satu bulan.

Pada saat itu, ummat Islam merasakan penderitaan yang sangat dahsyat selama pengepungan, apalagi secara sepihak, Bani Quraidzah membatalkan perjanjian dan berkhianat dengan bergabung kepada pihak musuh dengan ikut menyerang ummat Islam dari belakang. Kondisi tersebut digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا)١٠ (هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا / الاحزاب (١٠ــــ١١ )

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat”. (QS. Al-Ahzab [33]: 10-11)

Menghadapi situasi yang sangat gawat itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam tetap tenang dan yakin akan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketenangan beliau dalam menghadapi situasi yang gawat itu dipuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh”.  (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Selama masa pengepungan pasukan Ahzab itu, beliau Shallallahu alaihi wa salam tidak henti-hentinya mendirikan shalat, berdoa siang dan malam, merendahkan diri dan berharap hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau memberi teladan dan ingin menegaskan kepada para sahabatnya dan ummat Islam di masa yang akan datang bahwa pasukan Ahzab tidaklah dapat dikalahkan dengan pertempuran dari ummat Islam, kendatipun mereka telah banyak berkorban, tidak pula karena kelihaian dan kehebatan strategi, tetapi mereka semua dikalahkan hanya karena pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Di antara doa Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam yang diucapkan adalah:

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

“Ya Allah, yang menurunkan Kitab, yang cepat perhitungannya, hancurkanlah pasukan bersekutu. Ya Allah, hancurkanlah mereka dan porak–porandakanlah mereka.”  (HR Al-Bukhari)

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian mengabulkan doa Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam dengan mengirimkan angin dingin lagi kencang, menanamkan rasa ketakutan dalam hati pasukan Musyrik serta mengerahkan tentara-tentara (malaikat) dari sisi-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ahzab [33]: 9)

Al-Qurtubi (w.671 H) berkata: “angin topan itu merupakan mukjizat bagi Nabi Shallallahu alaihi wa salam. Pasalnya, Nabi Shallallahu alaihi wa salam dan kaum Muslimin saat itu sangat dekat dengan mereka (pasukan Musyrikin). Tidak ada sesuatu yang memisahkan mereka selain lebarnya parit. Meski begitu, kaum Muslimin selamat dari angin topan tersebut dan tidak ada berita di tengah-tengah kaum Muslimin tentang adanya angin itu.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan malaikat kepada Kaum Musyrikin, sehingga pasak-pasak perkemahan mereka tercerabut, tali-tali tendanya putus, api menjadi padam, periuk-periuk mereka terbalik, kuda-kuda mereka berputar-putar tak terkendali, sebagiannya pada sebagian yang lain serta dikirim rasa takut kepada mereka.

Mengahadapi kondisi seperti ini, salah seorang tokoh kaum Musyrikin, Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi berkata: “ Sesungguhnya Muhammad telah memakai ilmu sihirnya untuk menghantam kalian, maka selamatkanlah diri kalian masing-masing“.

Angin topan yang dikirim Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar telah memporak-perandakan musuh dan berhasil melumpuhkan mereka. Melihat situasi tersebut, akhirnya Abu Sufyan (komandan tertinggi pasukan Ahzab) berkata: “Wahai kaum Quraisy, demi Allah kalian tidak mungkin lagi dapat terus berada di tempat ini. Banyak ternak kita yang mati. Bani Quraidzah telah mencederai janji dan kita mendengar berita yang tidak mengenakkan tentang sikap mereka. Kalian tahu, kita sekarang sedang menghadapi angin topan yang hebat. Karena itu, pulanglah kalian dan akupun akan segera pulang juga”.

Pada keesokan harinya, dengan penuh rasa kecewa Pasukan Musyrikin kembali meninggalkan medan perang dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam bersama para sahabat dengan penuh rasa syukur kembali ke Madinah.

Bersambung*

(A/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)