ADA pemandangan yang kini terasa biasa, tapi sesungguhnya mengiris hati: seorang anak duduk berjam-jam menatap layar, sementara ayah ibunya berada di dekatnya—namun jauh. Suara notifikasi lebih didengar daripada suara nasihat. Cahaya layar lebih menarik daripada cahaya petunjuk. Kita hidup di zaman ketika jari lebih aktif daripada hati, dan perhatian lebih mudah dicuri oleh dunia maya daripada oleh kebenaran yang nyata.
Dulu, anak-anak berlari mendengar panggilan orang tua. Kini, orang tua harus mengulang panggilan berkali-kali, sementara anak tetap tenggelam dalam dunia digitalnya. Bukan karena mereka tidak sayang, tapi karena kita—para orang tua dan pendidik—telah kalah dalam merebut hati mereka. Kita memberi gadget sejak dini, tapi terlambat memberi makna. Kita ajarkan mereka teknologi, tapi lalai menanamkan takwa.
Allah ﷻ telah mengingatkan dengan tegas,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Ayat ini bukan sekadar seruan, tapi peringatan keras. Mendidik anak bukan hanya tentang dunia—tentang prestasi, karier, atau kecerdasan—tetapi tentang keselamatan mereka di akhirat. Jika hari ini kita lalai, maka esok kita akan ditanya. Jika hari ini kita membiarkan mereka tersesat dalam kelalaian, maka di hadapan Allah kita tak bisa beralasan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Anak bukan sekadar amanah—mereka adalah ujian. Dan betapa banyak yang gagal dalam ujian ini bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak peduli. Kita sibuk bekerja, sibuk dengan urusan dunia, bahkan sibuk dengan gadget kita sendiri. Ironisnya, kita melarang anak dari sesuatu yang kita sendiri tidak bisa lepas darinya.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Seorang ulama salaf berkata, “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu.” Namun hari ini, kita bahkan tidak benar-benar hadir di zaman mereka. Kita menyerahkan pendidikan mereka kepada layar. Kita gantikan dongeng sebelum tidur dengan video tanpa arah. Kita tukar pelukan hangat dengan koneksi Wi-Fi yang dingin.
Imam Ibnul Qayyim rh. Berkata, “Barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal yang bermanfaat baginya, dan membiarkannya tanpa arahan, maka sungguh ia telah berbuat kejahatan yang besar terhadap anaknya.”
Kejahatan yang sunyi. Tidak terlihat. Tidak terdengar. Tapi dampaknya mengerikan. Anak tumbuh tanpa arah, tanpa adab, tanpa iman yang kokoh. Mereka cerdas secara teknologi, tapi rapuh secara ruhani. Mereka tahu banyak hal tentang dunia, tapi asing terhadap Rabb mereka.
Bayangkan suatu hari di akhirat…
Seorang anak berdiri di hadapan Allah, lalu berkata, “Ya Rabb, orang tuaku tidak pernah mengajarkanku shalat dengan benar. Mereka sibuk dengan dunia mereka. Mereka memberiku segalanya, kecuali petunjuk menuju-Mu.”
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Apa yang akan kita jawab?
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Tidaklah setiap anak dilahirkan kecuali di atas fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fitrah itu suci. Tapi siapa yang menjaganya? Siapa yang merawatnya? Jika bukan kita, maka siapa lagi? Jika kita sibuk menyerahkan anak pada dunia tanpa membimbingnya kepada akhirat, maka jangan heran jika suatu hari kita kehilangan mereka—bukan secara fisik, tapi secara hati.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Gadget bukan musuh. Teknologi bukan kesalahan. Yang salah adalah ketika ia mengambil alih peran kita sebagai pendidik. Yang salah adalah ketika kita lebih percaya algoritma daripada Al-Qur’an. Ketika kita lebih khawatir anak ketinggalan tren daripada ketinggalan shalat.
Wahai para orang tua…
Wahai para pendidik…
Takutlah. Bukan kepada zaman, tapi kepada Allah. Takutlah pada hari ketika semua amanah diminta pertanggungjawaban. Hari ketika tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi kesempatan kedua.
Mulailah kembali. Duduklah bersama anak-anakmu. Dengarkan mereka. Ajak mereka mengenal Allah. Bacakan Al-Qur’an, walau satu ayat. Ajak mereka shalat, walau dengan pelan. Jadilah teladan sebelum menjadi penuntut.
Karena sesungguhnya…
Anak-anak tidak butuh orang tua yang sempurna. Mereka butuh orang tua yang hadir. Yang membimbing, bukan hanya memberi. Yang menuntun, bukan hanya menonton. Dan ingatlah, nasihat yang tulus, meski pelan, akan menembus hati—lebih kuat daripada cahaya layar yang memikat mata.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Semoga Allah menjaga kita, anak-anak kita, dan menjadikan mereka penyejuk mata di dunia serta penyelamat di akhirat. Aamiin.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
















Mina Indonesia
Mina Arabic