Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat Rezeki Seret, Cinta Ikut Diuji

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Selasa, 9 Desember 2025 - 18:38 WIB

Selasa, 9 Desember 2025 - 18:38 WIB

46 Views ㅤ

Ilustrasi: suami istri terkejut melihat tagihan utang yang besar. (Gambar: Dreamina)

REZEKI yang sempit sering terasa seperti badai yang menguji setiap sudut rumah tangga: anggaran menipis, rencana tertunda, dan kecemasan yang mudah memantik perselisihan. Namun ujian ekonomi itu bukan hanya soal materi — ia menguji kualitas cinta, komunikasi, dan keteguhan hati pasangan. Di sinilah sabar menjadi pondasi yang menahan rumah tetap utuh.

Dalam perspektif Islam, ujian hidup adalah bagian dari takdir yang mengasah keimanan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa cobaan adalah bagian dari perjalanan manusia dan memberi kabar gembira bagi orang yang bersabar. Sabar bukan pasifisme; ia adalah sikap aktif memilih ketenangan, tawakal, dan usaha jujur sambil menerima ketentuan Allah.

Hadis Nabi Muhammad SAW menempatkan sabar sebagai karakter sentral: para ulama menyitir sabda yang menggugah bahwa “sabar itu ketika cobaan pertama datang” — maksudnya reaksi awal seseorang menentukan kualitas kesabarannya. Artinya, kemampuan menahan diri dan tidak bereaksi berlebihan pada saat pertama krisis muncul adalah tanda kedewasaan spiritual.

Penelitian ilmiah tentang keluarga dan stres ekonomi mendukung pengamatan praktis ini. Model stres keluarga (Family Stress Model) menunjukkan bahwa tekanan ekonomi meningkatkan stres orang tua, yang bila tidak dikelola dengan baik akan menurunkan kualitas komunikasi dan meningkatkan konflik rumah tangga. Dengan kata lain, masalah keuangan sering menjadi pemicu — bukan akar terakhir — dari retaknya hubungan bila sabar dan strategi koping tidak diterapkan.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Ilmu psikologi juga menunjukkan manfaat konkret praktik sabar dan regulasi emosi: pasangan yang melatih komunikasi terbuka, penundaan reaksi emosional, dan strategi pemecahan masalah bersama cenderung mempertahankan kepuasan pernikahan lebih tinggi di masa sulit. Teknik-teknik sederhana seperti “time-out” saat emosi memuncak, giliran bicara, dan fokus pada solusi praktis terbukti menurunkan eskalasi konflik.

Selain itu, penelitian intervensi pasangan (mis. terapi kognitif-perilaku pasangan, serta temuan dari penelitian relasional seperti karya Gottman) menegaskan bahwa kebiasaan kecil—mengungkapkan apresiasi harian, menyentuh secara kasih sayang, dan memelihara ritual bersama—mampu menjaga keintiman ketika tekanan luar meningkat. Sabar dalam konteks ini berarti memprioritaskan ikatan emosional di atas kemenangan argumen sesaat.

Praktisnya, saat rezeki seret, sabar diwujudkan melalui tindakan: menyusun ulang prioritas anggaran bersama, membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang, berbagi tugas rumah tangga tanpa menyalahkan, serta terbuka soal perasaan takut dan harapan. Ketika pasangan bekerja bersama sebagai tim, beban terasa ringan dan solusi lebih cepat ditemukan.

Dari sisi spiritual, sabar meliputi memelihara ibadah, berdoa, dan saling mengingatkan akan hikmah musibah. Memohon rezeki kepada Allah sambil terus berikhtiar adalah bentuk tawakal yang diajarkan: usaha maksimal plus penyerahan hasil kepada-Nya. Ini mengubah kecemasan menjadi harapan yang produktif, bukan putus asa.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Sabar juga membutuhkan batas sehat: bukan berarti menahan semua sampai rusak, tetapi mengenali kapan perlu mencari bantuan — misalnya konsultasi keluarga, nasehat tokoh agama, atau bantuan profesional perencanaan keuangan. Mengabaikan masalah sampai menjadi krisis adalah bukan sabar yang terpuji, melainkan penundaan yang merusak.

Untuk membangun sabar dalam praktik sehari-hari, mulailah dengan rutinitas kecil: duduk bersama seminggu sekali untuk mengecek keuangan tanpa menyalahkan, menulis 3 hal yang disyukuri setiap hari supaya fokus tidak hanya pada kekurangan, serta mengatur “waktu kasih sayang” singkat tiap hari. Konsistensi kecil seringkali lebih ampuh daripada janji besar yang cepat padam.

Cerita-cerita nyata dari keluarga yang berhasil keluar dari masa sulit menunjukkan satu pola: pasangan yang bertahan bukan yang tak pernah konflik, melainkan yang mampu menunda reaksi destruktif, saling menguatkan, dan mencari solusi praktis sambil beriman. Sabar di sini menjadi energi produktif yang menumbuhkan kreativitas — membuka jalan alternatif rezeki yang sebelumnya tak terpikirkan.

Ketika rezeki seret dan cinta diuji, sabar adalah jembatan antara keadaan sekarang dan harapan masa depan. Gabungkan ilmu (perencanaan, komunikasi, bantuan profesional) dengan iman (doa, tawakal, dan penguatan spiritual) — itulah resep yang mengubah ujian menjadi ladang pahala dan pembelajaran. Ingatlah sabda Nabi SAW tentang kedudukan sabar dalam hidup: ia tidak hanya penyelamat hubungan, tetapi juga pembuka rahmat dan jalan bagi rezeki yang Allah takdirkan.[]

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Indonesia
Indonesia
Hikmah