Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Simposium di Museum Hebron Ungkap Status Pakaian Tradisional Palestina

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 16 Agustus 2026 - 07:19 WIB

Ahad, 16 Agustus 2026 - 07:19 WIB

21 Views ㅤ

Simposium Budaya di Museum Hebron, Palestina. (Jaridah al-Quds)

Hebron, MINA – Simpoisium di Old Hebron Museum pada Sabtu (15/8) mengungkap status pakaian dan bordir Palestina sebagai komponen penting dalam memori budaya dan identitas nasional.

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama Perpustakaan Budaya Abeer dengan Komite Rekonstruksi Hebron dalam simposium budaya bertajuk “The Scarf of the Earth: Tales of the Palestinian Dress between Identity and Memory.” Jaridah al-Quds melaporkan.

Dr. Mona Abu Hamdia, peneliti di Unit Publikasi dan Penelitian Ilmiah Kementerian Pariwisata Palestina, memaparkan simbol serta konotasi yang dibawa oleh pakaian dan bordir Palestina.

Ia membahas keberagaman kostum dan bordir di berbagai wilayah Palestina serta hubungannya dengan tempat, manusia, dan sejarah. Menurutnya, pakaian Palestina bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga dokumen budaya dan sosial yang menyimpan berbagai aspek kehidupan Palestina.

Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang

“Melalui warna, dekorasi, dan referensi sulaman, pakaian ini melestarikan hubungan dengan tempat, identitas, dan memori kolektif,” ujarnya.

Abu Hamdia menekankan pentingnya memperlakukan pakaian Palestina sebagai sumber pengetahuan tentang sejarah dan masyarakat Palestina, selain nilai estetika dan warisannya.

Sementara itu, Direktur Kementerian Kebudayaan di Gubernur Hebron, Rashad Abu Hamid, menegaskan bahwa pakaian Palestina merupakan dokumen budaya hidup dan catatan identitas serta memori Palestina.

Ia menyoroti pentingnya mendokumentasikan warisan tersebut, memperkuat kehadirannya dalam Masyarakat, mendukung para pengrajin Perempuan dan mendorong generasi muda untuk mempelajari seni border.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer

“Kita harus memastikan kelangsungan warisan budaya ini,” ujarnya.

Kota Tua Hebron sebagai Ruang Warisan

Direktur Jenderal Komite Rekonstruksi Hebron, Eng. Muhannad Al-Jabari, menekankan pentingnya mengadakan acara budaya di Kota Tua Hebron karena tempat ini adalah ruang hidup bagi warisan, sejarah, dan identitas.

Ia menegaskan bahwa perlindungan warisan budaya adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan dokumentasi yang sistematis, pelestarian berkelanjutan kepada generasi baru dan peningkatan kerja sama antara institusi budaya, komunitas, dan lembaga resmi.

Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid 

Pemerintah Kota Hebron turut berpartisipasi melalui perwakilan anggota Dewan Kota, Dr. Reem Al-Sharif, Hamsa Al-Takruri, dan Muammar Al-Awiwi, yang menekankan pentingnya mendukung acara yang meningkatkan kehadiran warisan Palestina dalam kehidupan budaya dan komunitas.

Simposium ini menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya Palestina, meningkatkan kesadaran akan nilainya, dan memperkuat kehadiran Kota Tua Hebron sebagai ruang untuk pengetahuan, budaya, dan perlindungan memori.

Simposium dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kebudayaan Palestina, Pemerintah Kota Hebron, Unit Publikasi dan Penelitian Ilmiah Kementerian Pariwisata dan Purbakala, serta sejumlah lembaga resmi dan non-pemerintah serta pegiat warisan dan budaya Palestina. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Palestina
Palestina