Ljubljana, MINA – Slovenia berencana menggelar referendum terkait kemungkinan keluar dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), sebagaimana disampaikan Ketua Parlemen Zoran Stevanovic dalam pernyataannya kepada media.
Stevanovic menegaskan bahwa rencana tersebut merupakan bagian dari janji politik kepada rakyat. Ia menyatakan bahwa Slovenia harus menjalankan kebijakan luar negeri yang independen dan tidak berada di bawah tekanan kekuatan mana pun. MEMO melaporkan.
Menurutnya, keterlibatan dalam konflik militer internasional tidak memberikan keuntungan bagi Slovenia. Karena itu, pemerintah mendorong kebijakan non-intervensi serta hubungan yang seimbang dengan berbagai negara, termasuk kekuatan besar dunia.
Meski demikian, Stevanovic mengakui bahwa dukungan publik untuk keluar dari Uni Eropa relatif kecil, karena Slovenia masih memperoleh banyak manfaat ekonomi dari keanggotaan tersebut. Referendum yang direncanakan saat ini difokuskan pada NATO, bukan Uni Eropa.
Baca Juga: China Desak Dibukanya Blokade AS di Selat Hormuz, Dinilai Picu Krisis Energi Global
Langkah ini muncul di tengah dinamika politik domestik pasca pemilu parlemen 2026 yang menghasilkan komposisi kekuatan politik lebih terfragmentasi. Isu kedaulatan dan kebijakan luar negeri menjadi salah satu agenda penting dalam perdebatan politik nasional.
Sebagai informasi, Slovenia resmi bergabung dengan NATO pada 2004 setelah referendum pada 2003 yang menunjukkan mayoritas rakyat mendukung keanggotaan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dukungan terhadap NATO cenderung menurun, seiring meningkatnya wacana kemandirian kebijakan luar negeri di Eropa. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Trump ‘Serang’ PM Italia Usai Bela Paus Leo dan Tolak Dukung Perang Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic