BANYAK orang tua mengeluhkan anak-anak mereka yang sulit diajak shalat, malas mengaji, atau kurang antusias mengikuti kegiatan keagamaan. Sebaliknya, ada pula anak-anak yang tanpa disuruh sudah bergegas mengambil wudhu ketika azan berkumandang, senang membaca Al-Qur’an, dan merasa kehilangan ketika tidak beribadah.
Apa sebenarnya rahasia di balik perbedaan itu?
Perlu dipahami bahwa anak tidak lahir dengan kebiasaan ibadah. Mereka belajar dari lingkungan, terutama dari orang tua. Dalam ilmu psikologi perkembangan, anak adalah peniru ulung. Mereka lebih banyak mencontoh apa yang dilihat daripada menjalankan apa yang didengar.
Karena itu, jika ingin anak rajin ibadah, jangan hanya fokus pada perintah. Fokuslah pada proses membangun cinta, keteladanan, dan suasana yang mendukung.
Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri
Berikut tiga rahasia penting yang terbukti efektif berdasarkan ajaran Islam dan didukung oleh berbagai penelitian pendidikan serta psikologi anak.
- Jadilah Teladan Sebelum Menjadi Penasihat
Rahasia pertama adalah keteladanan. Sering kali orang tua menyuruh anak shalat, tetapi dirinya sendiri masih sering menunda shalat. Menyuruh anak mengaji, tetapi jarang membuka mushaf. Meminta anak menjaga lisan, tetapi dirinya mudah marah dan berkata kasar.
Anak menangkap kontradiksi itu. Psikolog terkenal Albert Bandura melalui Social Learning Theory menjelaskan bahwa anak belajar terutama melalui observasi dan peniruan terhadap figur yang dianggap penting dalam hidupnya. Orang tua adalah figur utama tersebut.
Prinsip ini sebenarnya telah diajarkan Islam jauh sebelum teori psikologi modern lahir.
Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri
Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)
Rasulullah ﷺ juga merupakan teladan terbaik bagi umat manusia. Para sahabat belajar agama bukan hanya dari ceramah beliau, tetapi dari melihat langsung bagaimana beliau beribadah, berbicara, makan, bergaul, dan memperlakukan keluarganya.
Anak yang setiap hari melihat ayahnya bersegera menuju masjid dan ibunya menjaga shalat dengan penuh khusyuk akan menyimpan gambar itu dalam alam bawah sadarnya. Lama-kelamaan, ibadah menjadi sesuatu yang normal dan alami baginya.
Maka jangan hanya menyuruh anak shalat. Biarkan mereka melihat kita mencintai shalat. Jangan hanya menyuruh anak membaca Al-Qur’an. Biarkan mereka melihat kita akrab dengan Al-Qur’an. Karena contoh yang hidup jauh lebih kuat daripada seribu nasihat.
Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia
- Bangun Hubungan Hati dengan Allah, Bukan Sekadar Rutinitas
Kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan ibadah hanya sebagai kewajiban yang harus dilakukan. Akibatnya, anak merasa ibadah sebagai beban. Padahal tujuan utama pendidikan Islam bukan sekadar membuat anak melakukan ibadah, tetapi membuat mereka mencintai Allah.
Penelitian dalam bidang motivasi menunjukkan bahwa motivasi intrinsik (dorongan dari dalam diri) jauh lebih kuat dan bertahan lama dibanding motivasi ekstrinsik (dorongan karena hadiah atau hukuman).
Jika anak hanya shalat karena takut dimarahi, maka ia akan shalat ketika orang tua melihatnya. Namun jika ia shalat karena merasa Allah mencintainya, maka ia akan tetap shalat meskipun sendirian. Karena itu, tanamkan makna di balik ibadah.
Ceritakan bahwa Allah adalah Rabb yang memberi mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan hati untuk merasakan kasih sayang. Ajak anak melihat langit, bintang, hujan, tumbuhan, dan nikmat kehidupan sebagai bukti kasih sayang Allah.
Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal
Ketika hati anak mulai mengenal Allah, ibadah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kebutuhan. Mereka tidak sekadar menjalankan shalat. Mereka sedang berbicara dengan Rabb yang mereka cintai.
- Ciptakan Suasana Rumah yang Dekat dengan Ibadah
Rahasia ketiga adalah membangun lingkungan. Anak sangat dipengaruhi oleh suasana yang mengelilinginya. Sebuah penelitian dari Harvard Center on the Developing Child menunjukkan bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh sangat besar terhadap pembentukan karakter dan kebiasaan anak.
Jika rumah dipenuhi tontonan, permainan, dan hiburan tanpa batas, maka perhatian anak akan tersedot ke sana. Sebaliknya, jika rumah dipenuhi suasana ibadah, anak akan tumbuh bersama nilai-nilai tersebut.
Biasakan shalat berjamaah di masjid, jika tidak memungkinkan karena hujan dan kendala lainnya, maka bangun shalat berjamaah di rumah bersama anak.
Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia
Perdengarkan murattal Al-Qur’an. Ajak anak mengikuti kajian yang sesuai usianya. Buat momen membaca Al-Qur’an bersama. Rayakan pencapaian ibadah mereka dengan pelukan, doa, dan apresiasi.
Rumah yang dipenuhi dzikir akan melahirkan anak yang akrab dengan dzikir. Rumah yang dipenuhi Al-Qur’an akan melahirkan anak yang mencintai Al-Qur’an. Rumah yang dipenuhi keteladanan akan melahirkan generasi yang mencintai ketaatan.
Pada akhirnya, membuat anak rajin ibadah bukanlah pekerjaan satu malam. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, doa, dan konsistensi.
Jangan terlalu sibuk memaksa anak menjadi saleh. Berusahalah menjadi orang tua yang saleh. Karena sering kali, anak tidak tumbuh dari apa yang kita katakan. Mereka tumbuh dari apa yang setiap hari mereka lihat.
Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang
Ketika orang tua menjadi teladan, menanamkan cinta kepada Allah, dan menciptakan lingkungan yang mendukung ibadah, insya Allah akan lahir generasi yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga menikmati ibadah sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sebagai penyejuk mata, pembela agama-Nya, dan pewaris surga-Nya. Aamiin.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Meski Masih Kondisi Perang, Gaza Kembali Gelar Ujian Sekolah
















Mina Indonesia
Mina Arabic