Washington, MINA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim sejumlah negara di Timur Tengah dan dunia Muslim siap menjalin normalisasi hubungan dengan Israel sebagai bagian dari perluasan kesepakatan Abraham Accords yang sebelumnya dimediasi Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya dinamika geopolitik kawasan akibat perang Gaza dan konflik Iran-Israel. Arabnews melaporkan, Selasa (26/5).
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut beberapa negara seperti Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Mesir, Yordania, dan Turki berpotensi bergabung dalam proses normalisasi dengan Israel.
Namun pernyataan itu memicu perhatian publik internasional karena sebagian negara yang disebut, seperti Mesir dan Yordania, telah lama memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel.
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
Trump juga menilai perluasan Abraham Accords dapat membantu menciptakan stabilitas baru di Timur Tengah sekaligus memperkuat posisi Amerika Serikat di kawasan.
Kesepakatan Abraham Accords sendiri pertama kali diperkenalkan pada masa pemerintahan Trump tahun 2020 dan menghasilkan normalisasi hubungan Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, serta Sudan.
Meski demikian, Arab Saudi kembali menegaskan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel tidak akan dilakukan tanpa adanya langkah nyata menuju pembentukan negara Palestina merdeka.
Pemerintah Riyadh menilai solusi dua negara tetap menjadi syarat utama sebelum hubungan diplomatik resmi dengan Israel dapat diwujudkan.
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
Di tengah upaya diplomasi tersebut, perang di Jalur Gaza masih terus berlangsung dan memicu gelombang penolakan terhadap normalisasi Israel di banyak negara Muslim.
Krisis kemanusiaan di Gaza membuat isu hubungan dengan Israel menjadi semakin sensitif secara politik, termasuk di negara-negara yang selama ini menjalin kerja sama erat dengan Amerika Serikat.
Perluasan normalisasi dengan Israel akan tetap menghadapi hambatan besar selama konflik Palestina belum menemukan penyelesaian yang adil dan permanen. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia
















Mina Indonesia
Mina Arabic