Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

UEA Umumkan Keluar dari OPEC di Tengah Perang Iran

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 29 April 2026 - 08:12 WIB

Rabu, 29 April 2026 - 08:12 WIB

25 Views ㅤ

Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ). (Foto: @MohamedBinZayed / X)

Abu Dhabi, MINA — Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) resmi mengumumkan keluar dari OPEC, sebuah langkah yang dinilai sebagai pukulan besar bagi organisasi produsen minyak dunia di tengah memanasnya konflik Iran.

Keputusan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Mei 2026 dan langsung memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi global. Al-Jazeera melaporkan, Rabu (29/4).

Langkah UEA dinilai strategis karena negara tersebut merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dalam OPEC.

Dengan keluarnya UEA, kemampuan organisasi untuk mengendalikan pasokan dan harga minyak global diperkirakan melemah, terutama di saat krisis energi akibat perang Iran semakin memperburuk situasi.

Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya

Pemerintah UEA menyebut keputusan ini diambil untuk kepentingan nasional jangka panjang, termasuk memberi fleksibilitas dalam meningkatkan produksi energi. Selama ini, kebijakan kuota produksi OPEC dinilai membatasi potensi ekspor minyak negara tersebut.

Di sisi lain, keluarnya UEA terjadi di tengah gangguan besar pada distribusi minyak dunia akibat konflik di kawasan Teluk, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz.

Jalur ini merupakan salah satu titik vital bagi perdagangan energi global, sehingga setiap gangguan berdampak langsung pada harga minyak dan stabilitas ekonomi internasional.

Kondisi ini berpotensi memperlemah soliditas organisasi yang selama puluhan tahun menjadi penentu utama pasar energi dunia.

Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa

Keluarnya UEA diperkirakan akan meningkatkan volatilitas harga minyak global, di mana negara tersebut kini memiliki keleluasaan untuk meningkatkan produksi secara mandiri.

Di tengah konflik Iran yang belum mereda, perkembangan ini menambah ketidakpastian baru bagi perekonomian dunia yang masih dibayangi krisis energi dan geopolitik. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik

Rekomendasi untuk Anda