Oleh Imam Yakhsyallah Mansur, Pembina STAI Al-Fatah, Cileungsi, Bogor
DALAM sejarah peradaban dunia, universitas sering dipersepsikan sebagai produk khas Eropa modern. Namun, narasi ini tidak sepenuhnya akurat. Jauh sebelum Eropa mengenal sistem universitas secara formal, dunia Islam telah lebih dahulu membangun institusi pendidikan tinggi yang terorganisasi, sistematis, dan berkelanjutan. Bahkan, sejumlah konsep fundamental dalam tradisi akademik modern, seperti kurikulum terpadu, ijazah akademik, kebebasan ilmiah, hingga simbol-simbol kelulusan—memiliki akar yang kuat dalam sejarah pendidikan Islam
Tulisan ini mengulas secara komprehensif peran Islam dalam membentuk tradisi universitas dunia, mulai dari embrio pendidikan di masa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, berdirinya universitas-universitas Islam tertua, hingga kontribusinya terhadap perkembangan akademik Eropa dan dunia modern.
Asal-usul Konsep Universitas
Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri
Istilah universitas berasal dari bahasa Latin universitas magistrorum et scholarium, yang bermakna komunitas guru dan pelajar. Dalam pengertian kontemporer, universitas adalah lembaga pendidikan tinggi yang menjalankan fungsi pengajaran, penelitian, dan pemberian gelar akademik. Menariknya, definisi ini sejalan dengan praktik pendidikan yang telah berkembang dalam dunia Islam sejak abad-abad awal hijriyah.
Para ulama kontemporer mendefinisikan universitas sebagai lembaga pendidikan dan riset tingkat tinggi yang memberikan ijazah akademik kepada lulusannya. Definisi ini secara substansial telah dipraktikkan di berbagai pusat keilmuan Islam jauh sebelum Eropa mengenalnya secara formal.
Ash-Shuffah: Embrio Universitas Islam
Secara historis, embrio universitas dalam Islam dapat ditelusuri hingga lembaga Ash-Shuffah di Masjid Nabawi. Lembaga ini didirikan langsung oleh Rasulullah ﷺ sebagai pusat pembelajaran bagi para sahabat dewasa. Aktivitas akademik Ash-Shuffah tidak terbatas pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga mencakup pengembangan keterampilan hidup, pelatihan sosial, dan pengabdian masyarakat.
Menarik untuk dicatat bahwa Abu Hurairah—yang dipercaya sebagai pengelola aktivitas Ash-Shuffah—berusia sekitar 25 tahun, usia yang dalam konteks modern setara dengan mahasiswa atau asisten akademik. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal Islam telah mengenal konsep pendidikan orang dewasa, spesialisasi keilmuan, serta pembinaan intelektual yang terstruktur.
Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri
Al-Qarawiyyin: Universitas Tertua di Dunia
Sejarah mencatat Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga kini. Lembaga ini didirikan pada tahun 859 M oleh seorang perempuan Muslim, Fatimah al-Fihri. Berawal dari halaqah ilmu di Masjid Al-Qarawiyyin, institusi ini berkembang menjadi pusat pendidikan tinggi dengan spektrum keilmuan yang luas.
Pada tahun 1998, Guinness Book of World Records secara resmi mengakui Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia yang memberikan gelar akademik. Fakta ini menegaskan bahwa sistem universitas telah mapan dalam dunia Islam berabad-abad sebelum Eropa mendirikan Universitas Bologna pada abad ke-11.
Zaman Keemasan Ilmu Pengetahuan Islam
Abad ke-9 hingga ke-13 M sering disebut sebagai Zaman Keemasan Islam. Pada periode ini, dunia Islam mengalami kemajuan pesat dalam ilmu agama, filsafat, sains, kedokteran, matematika, astronomi, dan humaniora. Peradaban Islam tidak hanya melestarikan pengetahuan Yunani dan Romawi, tetapi juga mengembangkannya secara inovatif.
Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia
Pendirian Bayt al-Hikmah di Baghdad oleh Khalifah Al-Ma’mun menjadi simbol institusionalisasi riset dan penerjemahan ilmu. Dari pusat-pusat keilmuan inilah lahir generasi ilmuwan yang karya-karyanya kelak menjadi fondasi Renaisans Eropa.
Kurikulum Integral dan Tradisi Akademik
Universitas-universitas Islam abad pertengahan menerapkan kurikulum integral yang menggabungkan ilmu naqliyyah (agama) dan ilmu aqliyyah (rasional). Mata kuliah yang diajarkan mencakup tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh, hingga logika, filsafat, matematika, astronomi, kedokteran, dan kimia.
Metode pembelajaran dilakukan melalui halaqah, dikte ilmiah (imla’), hafalan, diskusi, serta penulisan. Beberapa lembaga memiliki spesialisasi tertentu, misalnya fiqh di Madrasah Nizhamiyah atau kedokteran di institusi tertentu di Baghdad dan Damaskus.
Ijazah dalam Tradisi Islam
Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal
Salah satu kontribusi paling penting Islam terhadap dunia akademik adalah konsep ijazah. Dalam tradisi Islam, ijazah merupakan izin resmi dari seorang guru kepada muridnya untuk meriwayatkan atau mengajarkan suatu ilmu atau kitab tertentu.
Ijazah ini bersifat personal, berbasis kompetensi, dan menekankan integritas keilmuan. Sejarah mencatat ijazah tertua yang diketahui dikeluarkan pada tahun 304 H, jauh sebelum universitas-universitas Eropa mengenal sistem sertifikasi akademik formal.
Islam dan lahirnya Universitas Eropa
Universitas-universitas Islam di Andalusia, seperti Toledo, Sevilla, dan Granada, menjadi magnet bagi mahasiswa Eropa. Mereka belajar ilmu pengetahuan, filsafat, dan sains, lalu kembali ke negeri asalnya membawa tradisi akademik Islam, bahkan hingga meniru pakaian akademik Arab yang kemudian berkembang menjadi toga wisuda modern.
Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia
Sejarawan Jack Goody mencatat bahwa jubah akademik yang dikenakan dalam wisuda dan sidang ilmiah Eropa merupakan simbol prestise keilmuan yang berakar dari tradisi Islam. Fakta ini menunjukkan pengaruh kultural dan intelektual Islam yang mendalam terhadap Eropa
Pembiayaan Pendidikan dalam Islam
Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan publik yang menjadi tanggung jawab negara (ulil amri). Sejarah mencatat bahwa para khalifah menyediakan pendidikan gratis, menggaji guru dan dosen, serta membangun fasilitas pendidikan lengkap—mulai dari asrama, perpustakaan, hingga rumah sakit pendidikan.
Motif pembiayaan pendidikan pada masa klasik bukanlah komersialisasi, melainkan pengabdian terhadap ilmu dan kemajuan umat manusia. Kebijakan Khalifah Harun ar-Rasyid yang memberikan insentif besar bagi penghafal Al-Qur’an dan penuntut ilmu menjadi contoh nyata komitmen negara Islam terhadap pendidikan.
Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang
Relevansi bagi Dunia Akademik Kontemporer
Memahami sejarah universitas dalam Islam bukan sekadar nostalgia, tetapi memiliki implikasi penting bagi dunia pendidikan modern. Integrasi ilmu, akses pendidikan yang adil, etika akademik, serta pembiayaan berbasis kepentingan publik adalah prinsip-prinsip yang relevan untuk menjawab krisis pendidikan global hari ini.
Sejarah menunjukkan bahwa universitas bukanlah monopoli satu peradaban. Dunia Islam memiliki peran sentral dalam melahirkan, mengembangkan, dan mentransmisikan tradisi universitas ke dunia modern. Dari Ash-Shuffah hingga Al-Qarawiyyin, dari Bayt al-Hikmah hingga Andalusia, Islam telah menorehkan warisan intelektual yang membentuk wajah pendidikan global.
Mengakui fakta ini bukan untuk mengklaim superioritas historis, melainkan untuk membangun kesadaran akademik yang adil, objektif, dan berbasis data sejarah. Dengan demikian, universitas modern sejatinya berdiri di atas fondasi peradaban lintas budaya, dengan Islam sebagai salah satu pilar utamanya. []
Baca Juga: Meski Masih Kondisi Perang, Gaza Kembali Gelar Ujian Sekolah
- Artikel ini disarikan dari makalah berjudul “Universitas Dalam Sejarah Islam”, yang disampaikan dalam rangka menyambut Musyawarah Kerja STAI Al-Fatah, Jumat 25–26 Sya’ban 1447 H/13–14 Februari 2026 di Villa Kahuripan Puncak Bogor.
















Mina Indonesia
Mina Arabic