Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai Perang Iran, Trump Sesumbar Ingin Caplok Kuba

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Senin, 4 Mei 2026 - 08:26 WIB

Senin, 4 Mei 2026 - 08:26 WIB

127 Views ㅤ

Peta AS bertetangga dengan Kuba (savemyexams)

Washington, MINA  — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut Kuba sebagai target berikutnya yang ingin “diambil alih” setelah konflik dengan Iran dinyatakan selesai.

Dalam pernyataannya, Trump mengisyaratkan bahwa Washington dapat menggunakan kekuatan militer, termasuk pengerahan kapal induk, untuk menekan Kuba agar tunduk.

Ia bahkan menyebut proses pengambilalihan itu bisa berlangsung cepat dengan menunjukkan dominasi militer Amerika Serikat. Al-Jazeera melaporkan, Senin (4/5).

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik pasca konflik Iran, yang sebelumnya melibatkan operasi militer intensif di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Trump juga telah menandatangani kebijakan baru berupa sanksi tambahan terhadap entitas yang terkait dengan Kuba, dengan alasan ancaman terhadap keamanan nasional AS.

Namun, rencana tersebut menuai respons keras dari pemerintah Kuba. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menegaskan negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan Washington dan siap memberikan perlawanan jika terjadi agresi.

Pernyataan itu mempertegas ketegangan lama antara kedua negara yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Situasi ini juga berkaitan dengan krisis yang tengah melanda Kuba pada 2026, termasuk blokade energi yang dilakukan Amerika Serikat yang menyebabkan kekurangan bahan bakar dan gangguan ekonomi serius di negara tersebut.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Sejumlah negara bahkan menyerukan agar kedaulatan Kuba dihormati di tengah tekanan internasional yang meningkat.

Pernyataan Trump lebih bersifat retorika politik yang berpotensi meningkatkan eskalasi ketegangan di kawasan Karibia. Dengan latar belakang konflik global yang belum sepenuhnya mereda, langkah tersebut dinilai dapat memicu instabilitas baru serta memperburuk hubungan diplomatik internasional. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

Rekomendasi untuk Anda