Kinshasa, MINA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sedikitnya 75 tenaga kesehatan terinfeksi Ebola dalam wabah yang sedang berlangsung di Republik Demokratik Kongo (DRC), dengan 17 di antaranya meninggal dunia.
Tingginya jumlah korban di kalangan tenaga medis menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi petugas kesehatan di garis depan penanganan wabah. Anadolu melaporkan, Sabtu (20/6).
Direktur Darurat WHO untuk wilayah terdampak, Marie Roseline Belizaire, mengatakan banyak tenaga kesehatan terpapar virus sebelum wabah secara resmi diumumkan pada 15 Mei lalu.
Akibatnya, sejumlah petugas merawat pasien tanpa mengetahui keberadaan virus Ebola dan tanpa perlindungan yang memadai, seperti sarung tangan maupun masker.
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
Menurut WHO, wabah yang disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo itu diperkirakan telah menyebar selama beberapa bulan sebelum terdeteksi. Kondisi tersebut menyebabkan penularan berlangsung lebih luas, termasuk di fasilitas kesehatan yang menjadi titik utama penanganan pasien.
Kongo saat ini menghadapi tantangan besar karena jumlah tenaga kesehatan yang tersedia relatif terbatas. Data WHO menunjukkan negara itu hanya memiliki sekitar 11 tenaga kesehatan untuk setiap 10.000 penduduk.
Kehilangan puluhan petugas medis akibat Ebola dikhawatirkan semakin membebani sistem kesehatan yang sudah menghadapi berbagai keterbatasan.
Untuk membantu penanganan wabah, sejumlah negara mulai mengirimkan dukungan medis ke Kongo. WHO menyebut China dan Uganda telah mengirim tim kesehatan, sementara organisasi internasional terus memperkuat upaya pelacakan kontak, pengobatan pasien, serta penyediaan perlengkapan pelindung bagi tenaga medis.
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
Berdasarkan data WHO, hingga awal Juni lebih dari 500 kasus Ebola terkonfirmasi telah tercatat di Republik Demokratik Kongo, dengan puluhan kematian.
Risiko penyebaran wabah di negara tersebut masih sangat tinggi dan terus mengoordinasikan respons bersama pemerintah Kongo, negara-negara tetangga, serta lembaga kesehatan internasional guna mencegah meluasnya penularan lintas batas. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia
















Mina Indonesia
Mina Arabic