Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

6 Penyakit Jiwa Orang Pintar di Akhir Zaman

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 25 Desember 2025 - 22:04 WIB

Kamis, 25 Desember 2025 - 22:04 WIB

12 Views ㅤ

DI AKHIR zaman, kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Banyak orang berilmu tinggi, berpendidikan luas, bahkan fasih berbicara tentang kebenaran, namun jiwanya justru rapuh dan sakit.(Foto : ig)

DI AKHIR zaman, kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Banyak orang berilmu tinggi, berpendidikan luas, bahkan fasih berbicara tentang kebenaran, namun jiwanya justru rapuh dan sakit.

Ilmu yang seharusnya menjadi cahaya, berubah menjadi beban ego. Akal yang tajam, tidak lagi tunduk pada hati yang bersih. Inilah fenomena yang semakin nyata hari ini: orang pintar, tetapi kehilangan arah jiwa.

Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa ilmu tanpa iman dan akhlak hanya akan melahirkan kesombongan dan kerusakan. Rasulullah SAW bahkan berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Di akhir zaman, penyakit jiwa ini banyak menjangkiti mereka yang merasa “tahu segalanya”. Berikut 6 penyakit jiwa orang pintar di akhir zaman yang perlu kita renungi bersama.

  1. Merasa Paling Benar dan Sulit Menerima Nasihat

Penyakit pertama adalah ujub intelektual: merasa paling benar karena merasa paling tahu. Ilmunya membuat ia menolak koreksi, bahkan dari orang yang lebih ikhlas dan lebih bertakwa. Setiap kritik dianggap serangan, setiap nasihat dianggap merendahkan.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Padahal, hati yang sehat justru semakin tunduk ketika ilmunya bertambah. Imam Malik pernah berkata, “Tidaklah seseorang berilmu kecuali ia semakin sadar akan kebodohannya.” Orang pintar di akhir zaman justru kehilangan kerendahan hati—dan di situlah awal kebinasaan jiwa.

  1. Ilmu Menjadi Alat Pembenaran Nafsu

Alih-alih menundukkan hawa nafsu, ilmunya justru digunakan untuk membenarkan keinginan pribadi. Ayat dan dalil dipilih sesuai kepentingan. Kebenaran dipelintir agar tampak rasional.

Inilah penyakit berbahaya: ketika akal menjadi pelayan nafsu. Orang seperti ini tampak cerdas di permukaan, tetapi rapuh di hadapan Allah. Ilmu tidak lagi membimbing menuju takwa, melainkan menjadi topeng untuk mempertahankan dosa.

  1. Hatinya Kering dari Rasa Takut kepada Allah

Orang pintar di akhir zaman sering tahu banyak tentang agama, namun jarang menangis karena dosa. Ia bisa membahas akhirat, tapi jarang merasa gentar. Ia paham hukum, tapi hatinya tidak bergetar.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Ilmu yang tidak melahirkan rasa takut kepada Allah adalah ilmu yang gagal menyentuh jiwa. Allah berfirman bahwa yang benar-benar takut kepada-Nya hanyalah ulama—yakni mereka yang ilmunya menghidupkan hati, bukan sekadar memenuhi kepala.

  1. Mudah Merendahkan Orang Lain

Penyakit berikutnya adalah merasa lebih tinggi dari manusia lain. Kepintaran membuatnya memandang rendah orang awam, orang sederhana, atau mereka yang tidak sepemikiran.

Padahal, di sisi Allah, kemuliaan bukan ditentukan oleh kecerdasan, gelar, atau kepandaian bicara, tetapi oleh ketakwaan. Banyak orang pintar yang jatuh hina karena lisannya meremehkan sesama, sementara banyak orang sederhana yang mulia karena akhlaknya.

  1. Lelah Jiwa karena Hidup Tanpa Makna

Ironisnya, semakin pintar seseorang, semakin besar potensi kekosongan batin jika ilmunya tidak terhubung dengan Allah. Ia tahu banyak, tetapi tidak merasa damai. Ia paham teori hidup, tetapi kehilangan rasa hidup.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Inilah penyakit jiwa modern: kelelahan eksistensial. Akal terus bekerja, tetapi hati tidak menemukan tempat bersandar. Tanpa iman, kepintaran justru menjadi beban berat yang menggerus ketenangan.

  1. Ilmu Tidak Diamalkan

Inilah penyakit paling mematikan: mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya. Ia pandai menjelaskan, tetapi malas melaksanakan. Ia mengingatkan orang lain, tetapi lupa pada dirinya sendiri.

Ilmu tanpa amal adalah hujah yang akan memberatkan di akhirat. Setiap pengetahuan yang tidak diamalkan akan berubah menjadi penyesalan. Orang pintar seperti ini sesungguhnya sedang menzalimi jiwanya sendiri.

Di akhir zaman, kita tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang tulus, rendah hati, dan takut kepada Allah. Maka tugas kita bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membersihkan hati agar ilmu benar-benar menjadi cahaya.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Mari kita bermuhasabah: Apakah ilmu kita mendekatkan kepada Allah, atau justru menjauhkan?
Apakah kepintaran kita melembutkan hati, atau mengeraskannya?

Semoga Allah menyembuhkan jiwa kita dari penyakit kepintaran yang menyesatkan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kerendahan hati, ketakwaan, dan keselamatan dunia akhirat. Aamiin.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
Artikel
Artikel