Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Allah Dekat, Tapi Mengapa Kita Merasa Sendiri? Tadabbur QS. Al-Baqarah: 186

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Kamis, 5 Februari 2026 - 00:58 WIB

Kamis, 5 Februari 2026 - 00:58 WIB

109 Views ㅤ

Kaligrafi asma Allah. (Gambar: Human Concern)

PERNAHKAH kita merasa sepi di tengah keramaian? Merasa sendirian meskipun dikelilingi keluarga, teman, atau rekan kerja? Perasaan itu, meski sering dianggap wajar, sesungguhnya adalah panggilan hati. Ia mengingatkan kita bahwa manusia, dengan segala kesibukan dan hiruk-pikuk dunia, terkadang lupa bahwa ada yang selalu dekat, bahkan ketika kita merasa paling sendiri.

Bayangkan seorang anak kecil yang tersesat di tengah keramaian pasar. Tangannya gemetar, matanya mencari-cari sosok orang tua yang dicintainya. Hatinya dipenuhi rasa takut dan cemas, seolah dunia runtuh karena ia tidak melihat orang yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Perasaan itulah yang sering menghampiri kita di saat hidup terasa berat, ketika masalah datang bertubi-tubi, atau ketika kita merasa tidak ada yang memahami beban hati kita.

Kita merasa sendirian, padahal ada Yang Maha Dekat yang selalu memperhatikan setiap detik dari perjalanan hidup kita. Allah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 186 bahwa Dia dekat: dekat bukan karena kita selalu merasakan-Nya, tapi karena realitas-Nya tidak pernah berubah. Allah Ta’ala berfirman dengan lembut,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku menanyakan kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Dekatnya Allah itu seperti udara yang kita hirup. Tak terlihat, tapi selalu hadir. Bahkan ketika hati terasa hampa, ketika doa tampak tak terdengar, ketika kita merasa ditinggalkan manusia dan dunia, Allah tetap ada. Dia dekat, mendengar setiap bisikan batin, menyentuh hati yang terluka, menguatkan jiwa yang goyah. Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa kedekatan itu terasa jauh, mengapa kesepian masih menghampiri. Jawabannya sederhana: kedekatan Allah adalah pengalaman hati, dan hati perlu dilatih untuk menyadarinya.

Kesendirian yang kita rasakan bukan hukuman, melainkan undangan. Undangan untuk lebih mendekat, lebih jujur, dan lebih sadar. Kesendirian mengajarkan kita introspeksi. Ia seperti malam yang sunyi di gurun, memaksa seorang musafir untuk berhenti sejenak, menenangkan langkahnya, dan menyadari arah yang benar. Saat kita sibuk mencari kebahagiaan di luar—dari manusia, harta, atau status sosial—hati sering kehilangan arah. Kesendirian hadir untuk mengingatkan bahwa ketenangan sejati hanya bisa ditemukan dalam hubungan dengan Sang Pencipta.

Doa menjadi jembatan antara kesepian dan kedekatan Allah. “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,” begitu janji-Nya. Doa bukan sekadar meminta sesuatu; doa adalah pengakuan hati bahwa kita tidak bisa sendiri, bahwa kita lemah, dan bahwa kita membutuhkan-Nya.

Ketika seorang ibu menangis di malam hari karena kekhawatiran tentang anaknya, ketika seorang mahasiswa berjuang di tengah keterpurukan akademik dan finansial, atau ketika seorang pejuang dakwah merasakan beratnya tantangan, doa adalah nafas yang menyatukan hati dengan Allah. Bahkan ketika jawaban doa belum tiba, proses doa itu sendiri menenangkan dan menguatkan.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Kadang, kita berdoa dan masih merasa hampa. Rasa kosong itu membuat kita gelisah. Kita merasa Allah jauh. Namun, justru di saat-saat seperti inilah hati belajar untuk melihat kedekatan-Nya yang halus: dalam hembusan napas, dalam cahaya matahari yang menembus jendela, dalam senyuman tak terduga dari seorang teman, dalam ketenangan yang muncul setelah menangis. Allah dekat, tapi hati kita perlu terbuka untuk merasakannya. Kesendirian menjadi guru yang mengajari kita untuk menghargai setiap momen, sekecil apapun, sebagai bukti kehadiran-Nya.

Hidup adalah dialog yang terus-menerus dengan Allah. Setiap kegembiraan, setiap kesedihan, setiap keberhasilan, dan setiap kegagalan adalah percakapan dengan-Nya. Ketika seorang anak belajar berjalan, ketika seorang pekerja menyelesaikan tugasnya dengan susah payah, ketika seorang pasien menahan sakit yang tak terlihat, semuanya adalah momen di mana Allah hadir. Kesadaran ini membuat kita menyadari bahwa kesendirian bukan akhir dari kebahagiaan. Ia adalah ruang di mana Allah berbicara, mengingatkan, dan membimbing kita.

Praktik sederhana dapat membantu kita merasakan kedekatan ini setiap hari. Dzikir dan doa singkat, seperti mengucapkan SubhanAllah, Alhamdulillah, atau doa sederhana di sela aktivitas, menumbuhkan kesadaran akan kehadiran-Nya. Luangkan waktu beberapa menit di pagi atau malam hari untuk merefleksikan nikmat yang kita miliki dan menyerahkan segala kekhawatiran pada-Nya.

Membaca Al-Qur’an adalah dialog langsung dengan Allah, meresapi setiap kata, dan memahami maknanya. Mengamalkan kebaikan, sekecil apapun, menjadi cara kita merasakan ridha dan kehadiran-Nya. Bahkan menyadari setiap napas, denyut jantung, dan detik kehidupan adalah latihan sederhana untuk merasakan bahwa Allah selalu dekat.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Rasa kesepian, jika dimaknai dengan benar, adalah rahmat tersembunyi. Ia memanggil kita untuk menundukkan hati, introspeksi, dan menyadari bahwa keindahan hidup bukan pada ramai atau sepinya dunia, melainkan pada kehadiran-Nya dalam hati kita. Allah dekat, dan setiap doa yang kita panjatkan, setiap momen kesendirian yang kita alami, adalah kesempatan untuk memperkuat iman, menenangkan hati, dan merasakan kehadiran-Nya yang tak pernah hilang. Kesendirian menjadi awal dari kesadaran spiritual yang mendalam, bukan akhir dari kebahagiaan.

Bayangkan seseorang berjalan di tengah hutan sendirian. Saat angin berbisik, burung berkicau, atau dedaunan bergesekan, ia mulai menyadari bahwa ia tidak benar-benar sendiri. Kehadiran alam menjadi tanda, pengingat, dan guru yang lembut. Demikian juga dengan kita. Kesendirian yang kita rasakan hanyalah latar bagi Allah untuk menunjukkan kedekatan-Nya. Setiap detik yang tampak hampa adalah momen di mana kita bisa menengok hati, menenangkan pikiran, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Al-Baqarah 186 mengajarkan kita bahwa kedekatan Allah bukan cerita atau teori, tetapi kenyataan yang bisa kita rasakan melalui doa, kesadaran, dan refleksi. Perasaan sendiri bukan tanda Allah menjauh, melainkan panggilan untuk melihat lebih dekat, mendengar lebih dalam, dan menghargai setiap momen sebagai bentuk komunikasi dengan Sang Pencipta.

Ketika kita menyadari ini, hati menjadi lapang, jiwa tenang, dan hidup lebih bermakna. Kita tidak pernah benar-benar sendirian. Kita selalu dekat dengan Allah, yang mendengar, melihat, dan menyayangi setiap langkah kita—baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Kesendirian bukan akhir dari perjalanan, melainkan permulaan dari pengalaman spiritual yang mendalam, yang menuntun kita pada kedamaian yang hakiki.[]

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Tausiyah
Hikmah
Empat Penyair Palestina Raih Penghargaan Puisi di Maroko (foto: Wafa)
Palestina
Tausiyah