Gaza, MINA – Krisis likuiditas di Jalur Gaza kini memunculkan masalah baru, yakni penggunaan uang lusuh sebagai alat tukar yang mulai ditolak sebagian pedagang pada bulan Ramadhan 1447/2026.
Krisis likuiditas adalah kondisi ketika uang tunai sangat sulit didapat atau beredar di masyarakat.
Dalam krisis likuiditas di Gaza, pihak berwenang Gaza menjelaskan, warga kesulitan memperoleh uang tunai baru karena pasokan uang hampir tidak masuk ke wilayah tersebut sejak perbatasan ditutup akibat agresi Zionis Israel.
Akibat krisis likuiditas ini, masyarakat terpaksa menggunakan uang lama dan lusuh sebagai alat tukar sehari-hari. Mengutip Palinfo, Sabtu (21/2).
Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur
Menurut otoritas keamanan, penggunaan uang lusuh sebenarnya masih sah. Namun krisis likuiditas membuat sebagian pedagang menolak uang lusuh atau meminta uang dengan kondisi lebih baik, sehingga krisis likuiditas semakin terasa bagi warga yang tidak punya pilihan alat bayar lain.
Polisi Gaza menegaskan penolakan uang lusuh merupakan pelanggaran. Mereka memperingatkan pedagang agar tidak memanfaatkan krisis likuiditas dengan menaikkan harga atau menolak alat pembayaran yang sah, terutama menjelang Ramadhan.
Krisis likuiditas di Gaza, peredaran uang lusuh, serta potensi kenaikan harga kini menjadi perhatian utama otoritas setempat.
Polisi Gaza juga mengimbau warga melapor jika menemukan penolakan uang lusuh atau praktik perdagangan tidak adil agar dampak krisis likuiditas tidak semakin membebani masyarakat.[]
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic