ADA kegelisahan yang sering berdiam di hati orang tua: “Akankah anakku dekat dengan Allah saat aku sudah tiada?” Kita bisa mewariskan harta, pendidikan, bahkan nama baik. Tapi jika anak jauh dari ibadah, semuanya terasa hampa. Karena sejatinya, warisan terbaik bukanlah dunia, melainkan hati yang mengenal Rabb-nya.
Mendidik anak agar rajin ibadah bukan sekadar tugas, tapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Pertama, Keteladanan: Bahasa Paling Jujur dalam Pendidikan. Anak tidak belajar dari apa yang kita katakan, tapi dari apa yang kita lakukan. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. As-Saff: 2–3).
Dalam psikologi, teori social learning dari Albert Bandura menegaskan bahwa anak belajar melalui observasi dan peniruan. Jika ayahnya bangun untuk shalat Subuh tanpa keluh, jika ibunya membaca Al-Qur’an dengan air mata—itu akan tertanam lebih dalam daripada seribu perintah. Keteladanan adalah nasihat yang hidup.
Baca Juga: Mengembalikan Jiwa yang Hilang dalam Pola Interaksi Keluarga Era Digital
Kedua, Tanamkan Cinta kepada Allah, Bukan Sekadar Takut. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Nabi ﷺ pun bersabda, “Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Penelitian dalam positive parenting menunjukkan bahwa motivasi berbasis cinta lebih tahan lama dibanding rasa takut. Jika anak mengenal Allah sebagai Dzat yang mencintainya, ia akan mendekat dengan rindu, bukan terpaksa. Ibadah pun berubah dari beban menjadi kebutuhan jiwa.
Ketiga, Biasakan Sejak Dini: Otak Anak Dibentuk oleh Kebiasaan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia tujuh tahun…” (HR. Abu Dawud).
Ilmu neuroscience menjelaskan bahwa kebiasaan yang diulang akan membentuk jalur saraf (neural pathways) yang kuat di otak. Artinya, anak yang sejak kecil dibiasakan shalat, akan merasa “ada yang kurang” jika meninggalkannya. Mulailah dari yang ringan, tapi konsisten—karena istiqamah lebih membentuk daripada intensitas sesaat.
Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI
Keempat, Lembut dalam Mengajak, Keras dalam Prinsip. Allah berfirman kepada Nabi ﷺ,
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka…” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Riset pendidikan menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif (tegas tapi hangat) menghasilkan anak yang lebih taat dan stabil secara emosional. Bentakan mungkin membuat anak patuh sesaat, tapi kelembutan membuatnya mengerti. Hati yang disentuh akan lebih mudah diarahkan daripada hati yang ditekan.
Kelima, Apresiasi: Menguatkan Kebaikan yang Sudah Ada. Nabi ﷺ adalah pendidik terbaik, beliau sering memuji kebaikan sahabat. Dalam hadis, beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Dalam psikologi, positive reinforcement terbukti meningkatkan perilaku baik. Ketika anak dipuji karena shalatnya, ia merasa dihargai dan ingin mengulanginya. Jangan hanya hadir saat anak salah, hadirlah juga saat ia berbuat benar.
Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban
Keenam, Lingkungan: Iman Itu Menular. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seseorang tergantung agama teman dekatnya…” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
Penelitian sosiologi menunjukkan bahwa lingkungan sosial sangat memengaruhi perilaku individu, terutama anak. Jika teman-temannya mencintai masjid, ia akan ikut melangkah ke sana. Jika rumah dipenuhi dzikir dan Al-Qur’an, hatinya akan tumbuh dalam cahaya. Lingkungan adalah “guru diam” yang bekerja setiap hari.
Ketujuh, Doa: Senjata Paling Dalam dan Tak Terlihat. Allah mengabadikan doa orang tua dalam Al-Qur’an, “Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang mendirikan shalat…” (QS. Ibrahim: 40).
Penelitian dalam spiritual psychology menunjukkan bahwa orang tua yang rutin mendoakan anak cenderung memiliki hubungan emosional yang lebih kuat dengan anaknya. Tapi lebih dari itu, doa adalah bentuk pengakuan bahwa hidayah bukan di tangan kita. Kita mendidik, tapi Allah yang membolak-balikkan hati.
Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu
Pada akhirnya, mendidik anak agar rajin ibadah bukan tentang membuat mereka “takut dimarahi”, tapi membuat mereka “takut kehilangan Allah”. Ini bukan perjalanan sehari dua hari. Akan ada lelah, kecewa, bahkan air mata. Tapi percayalah, setiap sujud yang kita ajarkan, setiap doa yang kita panjatkan, setiap teladan yang kita berikan, tidak akan sia-sia.
Suatu hari nanti, mungkin saat kita sudah lemah atau bahkan telah tiada, anak itu akan berdiri di sepertiga malam. Ia mengangkat tangan, lalu berdoa untuk kita. Dan saat itu terjadi… kita akan tahu bahwa semua perjuangan ini benar-benar berharga.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS
















Mina Indonesia
Mina Arabic