Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Marseille, Dunia Akhirnya Membungkuk Menghormati Jurnalis Gaza

Redaksi Editor : Arif R - Senin, 1 Juni 2026 - 12:04 WIB

Senin, 1 Juni 2026 - 12:04 WIB

36 Views ㅤ

Para jurnalis yang meliput di Jalur Gaza, Palestina. (Foto: Abed Rahim Khatib/Flash90)

ASOSIASI Penerbit Berita Global atau WAN-IFRA mengumumkan bahwa para jurnalis foto dan video profesional yang mempertaruhkan hidup mereka dalam mendokumentasikan perang di Jalur Gaza akan menerima Golden Pen of Freedom 2026, penghargaan kebebasan pers paling prestisius yang diberikan setiap tahun kepada pihak-pihak yang dinilai menjaga martabat jurnalisme di tengah ancaman serius terhadap kebebasan informasi.

Penghargaan yang diserahkan pada Senin (1/6) di Marseille, Prancis, itu secara simbolik diterima melalui perwakilan tiga kantor berita internasional besar yang hingga kini masih bergantung pada jaringan jurnalis lokal di Gaza, yakni AFP, AP, dan Reuters.

Di balik nama-nama besar institusi media global tersebut, berdiri para fotografer dan videografer Palestina yang selama ini bekerja di garis depan tragedi, merekam kenyataan ketika akses media internasional praktis tertutup.

Bagi banyak orang di dunia, nama kantor berita internasional mungkin yang tampak di layar. Namun bagi mereka yang memahami cara berita diproduksi dari wilayah konflik, penghargaan ini pada hakikatnya merupakan penghormatan bagi para jurnalis Palestina yang mengangkat kamera di tengah ledakan, mengirim rekaman dari tenda pengungsian, dan terus bekerja bahkan ketika rumah, keluarga, bahkan keselamatan mereka sendiri ikut dipertaruhkan.

Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme

Hari ini, dunia media internasional akhirnya menyebut pengorbanan itu dengan nama yang pantas: keberanian jurnalistik.

Di Marseille, para jurnalis foto dan video Palestina yang melaporkan perang dari Jalur Gaza menerima penghargaan paling prestisius dalam dunia pers, Golden Pen of Freedom 2026. Penghargaan yang diberikan dalam pembukaan World News Media Congress itu bukan sekadar seremoni industri media. Ia adalah pengakuan dunia terhadap orang-orang yang selama bertahun-tahun mempertaruhkan nyawa agar tragedi kemanusiaan di Gaza tidak hilang dari ingatan publik global.

Ketika banyak wartawan internasional tidak dapat memasuki Gaza karena pembatasan perang, justru para pewarta lokal Palestina yang bertahan menjadi mata dunia. Sejak operasi militer Israel berlangsung pada Oktober 2023, merekalah yang memotret reruntuhan, merekam suara tangis keluarga kehilangan anggota rumah tangga, mengabadikan antrean bantuan pangan, hingga memperlihatkan bagaimana kehidupan berusaha tetap berjalan di tengah kehancuran.

Mereka bekerja bukan dari ruang redaksi yang aman, bukan dari hotel perang dengan akses listrik dan internet stabil. Banyak laporan lahir dari tenda pengungsian, rumah sakit darurat, bangunan setengah roboh, atau lorong-lorong kota yang sewaktu-waktu dapat menjadi sasaran serangan udara.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Karena itu, penghargaan di Marseille hari ini bukan hanya tentang kualitas karya jurnalistik. Dunia sedang memberi hormat pada keberanian.

Sebagai bagian dari penghormatan tersebut, kongres media internasional itu juga menampilkan pameran foto khusus yang menampilkan karya jurnalis Palestina. Foto-foto yang selama ini beredar melalui jaringan kantor berita internasional memperlihatkan sisi paling manusiawi dari perang: anak-anak yang tertidur di tenda pengungsian, ibu-ibu yang memeluk anggota keluarga di antara puing, orang tua yang menunggu bantuan dengan tatapan kosong, hingga potongan-potongan kehidupan biasa yang bertahan di tengah luar biasanya penderitaan.

Selama konflik berlangsung, jurnalisme di Gaza berubah menjadi profesi dengan risiko kematian yang nyaris tak terbayangkan. Lebih dari 240 jurnalis Palestina dilaporkan kehilangan nyawa sejak perang pecah pada Oktober 2023. Sebagian gugur ketika sedang meliput di lapangan, sebagian lain meninggal bersama keluarga mereka di rumah yang dihantam serangan, sementara lainnya menjadi korban ketika mendokumentasikan situasi di sekitar lokasi distribusi bantuan.

Angka itu membuat Gaza dikenang sebagai salah satu wilayah paling mematikan bagi profesi jurnalistik dalam sejarah modern. Namun bahkan kehilangan besar itu tidak menghentikan aliran informasi.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Ketika banyak jurnalis laki-laki gugur atau tak lagi mampu bekerja, perempuan-perempuan Palestina mengambil peran yang lebih besar. Mereka melaporkan kehidupan dari kamp pengungsian, rumah sakit, dapur umum, hingga tenda darurat, sering kali sambil menjalankan tanggung jawab sebagai ibu, perawat keluarga, dan penyintas perang itu sendiri.

Dengan perangkat seadanya, koneksi internet yang putus-putus, dan ancaman keselamatan yang terus membayangi, mereka tetap mengirim gambar, menulis laporan, dan merekam kesaksian. Dunia mengetahui banyak hal tentang Gaza hari ini karena seseorang di sana memilih untuk tidak berhenti bekerja, meskipun hidupnya sendiri berada di ambang kehilangan.

Ironisnya, pengakuan internasional itu datang ketika situasi di lapangan justru terus memburuk. Eskalasi militer yang berlanjut memperbesar ancaman terhadap warga sipil, termasuk pekerja media yang masih bertahan di Gaza. Di tengah reruntuhan, mereka tetap bekerja dalam keadaan lapar, listrik yang minim, dan ancaman serangan yang bisa datang kapan saja.

Bagi publik Indonesia, momentum ini terasa memiliki gema tersendiri. Dalam beberapa pekan terakhir, perhatian publik juga tertuju pada warga Indonesia yang menghadapi risiko saat mencoba menembus blokade kemanusiaan menuju Gaza. Hal itu menjadi pengingat bahwa melaporkan atau bahkan mendekati tragedi Palestina hari ini tetap mengandung risiko besar—baik bagi relawan, pekerja kemanusiaan, maupun jurnalis.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

Karena itu, penghargaan di Marseille tidak bisa dibaca sekadar sebagai trofi jurnalistik. Ia adalah pengakuan moral. Pengakuan bahwa setiap foto dari Gaza yang muncul di layar telepon kita, setiap video reruntuhan yang memenuhi media sosial, setiap wajah anak yang tampak kehilangan rumah dan masa kecilnya, tidak hadir begitu saja. Semua itu lahir dari keberanian orang-orang yang memutuskan tetap memegang kamera ketika dunia di sekitar mereka runtuh.

Dan hari ini, di Marseille, dunia akhirnya berdiri, bukan hanya untuk memberi penghargaan, melainkan untuk membungkuk hormat kepada mereka. []

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Internasional
Internasional
Internasional
Eropa