Jakarta, MINA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar diskusi strategis sebagai bagian dari persiapan menuju Majelis Ulama Indonesia atau Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada akhir Juli 2026.
Forum yang dikemas dalam Focused Group Discussion (FGD) di kantor pusat MUI itu mengangkat tema “Indonesia, Dunia Islam, dan Tatanan Dunia Multipolar: Membangun Agenda Geopolitik Umat di Tengah Transformasi Global”, sebagai upaya merumuskan agenda strategis umat Islam menghadapi dinamika perubahan global, berdasarkan siaran pers yang diterima MINA, Sabtu (27/6).
Sekjen MUI, Dr. Amirsyah Tambunan menyampaikan penyelenggaraan FGD membahas dua isu utama, yakni penguatan umat (taqwiyatul ummah) dan penguatan kedaulatan bangsa (siyadat ad-daulah) dalam konteks politik internasional yang kini bergerak menuju tatanan dunia multipolar.
Kedua isu tersebut menjadi landasan dalam membangun peradaban global yang berkeadaban dengan berpedoman pada paradigma Islam Wasatiyah.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Menururtnya, penyelenggaraan KUII pada akhir Juli sangat tepat mengingat dunia dewasa ini sedang bergerak dalam situasi yang semakin tidak pasti. Konflik terbuka di Timur Tengah dimana Iran diserang secara sepihak oleh Amerika Serikat dan Israel telah berdampak ke berbagai segi kehidupan masyarakat internasional.
Di tengah situasi konflik tersebut, geopolitik tidak lagi menjadi isu elite negara semata, tetapi sudah menjadi concern seluruh masyarakat, ujarnya.
Ia menegaskan, Indonesia memiliki modal strategis untuk memainkan peran lebih besar dalam diplomasi internasional. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, dan berkedudukan sebagai middle power, Indonesia memiliki peluang menjadi jembatan dialog dan perdamaian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
“Indonesia harus tampil sebagai jembatan perdamaian dunia. Peran ini perlu didukung negara-negara anggota OKI melalui dialog, kerja sama, dan pembangunan peradaban global yang berkeadilan, mengingat kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas adab dan peradabannya,” ujarnya.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Peradaban akan maju apabila dibangun di atas nilai-nilai adab, keadiland an penghormatan terhadap kemanusiaan. Sebaliknya, sebuah bangsa akan mengalami kemunduran ketika nilai-nilai tersebut diabaikan, imbuhnya.
Soroti Isu Palestina
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Geopolitik dan Tatanan Dunia Baru, Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, MA, menyoroti isu Palestina yang masih mengalami penjajahan dan ketidak-adilan.
Menurutnya, isu Palestina tetap merupakan perhatian dan keprihatinan dunia, bahkan menjadi poros moral dan kemanusiaan bagi perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina.
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
Ia juga mengingatkan fatwa MUI No. 83 tahun 2023 yang berbunyi “Haram mendukung agresi Israel, wajib mendukung kemerdekaan Palestina”.
Diskusi Kelompok Terarah dikuti beragam lembaga, mulai dari Kemenko Polhukam, Kementerian Luar Negeri, Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Global, Baznas dan lembaga filantrofi (Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Aqsa Working Group (AWG), Adara International Relief, Smart 171, Nusantara Palestina Center (NPC), Palang Merah Indonesia (PMI). Termasuk kalangan akademisi dan think tanks seperti Maarif Institute dan Asia–Middle East Center for Research and Dialogue (AMEC). Hadir pula sejumlah Duta Besar RI mewakili Forum Duta Besar RI (FDBRI), dan Indonesian Council for World Affairs (ICWA). []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Tenggelamnya KM Virgo, Polisi Tetapkan 4 Orang sebagai Tersangka
















Mina Indonesia
Mina Arabic