Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Krisis Rohingya: Panggilan Kemanusiaan bagi Umat Islam Indonesia

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 30 Juli 2026 - 11:09 WIB

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:09 WIB

40 Views ㅤ

Pengungsi Rohngya di Kamp Cox's Bazar, Bangladesh. (UN News)

KONGRES Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang baru saja usai diselenggarakan di Jakarta, 24-26 Juli 2026, antara lain menyampaikan satu pesan penting yang tak boleh dilupakan, yaitu umat Islam Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan kemanusiaan terhadap saudara-saudara Muslim yang tertindas di dunia.

Di tengah pembahasan ekonomi, pendidikan, dan persatuan umat, isu kemanusiaan global juga menjadi sorotan serius. Dua krisis besar yang mendapat perhatian khusus adalah penderitaan etnis Rohingya di Myanmar dan Bangladesh, serta penjajahan Zionis Israel atas Palestina.

Rohingya: Penderitaan yang Tak Kunjung Usai

Bayangkan hidup tanpa kewarganegaraan, tanpa perlindungan hukum, tanpa kepastian masa depan. Itulah realitas yang dialami etnis Rohingya. Mereka adalah salah satu minoritas Muslim paling teraniaya di dunia.

Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi

Rohingya adalah etnis Muslim di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Mereka mengalami diskriminasi struktural selama beberapa dekade, bahkan sebelum genosida brutal yang terjadi pada 2017. Mereka dianggap sebagai “pendatang ilegal” di negara mereka sendiri.

Tragedi kemanusiaan yang mereka alami:

  • Diskriminasi struktural: Mereka tidak diakui sebagai warga negara Myanmar, meskipun telah tinggal di sana selama beberapa generasi.
  • Kekerasan massal: Militer Myanmar melakukan pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran kampung-kampung Rohingya.
  • Pengungsian paksa: Ratusan ribu orang terpaksa meninggalkan tanah air mereka untuk menyelamatkan jiwa.
  • Nasib di laut: Banyak dari mereka terkatung-katung di lautan berhari-hari tanpa tujuan, ditolak oleh berbagai negara.
  • Kamp pengungsian yang memprihatinkan: Sekitar 1,2 juta rohingya/">pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh, hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan tanpa kepastian kepulangan yang aman.
  • Ancaman keamanan: Keamanan di Myanmar belum stabil dengan perang saudara antara junta militer dan Angkatan Darat Arakan (AA) yang memperumit repatriasi.

Apa Kata Ulama dan Ormas Islam?

KUII VIII 2026 menyoroti krisis Rohingya sebagai isu kemanusiaan global yang memerlukan perhatian serius.

Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal

MUI dan ormas-ormas Islam perlu secara berkala membuka pintu donasi untuk membantu saudara-saudara di Myanmar dan Bangladesh. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi terbesar dalam kemanusiaan/">bantuan kemanusiaan ini.

Bantuan dapat disalurkan melalui jalur resmi pemerintah melalui lembaga seperti BAZNAS dan lembaga kemanusiaan lainnya, tau lewat NGO Indonesia yang bekerja sama dengan NGO di Myanmar atau Bangladesh atau via pemerintah Bangladesh yang menjadi tempat penampungan utama rohingya/">pengungsi Rohingya.

MUI dan ormas Islam mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil peran lebih aktif dalam forum ASEAN dan OKI. Hingga saat ini, ASEAN dinilai masih belum cukup efektif dalam menangani krisis Rohingya karena prinsip non-intervensi yang dianut organisasi ini.

OKI sebagai organisasi yang mewadahi 57 negara Muslim juga didorong untuk mengambil langkah konkret, bukan hanya pernyataan diplomatik. Indonesia, sebagai salah satu anggota OKI yang paling aktif, harus menjadi penggerak utama.

Baca Juga: Pakta Pertahanan Mekah Siap Kerahkan Pasukan Hadapi Houthi

Krisis Rohingya juga bukan hanya persoalan kemanusiaan, tetapi juga persoalan hukum internasional. Genosida yang terjadi di Myanmar telah tercatat dalam laporan berbagai lembaga PBB. Namun, implementasi keadilan masih jauh dari harapan.

Para ulama mendorong penguatan advokasi hukum di Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk memastikan pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan mendapat hukuman yang setimpal.

Ini adalah panggilan untuk umat terbaik (khaira ummah), seperti firman Allah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena) kamu menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar…” (QS Ali Imran: 110).

Ayat ini bukanlah pujian, tetapi panggilan. Kita disebut sebagai umat terbaik bukan karena jumlah kita banyak, tetapi karena kita berbuat kebaikan bagi manusia lain (amar ma’ruf) dan mencegah penindasan satu bangsa atas bangsa lain (nahi mungkar).

Baca Juga: Arab Saudi akan Regularkan Status Tinggal Warga Negara Ilegal Yaman

Rohingya yang terkatung-katung di lautan, yang terlunta-lunta di berbagai negara, yang terdampar di kamp pengungsian di Cox’s Bazar, mereka adalah bagian dari manusia yang kita diminta untuk menolong.

Pemberian santunan dan bantuan kepada umat Islam Rohingya di kamp-kamp pengungsian bukan sekadar aksi sosial biasa. Ini adalah implementasi langsung dari perintah Allah dalam Surat Al-Ma’un, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS Al-Ma’un: 1-3).

Ayat ini dengan tegas mengkaitkan keimanan seseorang dengan kepeduliannya terhadap orang miskin dan anak yatim. Orang yang mendustakan agama ditandai dengan dua ciri: menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

Pesan moral dari Surat Al-Ma’un adalah bahwa iman tanpa kepedulian sosial adalah iman yang cacat. Agama bukan hanya ritual, tetapi juga aksi nyata membantu sesama. Di samping itu, memberi makan orang miskin adalah bagian dari agama. Program-program seperti santunan makanan, gizi, dan bantuan pangan adalah bentuk pengamalan surat ini.

Baca Juga: Pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah Dimulai Akhir 2026

Untuk itu, kita harus mendorong orang lain untuk memberi makan orang miskin. Ini adalah panggilan untuk menggerakkan masyarakat luas, bukan hanya bertindak sendiri.

Maka, ketika anak-anak Rohingya kelaparan di kamp pengungsian, ketika ibu-ibu Rohingya kesulitan mendapatkan makanan untuk keluarganya, maka memberi mereka makan adalah bagian dari iman.

Di sinilah letak tanggung jawab besar umat Islam Indonesia. Sebagai bagian dari khaira ummah, kita dipanggil untuk menyuarakan kebenaran di tengah ketidakadilan, memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, mengadvokasi keadilan di forum internasional, serta mendesak penguasa untuk mengambil tindakan nyata

Palestina: Penjajahan yang Masih Berlangsung

Baca Juga: Menteri Mansour: Pertumpahan Darah yang Tidak Beralasan Dilarang, Baik Afghanistan Maupun Pakistan

Selain Rohingya, isu Palestina juga tetap menjadi perhatian utama KUII VIII. Selama lebih dari 70 tahun, bangsa Palestina hidup di bawah penjajahan Zionis Israel. Puluhan ribu jiwa telah gugur sebagai syuhada, jutaan orang kehilangan rumah, dan Gaza menjadi salah satu tempat paling mematikan di dunia bagi anak-anak dan warga sipil.

Tentang isu Palestina, MUI dan Ormas Islam secara istiqamah memberikan dukungan penuh terhadap perjuangan Palestina, dan mendukung pemerintah dalam perjuangan diplomasi

MUI dan ormas-ormas Islam terus mendukung langkah pemerintah Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina, melalui forum OKI dan PBB.

Namun, dukungan ini tidak cukup hanya dari pemerintah. MUI dan ormas Islam juga bergerak langsung melalui berbagai program kemanusiaan/">bantuan kemanusiaan, termasuk pemberian beasiswa bagi mahasiswa Palestina.

Baca Juga: Arab Saudi dan Pakistan Bersama Jaga Makkah, Perkuat Persaudaraan

Dalam menanggapi berbgai problematika dunia, selain Rohingya dan Palestina, ada juga Nasib Muslim di Kahsmir, India, Uighur, China, dan di negara-negara yang masih terasa islamofobianya, penting untuk mendesak dan mendorong pemerintah dan unsur terkait, untuk berkeliling ke negara-negara Muslim anggota OKI untuk bersatu dalam memperjuangkan Palestina dan Muslim teraniaya.

OKI memiliki 57 negara anggota. Jika seluruhnya bersatu, kekuatan politik, ekonomi, dan diplomasi mereka akan menjadi ancaman serius bagi Zionis Israel dan pendukungnya. Namun, selama ini perpecahan internal sering melemahkan posisi kolektif OKI.

Solidaritas Global

Tentu saja, perjuangan Palestina tidak bisa hanya dibingkai sebagai konflik agama. Ini adalah konflik kemanusiaan yang melibatkan keadilan, hak-hak sipil, dan penolakan terhadap penjajahan. Dengan narasi ini, dukungan terhadap Palestina akan semakin luas, termasuk dari kalangan non-Muslim yang peduli pada keadilan.

Baca Juga: Houthi Klaim Serang Kilang Saudi Aramco di Riyadh, Apa Dampaknya bagi Dunia dan Indonesia?

Terlebih di era digital, solidaritas global menjadi lebih mudah dibangun. Kampanye-kampanye online, petisi internasional, dan gerakan boycott, divestment, sanctions (BDS) terus didorong untuk memberikan tekanan pada Zionis Israel dan sekutunya.

Dalam hal ini, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk menjadi pemimpin dalam perjuangan kemanusiaan ini:

  1. Populasi Muslim Terbesar di Dunia

Dengan lebih dari 200 juta umat Islam, potensi mobilisasi sumber daya, baik finansial, moral, maupun politik, sangat besar.

  1. Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Indonesia memiliki tradisi diplomasi yang kuat dan dihormati di dunia internasional. Suara Indonesia di forum PBB dan OKI didengar dan diperhitungkan.

Baca Juga: Dua Masjid Suci Punya Aturan Khusus Ruang Udara, Ini Penjelasan Saudi

  1. Pengalaman Sejarah sebagai Bangsa yang Terjajah

Indonesia pernah merasakan pahitnya penjajahan. Karena itu, solidaritas terhadap bangsa-bangsa yang masih terjajah adalah bagian dari identitas dan konstitusi kita.

  1. Kepemimpinan di ASEAN dan OKI

Indonesia memiliki pengaruh besar di ASEAN dan OKI. Dengan posisi ini, Indonesia dapat menggerakkan organisasi-organisasi tersebut untuk mengambil sikap dan tindakan yang lebih tegas.

Begitulah, KUII VIII 2026 mengingatkan kembali bahwa umat Islam Indonesia tidak bisa tinggal diam melihat penderitaan saudara-saudara sesame Muslim dan sesama warga dunia yang terjadi di Myanmar dan Palestina, khususnya, dan di negeri-negeri lainnya. Ini adalah panggilan khaira ummah, umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.

Allah mengarahkan umat Islam untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Itulah makna Islam rahmatan lil ‘alamin.

Baca Juga: Saudi Bantah Isu Bom Bunuh Diri di Masjidil Haram

Jika kita tidak atau kurang peduli pada nasib saudara-saudara kita yang tertindas, siapakah lagi yang akan peduli? []

Penulis, Ali Farkhan Tsani, Peserta Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII, Jakarta, 24-26 Juli 2026.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda