Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:46 WIB

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:46 WIB

58 Views ㅤ

Ilustrasi Panglima Shalahuddin al-Ayyubi. (Al Jazeera)

ADA tanggal-tanggal yang sekadar tercatat di kalender. Tetapi ada pula tanggal yang tercatat dalam sejarah umat manusia. Tanggal 2 Oktober 1187 adalah salah satunya.

Pada hari Jumat itu, bertepatan dengan 27 Rajab 583 H, setelah hampir sembilan dasawarsa berada di bawah kekuasaan Tentara Salib, Masjid Al-Aqsa, Baitul Maqdis dan Kota Al-Quds kembali ke tangan kaum Muslimin. Sultan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub, yang lebih dikenal sebagai Shalahuddin Al-Ayyubi ata Saladin, memasuki kota suci itu setelah melalui perjalanan panjang, peperangan, pengepungan, kesabaran, dan doa.

Bagi umat Islam, ini bukan sekadar kisah tentang jatuhnya sebuah kota. Ini adalah kisah tentang bangkitnya sebuah umat.

Dari Hittin menuju Kota Al-Quds. Jalan menuju wilayah itu tidak ditempuh Shalahuddin dalam sehari.

Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas

Pada 4 Juli 1187, pasukannya meraih kemenangan menentukan dalam Perang Hittin. Kekalahan pasukan Kerajaan Yerusalem membuka jalan bagi Shalahuddin untuk merebut kembali sebagian besar kota dan benteng penting di Palestina. Dalam waktu sekitar dua bulan setelah Hittin, hampir seluruh wilayah pedalaman yang sebelumnya dikuasai Kerajaan Latin berhasil direbut kembali, sementara Kota Al-Quds menjadi tujuan utama berikutnya.

Kemudian tibalah September. Pada 20 September 1187, pasukan Shalahuddin mengepung Kota Al-Quds. Pertempuran berlangsung sengit. Pasukan Muslim menekan pertahanan kota dengan pemanah, mesin pengepung, dan serangan langsung hingga akhirnya pertahanan kota mengalami keretakan.

Tetapi kemenangan itu tidak lahir semata-mata dari kekuatan pedang.

Ada kekuatan yang jauh lebih dalam. Kekuatan jiwa. Sebelum memperkuat pasukan, memperkuat hati

Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi

Shalahuddin dikenal bukan hanya sebagai panglima perang, tetapi juga sebagai seorang yang tekun beribadah.

Bahauddin bin Syaddad, seorang ulama dan sekaligus orang dekatnya yang menulis biografi Shalahuddin, menggambarkan bagaimana sang Sultan menjaga shalat berjamaah. Ia bahkan disebut tidak meninggalkan shalat berjamaah dalam waktu yang sangat panjang. Dalam kondisi sakit sekalipun, ia berusaha hadir bersama imam. Sumber tersebut juga mencatat bahwa ia menjaga shalat-shalat sunnah malam.

Di sinilah kita menemukan pelajaran penting. Shalahuddin tidak hanya membangun pasukan di medan perang. Ia membangun manusia.

Pasukan yang hanya kuat secara fisik mungkin mampu memenangkan satu pertempuran.

Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional

Tetapi pasukan yang kuat jiwanya mampu memikul perjuangan yang panjang.

Maka tahajud bukan sekadar tambahan rakaat di malam hari. Tahajud adalah sekolah kesabaran. Tahajud mengajarkan seorang pejuang bahwa sebelum menghadapi musuh di luar dirinya, ia harus menghadapi kelemahan yang bersemayam di dalam dirinya.

Sebelum pedang diangkat, hati harus ditundukkan.

Sebelum musuh dikalahkan, hawa nafsu harus dijinakkan.

Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

Sebelum sebuah kota dibebaskan, jiwa para pembebas harus dibersihkan. Membersihkan hati dari iri dan dengki

Perjuangan besar tidak akan kuat jika hati orang-orang yang memperjuangkannya dipenuhi iri, dengki, kesombongan, fanatisme kelompok, dan pertengkaran.

Karena itu, salah satu pelajaran terbesar dari perjalanan Shalahuddin menuju Al-Quds adalah pentingnya persatuan.

Sumber-sumber sejarah menggambarkan bagaimana tujuan merebut kembali Al-Quds berkaitan erat dengan upaya menyatukan kekuatan-kekuatan Muslim yang sebelumnya tercerai-berai. Bahkan kajian sejarah tentang pemulihan Kota Al-Quds oleh Shalahuddin menempatkan aspek politik, militer, demografis, dan ideologis dalam satu rangkaian.

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

Persatuan bukan berarti semua orang harus sama. Persatuan berarti perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Perbedaan pendapat tidak berubah menjadi kebencian.

Perbedaan kelompok tidak membuat satu Muslim sibuk menjatuhkan Muslim lainnya. Sebab musuh yang kuat akan semakin kuat apabila umat yang dihadapinya sibuk saling melemahkan.

Dan umat yang lemah dapat menjadi kuat apabila hati-hatinya dipertautkan oleh satu tujuan yang lebih besar.

Al-Qur’an telah mengingatkan:

Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.” (QS. Al-Anfal: 46).

Ayat ini terasa begitu dekat dengan pelajaran sejarah Baitul Maqdis. Sebab kekuatan umat bukan hanya berada pada jumlah pasukannya.

Kekuatan umat berada pada persatuan hatinya. Tahajud di malam hari, keteguhan di siang hari

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Ada manusia yang hanya mengenal perjuangan pada saat matahari terbit. Shalahuddin mengajarkan bahwa perjuangan juga dimulai ketika manusia lain sedang terlelap.

Malam menjadi tempat seorang pejuang memperbarui hubungan dengan Rabb-nya.

Dalam catatan Ibn Shaddad, Shalahuddin dikenal rajin melaksanakan shalat malam. Ia juga sangat menjaga shalat berjamaah.

Maka dapat kita pahami mengapa kekuatan seorang pemimpin seperti Shalahuddin tidak semata-mata bersumber dari strategi militer.

Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup

Ia memiliki bekal ruhani. Ia memiliki hubungan dengan Allah. Ia memahami bahwa manusia berikhtiar sekuat tenaga, tetapi kemenangan pada akhirnya berada di tangan Allah.

Karena itu Allah berfirman:

وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ

“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah.” (QS. Al-Anfal: 10).

Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi

Inilah keseimbangan yang penting. Berikhtiar tanpa doa adalah kesombongan. Berdoa tanpa ikhtiar adalah kelemahan.

Shalahuddin mengajarkan keduanya: memperkuat pasukan dan memperkuat hubungan dengan Allah.

2 Oktober 1187: Al-Aqsa kembali

Setelah pengepungan dan perundingan, akhirnya pada Jumat, 2 Oktober 1187 / 27 Rajab 583 H, Kota Al-Quds diserahkan kepada Shalahuddin.

Baca Juga: Ketika Bulan Sabit dan Venus Berdampingan di Ufuk Barat

Tanggal itu memiliki makna yang sangat kuat dalam ingatan umat Islam. Ya, 27 Rajab dikenal sebagai hari yang berkaitan dengan peristiwa Isra Mi’raj, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diperjalankan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya….” (QS. Al-Isra: 1)

Maka 27 Rajab 583 H menjadi salah satu tanggal yang sangat dikenang dalam sejarah Kota Al-Quds.

Kemudian, dilaksanakanlah shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun absen.

Masjid Al-Aqsha dan Kubah Shakhrah terlebih dahulu dibersihkan dan dipulihkan, kemudian khutbah Jumat disampaikan oleh Qadhi Muhyiddin Ibn al-Zaki pada Jumat berikutnya.

Masjid Al-Aqsha kembali dibersihkan

Setelah Kota Al-Quds berada di bawah kekuasaan Muslim, perhatian Shalahuddin segera tertuju kepada tempat-tempat suci.

Masjid Al-Aqsha dibersihkan. Kubah Shakhrah dipulihkan. Dan mimbar yang dahulu dipersiapkan oleh Nuruddin Zanki bertahun-tahun sebelumnya akhirnya ditempatkan di Masjid Al-Aqsha. Mimbar itu kemudian dikenal luas sebagai Mimbar Shalahuddin.

Seolah-olah Nuruddin telah menanam sebuah mimpi. Dan Shalahuddin datang untuk memetik buahnya.

Ada pelajaran indah di sini: Tidak semua orang yang menanam akan menyaksikan panen.

Nuruddin Zanki telah mempersiapkan mimbar untuk Al-Aqsha sebelum dirinya sempat melihatnya berada di tempat yang ia cita-citakan. Ia melanjutkan pondasi yang diban gun ayahnya, Imaduddin Zanki.

Shalahuddin kemudian melanjutkan ikhtiar itu.

Begitulah perjuangan. Ada yang menanam. Ada yang menyiram. Ada yang menjaga. Ada yang meneruskan.

Dan suatu hari, generasi berikutnya mungkin menjadi orang yang memetik buahnya.

Ketika Kota Al-Quds jatuh ke tangan Shalahuddin, ia tidak menjadikan kemenangan sebagai alasan untuk mengulangi pembantaian yang pernah terjadi ketika Tentara Salib merebut kota itu pada 1099.

Penduduk kota diberi mekanisme untuk memperoleh keselamatan melalui tebusan, dan sejumlah orang miskin serta tidak mampu akhirnya dibebaskan. Berbagai sumber abad pertengahan memberikan rincian berbeda mengenai proses tersebut, tetapi secara umum kesepakatan penyerahan kota memang disertai jaminan keselamatan dan pengaturan keluarnya penduduk.

Di sinilah kemenangan memperoleh wajah kemanusiaannya. Menang tidak harus berarti membalas. Kuat tidak harus berarti kejam. Berkuasa tidak harus berarti menindas.

Sebab seorang pemimpin yang benar-benar kuat bukan hanya mampu menundukkan lawan. Ia juga mampu menundukkan dirinya sendiri.

Apa yang dapat kita pelajari hari ini? Lebih dari delapan abad telah berlalu. Nama-nama berganti. Generasi berganti. Peta politik berubah.

Tetapi Masjid Al-Aqsa tetap menjadi bagian penting dari sejarah, iman, dan kesadaran umat Islam.

Maka kisah Shalahuddin tidak cukup hanya diceritakan sebagai kisah kepahlawanan masa lalu.

Ia harus dibaca sebagai cermin. Sudahkah kita memperkuat shalat? Sudahkah kita mengenal tahajud? Sudahkah kita membersihkan hati dari iri dan dengki?

Sudahkah kita berhenti menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan? Sudahkah kita mempererat ukhuwah? Sudahkah kita belajar bekerja bersama meskipun berbeda latar belakang?

Mungkin kita terlalu sering bertanya: “Kapan Al-Aqsha dibebaskan?”

Padahal pertanyaan yang lebih dekat kepada diri kita adalah: “Apa yang sudah saya bebaskan dari dalam diri saya?”

Membebaskan hati dari kesombongan.

Membebaskan jiwa dari iri.

Membebaskan diri dari malas beribadah.

Membebaskan lisan dari fitnah.

Membebaskan persaudaraan dari permusuhan.

Dan membebaskan diri dari ego kelompok yang membuat kita lupa bahwa kita adalah satu umat.

Shalahuddin telah menunjukkan bahwa jalan menuju Baitul Maqdis bukan hanya jalan yang dilalui pasukan. Ia juga jalan yang dilalui hati-hati yang kembali kepada Allah.

Dari 2 Oktober 1187 Menuju Masa Depan

Pada 2 Oktober 1187, Baitul Maqdis kembali. Tetapi sejarah tidak berhenti pada hari itu.

Setiap generasi memiliki tanggung jawabnya sendiri. Bukan berarti setiap orang harus menjadi prajurit. Bukan pula setiap orang harus mengangkat senjata. Ada yang berjuang dengan ilmu. Ada yang menulis. Ada yang mendidik. Ada yang berdakwah. Ada yang membantu kemanusiaan.

Ada yang membangun persatuan. Ada yang menjaga berita agar tidak tenggelam oleh propaganda. Ada yang mengenalkan Al-Aqsha kepada anak-anaknya. Dan ada yang setiap malam, dalam kesunyian tahajud, menyebut Al-Quds dalam doanya.

Karena perjuangan yang besar selalu membutuhkan banyak tangan. Dan sebelum tangan-tangan itu bekerja bersama, hati-hati harus terlebih dahulu bersatu.

Delapan abad lebih telah berlalu sejak Shalahuddin memasuki Al-Quds.

Namun pesan sejarahnya masih terdengar: Bangunlah pada malam hari. Tegakkan shalat. Bersihkan hati. Pererat persaudaraan. Satukan langkah. Lalu berikhtiarlah sekuat kemampuan.

Sebab Al-Aqsa tidak hanya membutuhkan orang-orang yang ingin melihatnya bebas. Al-Aqsa membutuhkan generasi yang layak memikul amanah kebebasan itu. Dan, di situlah makna terdalam dari 2 Oktober 1187.

Bukan sekadar hari ketika sebuah kota kembali.

Tetapi hari ketika sejarah menunjukkan kepada kita bahwa kemenangan besar bermula dari hati yang tunduk kepada Allah, umat yang bersatu, dan perjuangan yang tidak mengenal lelah.

Allahu Akbar! Al-Aqsa Haqquna! []

Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda