Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akses Citra Satelit di Wilayah Timur Tengah Dibatasi

Arina Islami Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 30 Agustus 2026 - 03:48 WIB

Ahad, 30 Agustus 2026 - 03:48 WIB

18 Views ㅤ

Peta Timur Tengah (wiki)

Washington, MINA – Pembatasan akses terhadap citra satelit komersial di Timur Tengah memicu kekhawatiran jurnalis dan analis bahwa informasi mengenai konflik di kawasan tersebut perlahan semakin tertutup dari publik.

Mengutip Middle East Monitor pada Sabtu (29/8), pembatasan itu terjadi setelah Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan serangan bersama ke Iran pada 28 Februari.

Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap sejumlah target di kawasan Teluk.

Planet Labs, perusahaan penyedia citra satelit asal Amerika Serikat awalnya mengumumkan penundaan distribusi citra wilayah Teluk selama empat hari, sekitar sepekan setelah serangan pertama.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Dalam beberapa hari berikutnya, penundaan tersebut diperpanjang menjadi 14 hari dan diperluas ke sebagian besar wilayah Timur Tengah.

Pada awal April, Planet Labs kemudian memberlakukan pembatasan terhadap citra berkualitas tinggi di kawasan tersebut untuk waktu yang tidak ditentukan setelah adanya permintaan dari pemerintah Amerika Serikat.

Planet Labs mengatakan keputusan itu diambil melalui konsultasi dengan pemerintah dan sejumlah pakar eksternal.

Citra komersial terbaru yang tersedia untuk publik dari kawasan Teluk kini berasal dari 9 Maret.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Perusahaan tersebut mengatakan pembatasan dilakukan karena citra satelit dikhawatirkan dapat digunakan pihak tertentu untuk menargetkan pasukan Amerika Serikat atau infrastruktur sekutunya di kawasan Teluk.

Namun, sejumlah pakar industri mempertanyakan alasan tersebut.

Mereka menilai penundaan selama dua pekan mungkin dapat mengurangi risiko penggunaan citra untuk operasi militer, tetapi tidak melihat alasan yang sama untuk pembatasan tanpa batas waktu.

Bill Greer, salah satu pendiri Common Space, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang teknologi satelit, mengatakan akses terhadap citra satelit semakin menghilang dari ruang publik.

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

Menurutnya, perkembangan tersebut dapat menyulitkan masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai situasi di wilayah konflik.

Pada 1 Juli, Planet Labs mencabut sebagian pembatasan, terutama terhadap wilayah Iran.

Namun, sebagian besar pembatasan terhadap kawasan Teluk masih diberlakukan.

Jurnalis dan analis sumber terbuka juga mempertanyakan efektivitas kebijakan tersebut.

Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya

Mereka menilai sejumlah negara yang dianggap sebagai lawan Amerika Serikat telah memiliki jaringan satelit sendiri.

Tom Brown, seorang jurnalis investigasi sumber terbuka, menyatakan skeptis bahwa pembatasan terhadap perusahaan satelit dapat mencegah pihak-pihak tersebut memperoleh informasi.

Iran diketahui memiliki satelit observasi bumi.

Dokumen yang bocor dari Korps Garda Revolusi Islam Iran juga menunjukkan bahwa Teheran menggunakan citra satelit dari China untuk kepentingan intelijen militer.

Baca Juga: Demonstrasi di New Jersey Protes Ekspor Senjata ke Israel

Iran juga mengoperasikan satelit pengamatan bumi yang diluncurkan menggunakan roket Soyuz milik Rusia.

Citra satelit selama ini menjadi salah satu sumber penting bagi jurnalis dan analis untuk memantau perkembangan konflik.

Citra tersebut dapat digunakan untuk melihat kerusakan akibat serangan, perubahan fasilitas, serta pergerakan di wilayah yang sulit dijangkau secara langsung.

Pembatasan akses terhadap citra satelit di Timur Tengah dikhawatirkan semakin menyulitkan upaya publik dan media untuk memverifikasi informasi mengenai perkembangan konflik di kawasan tersebut.[]

Baca Juga: Luksemburg Siapkan Aturan Larang Produk Permukiman Israel

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda