ADA amanah besar yang Allah titipkan ke dalam pangkuan setiap orang tua. Amanah itu bernama anak. Ia datang bukan sekadar membawa tangisan, bukan hanya menghadirkan tawa dan lelah, tetapi membawa masa depan dunia dan akhirat kita. Anak bukan milik kita sepenuhnya. Ia adalah titipan dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban: sudahkah kita menuntunnya mencintai Allah sejak kecil, atau justru membiarkannya tumbuh jauh dari Rabb-nya?
Cinta kepada Allah tidak tumbuh tiba-tiba ketika anak dewasa. Ia ditanam sejak usia dini, sejak hati anak masih bening, sebelum dunia mencoretkan banyak noda. Ketika anak kecil belajar menyebut nama Allah dengan lembut, ketika ia mengenal bahwa setiap nikmat berasal dari-Nya, di situlah benih cinta itu mulai berakar. Orang tua yang lalai menanamkannya, sejatinya sedang mempertaruhkan keselamatan anaknya di masa depan.
Anak yang cinta Allah sejak kecil adalah anak yang hatinya hidup. Ia tahu ke mana harus bergantung saat takut, kepada siapa harus bersandar saat sedih, dan kepada siapa harus bersyukur saat bahagia. Ia tidak mudah kosong meski dunia kelak berusaha menipunya. Cinta kepada Allah menjadi kompas batin yang menjaga langkahnya, bahkan ketika orang tua tidak lagi ada di sisinya.
Sayangnya, banyak orang tua sibuk mempersiapkan anak agar sukses secara duniawi, tetapi lupa menyiapkan hatinya agar selamat di akhirat. Anak dikejar nilai, prestasi, dan popularitas, namun jarang diajak mengenal Allah dengan rasa cinta. Padahal, kecerdasan tanpa iman hanya melahirkan kegelisahan. Kesuksesan tanpa Allah sering berujung kehampaan. Anak yang tak mengenal Rabb-nya akan mudah kehilangan arah, meski tampak hebat di mata manusia.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Menanamkan cinta kepada Allah bukan dengan paksaan, tetapi dengan keteladanan. Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat, bukan dari apa yang ia dengar. Ketika orang tua menjaga shalat dengan khusyuk, berdoa dengan penuh harap, dan menyebut nama Allah dalam keseharian, anak akan merekam semua itu dalam alam bawah sadarnya. Dari sanalah cinta tumbuh, tanpa perlu banyak kata.
Cinta kepada Allah juga tumbuh melalui kasih sayang. Anak yang dipeluk dengan lembut, dinasihati dengan tenang, dan ditegur tanpa merendahkan akan lebih mudah mengenal Allah sebagai Rabb Yang Maha Pengasih. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan kekerasan akan sulit memahami makna rahmat Allah. Ia mungkin mengenal hukum-Nya, tetapi tidak merasakan kasih-Nya.
Ketika anak dibiasakan bersyukur, ia sedang diajarkan mencintai Allah. Saat ia diajak melihat langit, hujan, makanan, dan tubuhnya sendiri sebagai nikmat, hatinya akan terikat kepada Sang Pemberi Nikmat. Anak yang hatinya penuh syukur akan tumbuh menjadi pribadi yang tenang, tidak mudah iri, dan tidak rakus pada dunia.
Anak yang cinta Allah sejak kecil adalah amanah dunia dan akhirat. Di dunia, ia menjadi penyejuk mata, penenang hati, dan sumber kebahagiaan orang tuanya. Di akhirat, ia berpotensi menjadi sebab terangkatnya derajat orang tua, lewat doa-doanya yang tulus dan amal shalihnya yang terus mengalir. Betapa ruginya orang tua yang hanya mewariskan harta, tetapi lupa mewariskan iman.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Mendidik anak mencintai Allah memang tidak instan. Ia membutuhkan kesabaran, doa yang panjang, dan konsistensi yang melelahkan. Namun, semua itu jauh lebih ringan dibandingkan penyesalan di kemudian hari. Tidak ada investasi yang paling menguntungkan selain menanamkan iman di hati anak sejak kecil.
Pada akhirnya, anak yang cinta Allah bukan hanya keberhasilan anak itu sendiri, tetapi keberhasilan orang tuanya dalam menunaikan amanah. Ketika kelak kita berdiri di hadapan Allah, semoga anak-anak kita menjadi saksi bahwa kita pernah berjuang mengenalkan mereka kepada Rabb mereka. Karena sejatinya, anak yang dekat dengan Allah adalah hadiah terindah bagi dunia, dan bekal paling berharga menuju akhirat.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic