Washington, MINA – Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengakhiri operasi militer “Epic Fury” terhadap Iran dan kini mengalihkan fokus pada pengamanan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebagai bagian dari perubahan strategi Washington di tengah dinamika konflik yang masih berlangsung. Anadolu melaporkan.
Rubio menegaskan bahwa fase ofensif operasi telah selesai setelah mencapai tujuan yang ditetapkan.
“Operasi telah berakhir… kami sudah menyelesaikan tahap tersebut,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (5/5) menandai berakhirnya operasi yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga telah menyampaikan kepada Kongres bahwa permusuhan dengan Iran telah dihentikan, dengan menyebut tidak ada pertempuran besar sejak gencatan senjata diberlakukan pada awal April 2026.
Langkah ini dinilai sebagai upaya menghindari eskalasi lebih lanjut sekaligus membuka peluang penyelesaian diplomatik.
Meski demikian, situasi di kawasan belum sepenuhnya stabil. Sejumlah laporan menyebutkan masih terjadi insiden serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, sementara negara-negara di kawasan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eskalasi baru.
Di sisi lain, Iran membantah tuduhan agresi dan menyatakan tindakannya merupakan respons atas tekanan militer AS.
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
Berakhirnya “Epic Fury” tidak serta-merta mengakhiri konflik secara keseluruhan, melainkan menandai pergeseran strategi dari konfrontasi terbuka menuju pendekatan pengendalian dan diplomasi.
Stabilitas kawasan, terutama terkait keamanan jalur energi global, kini sangat bergantung pada hasil negosiasi lanjutan antara Washington dan Teheran. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia
















Mina Indonesia
Mina Arabic