Dhaka, MINA – Wafatnya mantan Perdana Menteri Bangladesh, Khaleda Zia, memicu luapan duka di Negara itu. Zia, perdana menteri wanita pertama Bangladesh, meninggal dunia akibat sakit berkepanjangan, pada Selasa, 30 desember 2025, dalam usia 80 tahun.
Anggota keluarga Zia, termasuk putranya Rahman, istrinya, dan putrinya, berada di sisinya pada saat-saat terakhirnya.
Bangladesh menyatakan tiga hari masa berkabung nasional. Asif Nazrul, yang memegang jabatan Menteri Hukum dalam pemerintahan sementara, mengatakan pemakaman Zia akan diadakan pada Rabu, 31 Desember 2025, dengan shalat jenazah akan dilaksanakan di depan Gedung Parlemen setelah shalat Dzuhur. Ia akan dimakamkan di samping mendiang suaminya, mantan Presiden Ziaur Rahman yang terbunuh.
Khaleda Zia meninggal di Rumah Sakit Evercare di Dhaka, tempat ia dirawat pada 23 November dengan gejala infeksi paru-paru, menurut The Daily Star, sebuah situs berita Bangladesh.
Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi
Dokter mengatakan ia menderita sirosis hati stadium lanjut, radang sendi, diabetes, serta masalah dada dan jantung.
Pemimpin sementara negara itu, Muhammad Yunus, menyampaikan kesedihan mendalam atas meninggalnya perdana menteri yang menjabat tiga kali tersebut. Ia menggambarkannya sebagai “simbol gerakan demokrasi” dan mengatakan bahwa perjuangannya untuk membangun “demokrasi, budaya politik multipartai, dan hak-hak rakyat di Bangladesh akan selalu dikenang”.
“Saya sangat sedih dan berduka atas kematiannya,” tambahnya.
Dalam siaran televisi kepada seluruh negeri, ia mengakui bahwa ini adalah waktu yang sangat emosional bagi negara dan menyerukan ketenangan.
Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal
“Dengan rendah hati saya memohon kepada semua orang untuk tetap menjaga disiplin dalam melaksanakan segala bentuk berkabung, termasuk doa pemakaman. Saya tahu Anda semua sangat emosional saat ini,” ujarnya.
Rival politik lama Zia, Sheikh Hasina, yang masih berada di pengasingan di India setelah penggulingannya tahun lalu, juga menyampaikan belasungkawa.
“Sebagai Perdana Menteri perempuan pertama Bangladesh, dan atas perannya dalam perjuangan untuk menegakkan demokrasi, kontribusinya bagi bangsa sangat signifikan dan akan selalu dikenang. Kepergiannya merupakan kehilangan yang mendalam bagi kehidupan politik Bangladesh dan bagi kepemimpinan Partai Nasionalis Bangladesh,” kata Hasina dalam unggahan yang dibagikan secara daring oleh Partai Awami League miliknya.
Belasungkawa Dunia
Baca Juga: Pakta Pertahanan Mekah Siap Kerahkan Pasukan Hadapi Houthi
Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan bahwa ia sangat sedih atas kematian Zia dan menyampaikan belasungkawa tulus kepada keluarganya dan rakyat Bangladesh.
“Sebagai Perdana Menteri wanita pertama Bangladesh, kontribusi pentingnya terhadap pembangunan Bangladesh, serta hubungan India-Bangladesh, akan selalu dikenang,” tulis Modi di X.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan rasa duka cita yang mendalam dan menggambarkan Zia sebagai “sahabat setia Pakistan”.
Zia bermaksud mencalonkan diri sebagai anggota parlemen pada bulan Februari, ketika negara itu akan melakukan pemilihan untuk pertama kalinya sejak revolusi populer pada akhir tahun 2024 menggulingkan Hasina.
Baca Juga: Arab Saudi akan Regularkan Status Tinggal Warga Negara Ilegal Yaman
Setelah menjadi sorotan politik menyusul pembunuhan suaminya, presiden saat itu Ziaur Rahman, ia kemudian menjadi perdana menteri wanita pertama Bangladesh pada tahun 1991.
Kariernya, yang mencakup masa-masa di penjara dan tahanan rumah, ditandai oleh perseteruan sengit dengan Hasina. Ia dibebaskan dari tuduhan korupsi dan diizinkan pergi ke London untuk perawatan hanya setelah Hasina kehilangan kekuasaan.
“Pemimpin favorit kita telah tiada. Beliau meninggalkan kita pukul 6 pagi tadi,” demikian pengumuman Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) pimpinan Zia di Facebook.
Ketika berita kematiannya tersiar, kerumunan orang berkumpul di luar Rumah Sakit Evercare di Dhaka tempat Zia dirawat.
Baca Juga: Pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah Dimulai Akhir 2026
Sebagai istri mantan presiden Bangladesh, Rahman, Zia memiliki kepribadian yang lebih tertutup di samping suaminya yang terkenal. Ketika suaminya terbunuh dalam kudeta militer pada tahun 1981, Zia terjun ke dunia politik dan kemudian memimpin BNP dalam pemilihan umum pertama di negara itu dalam 20 tahun.
Dikenal sebagai “pemimpin yang tidak kenal kompromi” setelah menolak untuk berpartisipasi dalam pemilihan kontroversial di bawah pemerintahan militer Jenderal Hussain Muhammad Ershad pada tahun 1980-an, Zia berhasil menembus lanskap politik yang didominasi laki-laki dan berubah menjadi salah satu pemimpin politik paling tangguh di Bangladesh.
Masa jabatan pertamanya dipuji secara luas atas upaya untuk meningkatkan pendidikan perempuan dan pembangunan sosial, dengan pemerintahannya mengembalikan demokrasi parlementer melalui amandemen konstitusi dengan dukungan bipartisan.
Masa jabatan keduanya pada tahun 1996, yang hanya berlangsung beberapa pekan, menuai kritik karena menyelenggarakan pemilihan sepihak meskipun ada tuntutan oposisi untuk otoritas sementara yang netral, sebuah langkah yang disetujui parlemen sebelum dibubarkan.
Baca Juga: Menteri Mansour: Pertumpahan Darah yang Tidak Beralasan Dilarang, Baik Afghanistan Maupun Pakistan
Zia kembali menjabat sebagai perdana menteri pada tahun 2001, dan mengundurkan diri pada Oktober 2006 menjelang pemilihan umum. Pemerintahannya menghadapi kritik tajam atas tuduhan korupsi.
Selama 16 tahun terakhir, di bawah pemerintahan Liga Awami, Zia menjadi simbol perlawanan paling menonjol terhadap pemerintahan Hasina yang oleh banyak orang dianggap semakin otokratis.
Ia memboikot pemilu 2014 setelah saingannya, Hasina, menghapus sistem pemerintahan sementara, sebuah ketentuan yang dimaksudkan untuk memastikan netralitas selama pemilihan nasional. Kemudian, Zia dihukum atas tuduhan korupsi dan dipenjara. Ia membantah melakukan kesalahan dan mengatakan tuduhan itu bermotivasi politik.
Dia dibebaskan pada Januari 2025, tak lama setelah protes anti-pemerintah besar-besaran di Bangladesh menggulingkan Hasina, memaksanya mengasingkan diri ke India. Sejak itu, dia telah divonis dan dijatuhi hukuman mati atas kejahatan terhadap kemanusiaan karena tindakannya menindak protes tersebut.
Baca Juga: Arab Saudi dan Pakistan Bersama Jaga Makkah, Perkuat Persaudaraan
Pada bulan November, BNP menyatakan bahwa Zia akan berkampanye dalam pemilihan umum mendatang. Partai tersebut mengincar kembali kekuasaan, dan jika itu terjadi, putra Zia, Tarique Rahman, diperkirakan akan menjadi pemimpin baru negara itu.
Puteranya, Rahman (60 tahun), baru kembali ke Bangladesh pekan lalu setelah 17 tahun mengasingkan diri di London.
Zia telah dirawat di rumah sakit selama sebulan terakhir, menerima perawatan untuk kerusakan ginjal, penyakit jantung, dan pneumonia, di antara kondisi lainnya.
Meskipun dijauhkan dari kehidupan publik karena masalah kesehatannya, Zia tetap menjadi tokoh penting bagi kekuatan oposisi.
Baca Juga: Houthi Klaim Serang Kilang Saudi Aramco di Riyadh, Apa Dampaknya bagi Dunia dan Indonesia?
“Kami berdoa agar arwahnya diampuni dan meminta semua orang untuk mendoakan arwahnya yang telah meninggal,” kata partai BNP-nya dalam pernyataan mereka pada hari Selasa. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Dua Masjid Suci Punya Aturan Khusus Ruang Udara, Ini Penjelasan Saudi
















Mina Indonesia
Mina Arabic