Jakarta, MINA – Acara Bedah Berita MINA (BBM) di Radio Silaturahim (Rasil) Jumat (10/4) malam ini akan hadir dengan tema “Gencatan Senjata Iran-AS: Peluang Perdamaian, Namun Rapuh,” bersama Sajadi dan Widi Kusnadi, jurnalis Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency).
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang baru berjalan hitungan hari mulai menunjukkan keretakan serius. Meskipun disambut sebagai peluang penting menuju perdamaian, realitas di lapangan justru memperlihatkan bahwa kesepakatan ini berada di atas fondasi yang sangat rapuh dan berpotensi runtuh sewaktu-waktu.
Di atas kertas, gencatan senjata tampak menjanjikan. Iran bahkan mengajukan proposal 10 poin yang mencakup penghentian agresi, pengakuan hak pengayaan uranium, hingga pencabutan sanksi. Namun, di balik kerangka diplomasi itu, ketegangan justru terus meningkat.
Masalah utama bukan hanya terletak pada isi kesepakatan, tetapi pada perbedaan persepsi yang mendasar. Seorang pejabat senior AS menyebut proposal Iran tidak sepenuhnya sejalan dengan apa yang disepakati Washington. Perbedaan tafsir ini menjadi sinyal awal bahwa diplomasi berjalan di atas fondasi yang belum solid, dan rasa saling percaya sudah tergerus bahkan sebelum negosiasi lanjutan dimulai.
Baca Juga: MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo, Terkait Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka mempertanyakan komitmen Amerika. Ia menilai dasar kesepakatan telah dilanggar, sehingga pembicaraan lanjutan menjadi “tidak masuk akal”.
Tiga hal utama yang dipersoalkan Teheran adalah:
1. Serangan yang masih berlangsung di Lebanon.
2. Pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone.
3. Serta penolakan atas hak Iran dalam pengayaan uranium.
Jika tuduhan ini benar, maka gencatan senjata ini bukanlah kesepakatan bersama, melainkan sekadar kesepahaman yang dipaksakan.
Baca Juga: Aktivis Ilustrasikan Gempa, Rasakan Getaran Bom di Palestina
Israel, Faktor Pengganggu Keseimbangan
Di tengah upaya meredakan konflik, langkah Israel justru memperumit situasi. Serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk di pusat kota Beirut, menjadi titik balik yang memperlihatkan rapuhnya kesepakatan. Lebih dari 250 orang dilaporkan tewas dalam satu hari, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir.
Israel berargumen bahwa operasinya di Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata Iran-AS. Pernyataan ini didukung oleh pejabat Amerika yang secara implisit memisahkan konflik menjadi beberapa medan berbeda. Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah gencatan senjata ini benar-benar menghentikan perang, atau hanya memindahkan medan tempurnya?
Ketegangan tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga di jalur ekonomi strategis. Penutupan kembali Selat Hormuz, meskipun bersifat sementara, menunjukkan bahwa Iran masih memegang kartu penting. Langkah ini langsung memicu kekhawatiran global karena jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi energi dunia.
Baca Juga: Pimpinan Hidayatullah: Sampai Kapan Bela Palestina? Sampai Palestina Merdeka!
Gedung Putih bahkan menyebut tindakan itu sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”. Konflik ini bukan lagi hanya soal keamanan kawasan, tetapi juga stabilitas ekonomi global.
Di tengah situasi yang tidak menentu, sejumlah pihak internasional masih mencoba menjaga optimisme. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mendesak semua pihak menahan diri, sementara para pemimpin Eropa dan tokoh dunia menyerukan penyelesaian damai. Bahkan Paus Leo menyebut momen ini sebagai “harapan nyata”. Namun, harapan itu tampak berdiri di atas realitas yang rapuh.
Di Teheran, warga mulai kembali beraktivitas, meski bayang-bayang ketakutan belum sepenuhnya hilang. Ketenangan yang muncul lebih menyerupai jeda, bukan kepastian.
Gencatan senjata Iran-AS saat ini lebih tepat dibaca sebagai jeda strategis, bukan solusi permanen. Perbedaan tafsir, pelanggaran di lapangan, serta keterlibatan aktor lain seperti Israel menunjukkan bahwa konflik ini belum menemukan titik temu yang utuh.
Baca Juga: Wakil Ketua MUI Serukan “Bocelli No, Palestina Yes!” dan Bacakan Fatwa Dukungan Palestina
Jika diplomasi gagal menyatukan kepentingan yang saling bertabrakan, maka masa tenang ini berpotensi menjadi awal dari eskalasi baru yang lebih luas. Pada titik itu, dunia tidak lagi bertanya siapa yang menang, melainkan seberapa besar kerugian yang harus ditanggung bersama.
BBM ini akan disiarkan langsung di Rasil 720 AM dan akan disiarkan ke beberapa radio di daerah, seperti di Batam, Palembang, Yogyakarta, Sukabumi, Banyuwangi, Pontianak dan lainnya.
Pendengar juga dapat mendengarkan secara online melalui live streaming radio silaturahim.com.
Pendengar setia Rasil yang ingin berinteraksi dengan nara sumber dapat menghubungi host Rasil di nomor WhatsApp 08111999720. []
Baca Juga: Ketua Presidium AWG Bacakan Ulang Ikrar Pembebasan Al-Aqsa 20 Tahun Silam di Monas
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic