Di tengah arus globalisasi teknologi pendidikan, kisah seorang perempuan asal Mesir mencuri perhatian. Noha Gharib Ahmed, peneliti seni dan budaya, menghadirkan jembatan kultural antara Mesir dan Indonesia melalui inovasi teknologi.
Dengan latar akademik seni musik, ia mendedikasikan diri untuk memperkenalkan gamelan Jawa ke dunia Arab lewat aplikasi berbasis Augmented Reality (AR) bernama MNI Gamelan Jawa.
Noha merupakan lulusan Sarjana Seni Musik Universitas Helwan, Mesir. Ketertarikannya pada Indonesia membawanya melanjutkan studi Magister Seni Musik dan Budaya di Universitas Negeri Yogyakarta, yang ia selesaikan dengan predikat cumlaude.
Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Universitas Negeri Jakarta. Sejak 2022, Noha menetap di Indonesia dan fokus mengembangkan teknologi pembelajaran budaya yang inklusif dan lintas negara.
Baca Juga: Belajar Tidak Harus Berhenti Meski Sudah Berkeluarga
Berawal dari Pembelajaran Bahasa Indonesia
Ketertarikan Noha terhadap Indonesia bermula ketika ia mengikuti program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) secara daring dari Mesir. Dalam salah satu materi praktik seni budaya, ia menemukan kendala akses terhadap gamelan/">aplikasi gamelan di kawasan Timur Tengah.
“Waktu itu gamelan/">aplikasi gamelan tidak tersedia di kawasan Timur Tengah, khususnya Mesir. Dari situ saya terpikir: kenapa tidak membuat sendiri?” kenangnya kepada MINA, Sabtu (13/12).
Pilihan Noha jatuh pada gamelan karena nilai yang dikandungnya tidak sekadar musikal, tetapi juga sarat makna. Ia menilai gamelan Jawa memiliki kedekatan filosofis dengan budaya Arab, seperti nilai harmoni, kebijaksanaan, kedisiplinan, dan semangat kolektif.
“Nilai moral gamelan sangat bagus dan sesuai dengan nilai budaya Arab. Saya melihat ini bisa membangun karakter generasi baru,” ujarnya.
Baca Juga: Mitos Bantuan untuk Wanita Bercerai pada Era Genosida Israel di Gaza
Baginya, gamelan adalah identitas Indonesia. Mengenalkannya berarti membuka jalan untuk memahami Indonesia secara lebih utuh.
“Gamelan itu khas Indonesia, Itu membuat saya ingin melestarikannya dengan mudah khususnya di Timur Tengah,” kata Noha.
Dari Mesir untuk Indonesia dan Dunia
Nama MNI dipilih bukan tanpa makna. Selain singkatan dari Musik Nusantara Indonesia, ia juga merepresentasikan dua negeri yang hidup di hati Noha: Mesir dan Indonesia.
Melalui teknologi AR, aplikasi MNI Gamelan Jawa memungkinkan pengguna memainkan instrumen gamelan dalam bentuk visual 3D yang interaktif. Pendekatan ini menjadi solusi atas mahalnya biaya dan kompleksitas logistik pengadaan gamelan fisik di luar negeri.
Baca Juga: Benarkah Ibu Hamil Baca Surah Yusuf Bayinya Jadi Tampan?
Cukup dengan gawai, masyarakat Timur Tengah dapat belajar dan merasakan pengalaman bermain gamelan.
Aplikasi ini juga dikembangkan sebagai media edukasi budaya. Dukungan tiga bahasa -Arab, Indonesia, dan Inggris-membuatnya ramah bagi pelajar internasional, khususnya anak-anak di Timur Tengah.
Pengguna bahkan dapat mengikuti praktik bermain gamelan secara daring bersama pengajar dari Indonesia. Tak heran, MNI Gamelan Jawa mulai relevan dengan kurikulum sekolah internasional di Mesir yang mengadopsi pembelajaran budaya global.
Buku, Anak-Anak, dan Pelestarian Budaya
Komitmen Noha terhadap pelestarian indonesia/">budaya Indonesia juga diwujudkan melalui karya tulis.
Baca Juga: Hari ASI Sedunia 2026: Fakta Penting yang Perlu Diketahui Setiap Orang Tua
Ia menyusun buku panduan berjudul “Warisan Dunia Gamelan Jawa” yang ditujukan bagi para guru di Timur Tengah. Buku ini memuat panduan penggunaan aplikasi, pengenalan instrumen, sejarah, filosofi, hingga nilai moral gamelan, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada aspek teknis semata.
Selain itu, Noha menulis buku cerita anak berjudul “Keajaiban Nusantara di Mata Pemuda Mesir”. Dengan ilustrasi menarik dan integrasi langsung dengan aplikasi AR, buku ini mengajak anak-anak menjelajahi kebudayaan Indonesia secara interaktif. Kisahnya mengaitkan sejarah panjang Mesir dan Indonesia sebagai dua peradaban besar yang dipertemukan oleh semangat saling mengenal.
Perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Selama lebih dari 1,5 tahun, Noha berjuang mengembangkan aplikasi dan buku di tengah keterbatasan finansial. Dalam prosesnya, ia bahkan sempat mengalami penipuan oleh pengembang sebanyak dua kali.
Belum Sempurna, Tapi Siap Dikembangkan
Saat ini, aplikasi MNI Gamelan Jawa sudah dapat digunakan meski masih memerlukan penyempurnaan. Noha berencana menambah fitur, memperluas jangkauan AR, dan menyiapkan akses internasional yang lebih stabil, semua itu membutuhkan dukungan pendanaan.
Baca Juga: Hentikan Kebiasaan Ini Agar Perkembangan Sensorik Anak Berkembang Lebih Optimal!
Ia berharap aplikasinya dapat dimanfaatkan oleh perwakilan Indonesia di luar negeri sebagai sarana diplomasi budaya yang praktis. Tanpa harus membawa seperangkat gamelan, promosi budaya dapat dilakukan cukup melalui aplikasi.
“Saya benar-benar membutuhkan partner, sponsor, atau dukungan, misalnya dari Kementerian Kebudayaan Indonesia, agar ide ini bisa berkembang. Saya ingin ini menjadi media resmi mengenalkan indonesia/">budaya Indonesia di kancah internasional,” harapnya.
Bagi Noha, MNI Gamelan Jawa adalah wujud cinta yang tulus kepada Indonesia.
“Saya orang Mesir yang sangat cinta Indonesia. Itulah kenapa saya membuat MNI (Musik Nusantara Indonesia, Mesir dan Indonesia)” katanya.
Melalui inovasi gamelan berbasis AR yang lahir dari perjuangan personal, Noha Gharib Ahmed membuktikan bahwa kecintaan pada Indonesia dapat tumbuh dari mana saja. Kini, ia menanti dukungan berbagai pihak agar gamelan Indonesia dapat bergema ke seluruh dunia.[]
Baca Juga: Sebotol Parfum untuk Al-Aqsa
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic