Oleh Moehammad Amar Ma’ruf, Diplomat Karier Kementerian Luar Negeri RI
Satu per satu ataupun berkelompok warga desa datang perlahan di sekitar sebuah bangunan sederhana yang halaman depan dan sekelilingnya tampak rapi. Bangunan itu telah berdiri sejak 100 tahun lebih.
Banyak yang datang dengan penampilan sangat sederhana, tetapi dengan wajah yang memancarkan tanda ketulusan, keakraban dan persahabatan bahkan persaudaraan. Lambat laun suasana yang awalnya lengang berhikmad menjadi hangat dan bersemangat.
Kebanyakan dari mereka yang datang adalah sosok lansia dan sejumlah anak-anak. Mereka datang dari sudut-sudut sebuah desa yang bernama Desa Kaduranca.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Desa Kaduranca terletak di kaki Gunung Cihujan atau Gunung Rangkong. Sebuah daerah perbukitan dengan lingkungan yang cukup asri yang kini di kawasan tertentu di lereng bukit tersebut mulai dijadikan obyek wisata alam bagi publik seantero wilayah Kabupaten Serang, Banten dan bahkan dari luar Banten.
Kedatangan mereka atas sebuah undangan pemberitahuan dari anggota masyarakat di wilayah tersebut bahwa akan ada kegiatan pembagian hewan kurban yang pelaksanaannya akan dilakukan di bangunan berusia tua dan bersejarah tersebut.
Sebagian dari warga telah mengetahui tentang bangunan tersebut sejak masa kecil atau remaja. Mereka pun mengetahui bahwa bangunan tersebut adalah milik seorang sesepuh warga Kaduranca, Kecamatan Padarincang yang dikenal sangat ramah dan akrab dengan para orangtuanya.
Sosok tersebut adalah Almarhum Ki Haji Sjafawi atau yang dikenal luas dengan sebutan Abah Pawi. Abah Pawi ini pun memiliki istri yang tinggal di rumah tersebut yang bernama Ummi Kultsum. Warga desa ketika itu mengenalnya dengan nama Bu Kultsum.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Dulu ketika mereka muda, mereka menjadikan keluarga Abah Pawi dan Bu Kultsum ini sebagai tempat ngariung dan berkarya bersama. Mereka membahas dan melakukan hal-hal yang menyangkut masalah pembinaan masyarakat dan bertanya tentang hal-hal terkait perkebunan dan pertanian, serta berembuk tentang masalah pelindungan hutan sekitar Gunung Rangkong. Penduduk Desa Kaduranca sangat bergantung dari kelestarian gunung dan wilayah mereka.
Sehingga bagi mereka yang datang, sosok dan bangunan itu memunculkan nostalgia lama, mengingat keindahan masa kecil dan remaja serta lingkungan hijau yang asri bersama para penghuni bangunan rumah tersebut.
Kini mereka pun menyadari bahwa waktu itu telah berlalu dan kini bangunan tersebut telah berubah menjadi sebuah Panti Asuhan dan Rumah Tahfiz yang diberi nama Panti Asuhan Ummi Kultsum (PAUK Ummi Kuktsum).
Tak terasa di hari itu bangunan PAUK kembali diramaikan dan dihangatkan oleh suasana haru bercampur kegembiraan, mengingat ini merupakan momen yang jarang mereka lakukan lagi bersama dan kembali berjumpa dengan saudara-saudara lama mereka yang kini sudah beranak pinak.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Namun, di sela itupun mereka menyadari, banyak di antara mereka yang sudah wafat, begitupun dari keturunan-keturunan mereka yang telah mendahului ataupun berpisah untuk sebuah alasan ekonomi guna mempertahankan kehidupannya yang bisa dikatakan semakin sulit dan terbatas.
Kenapa demikian? Disadari, upaya yang telah dilakukan dan dirintis oleh orangtua mulai banyak menghadapi tantangan, khususnya tantangan yang non alam dan akibat perbuatan tangan oknum manusia sendiri.
Banyak dari keturunan mereka ataupun anggota keluarga/anak/cucu mereka yang telah menjadi yatim/piatu.
Semakin dekat kita menyambut mereka, semakin terlihat kesederhanaan mereka bahkan keterbatasan ekonominya.
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Namun di balik itu, mereka semua sebenarnya membawa obat bagi jiwa-jiwa yang rapuh dan tidak sempurna dibandingkan dengan kami khususnya.
Mereka dalam kesederhanaannya menampakkan ketegaran, kegigihan dan semangat untuk terus belajar dan menjaga kehormatan hati pikiran mereka.
Dalam sebuah dialog yang dibangun, mereka saling bercerita dan membagi pengalaman, serta yang paling membahagiakan adalah mereka menjaga warisan bacaan Al-Qur’an yang senantiasa membuat hati dan pikiran mereka terjaga.
Hal tersebut semakin terungkap, khususnya terkait kehidupan keseharian keluarga mereka, ketika cucu Abah Pawi dan Bu Kultsum mengajak mereka untuk berbagi pengalaman terkait kehidupan sosok pemuda dan orang tua yang renta, yang hanya bergantung pada kesalehan anaknya dan di dalam upaya mereka menjaga ingatan kolektif diri dan keluarga mereka dalam menjaga hafalan-hafalan dan doa-doa yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist, merski hanya surat-surat pendek.
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
Dalam kesenioran/keuzuran usia mereka, mereka masih mampu memperdengarkan hafalan Al-Qur’an kepada kita semua yang hadir. Semuanya menunjukkan antusiasme untuk turut melafazkan surat-surat pendek yang tersimpan dan menjadi teman dalam kalbu dan pikirannya. Sehingga ketika mereka diajak untuk berdialoq tentang Al-Qur’an, mereka sangat serius seraya menunjukkan kelucuannya dikarenakan mimik wajah dan gerak tubuh mereka yang tidak lagi muda.
Sementara hal yang membanggakan pun terlihat dari kalangan anak-anak, banyak di antara mereka yang menunjukkan kefasihannya dengan gaya yang lucu, membuat suasana bangga terpancar dari para hadirin, khususnya dari orangtua mereka yang tidak lagi mempunyai suami/istri. Mereka sebagai single parent terlihat bangga melihat anaknya bisa membaca dengan baik sehingga para hadirin terlihat gembira.
Sungguh di hari itu, yakni di Hari Raya Kurban 1447 H (27/05/26), putra putri cucunda/cicinda Abah Pawi dan Bu Kultsum tertuntun untuk menjadikan hari itu menjadi hari yang memberikan sebuah kegembiraan bagi para hadirin dengan hikmah dari lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, serta doa kebaikan bagi para pendahulu, orangtua dan seluruh anggota keluarga yang telah tiada. Mereka pun tidak lupa untuk mendoakan bagi sesama bangsa, khususnya mereka yang tertindas dalam sebuah penjajahan baik fisik maupun non fisik.
Mereka, para warga lansia dan para yatim piatu telah memberikan obat yang hakiki dan memberikan pemahaman akan arti sebuah ibadah kurban. Berkurban bagi sebuah persaudaraan dan perkerabatan lintas generasi yang dibingkai dalam sebuah kesederhanaan dan kesahajaan sosok warga Desa Kaduranca, Kecamatan Padarincang, Banten.
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
Semoga mereka tidak hanya menjadi obat bagi pengelola PAUK Ummi Kultsum, tetapi juga bagi lingkungan sekitar melalui Dialoq Qurban yang benar-benar telah membuka mata hati kita akan arti qurban yang sesungguhnya. Sebuah Dialog Qurban yang memperkuat kekuatan pemikiran dan ketaatan kita atas hikmah kurban yang diperintahkan oleh Sang Khalik melalui Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘Alaihimussalam.
Wallahu ‘alam bish shawwab.
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak
















Mina Indonesia
Mina Arabic