ADA SATU pemandangan yang membuat hati seorang tua terasa hangat. Bukan melihat anaknya kaya raya. Bukan melihat cucunya lulus dari universitas ternama. Bukan melihat keturunannya memakai pakaian mahal dan mobil mewah.
Tapi saat mata yang mulai kabur ini melihat cucu kecilnya berdiri tegak, mengangkat tangan, lalu rukuk dan sujud, shalat.
Di situlah hati orang tua pasti bergetar. Bukan karena bangga di mata manusia, tetapi karena ia tahu, anak cucu seperti itu hakikatnya sedang membangun istana untuk orang tuanya di akhirat.
Shalat, Tiang Agama yang Tak Boleh Roboh
Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ
“Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” (H.R. Tirmidzi).
Jika tiang roboh, maka seluruh bangunan akan rapuh dan runtuh. Begitu pula agama. Jika shalat ditinggalkan, maka yang lain pun akan longgar. Iman akan goyah. Hati akan gelap. Kehidupan akan kehilangan arah.
Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi
Karena shalat bukan sekadar gerakan. Ia adalah percakapan hamba dengan Tuhannya. Ia adalah pengingat di tengah hiruk-pikuk dunia. Ia adalah tali yang tak pernah putus antara langit dan bumi.
Maka betapa ruginya seorang anak yang tumbuh tanpa shalat. Dan betapa pedihnya hati orang tua yang melihat keturunannya meninggalkan tiang agama.
Doa Nabi Ibrahim untuk Anak yang Mendirikan Shalat
Di sinilah kita belajar dari orang tua yang agung untuk anak-anak dan leturunannya.
Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional
Nabi Ibrahim Alaihis Salam, setelah dianugerahi anak di usia senja, tidak berhenti berdoa. Ia tidak hanya meminta anak yang saleh secara umum. Ia meminta sesuatu yang sangat spesifik. Sesuatu yang menjadi tanda kesalehan yang sebenarnya:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat, dan juga keturunanku. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).
Nabi Ibrahim tidak meminta anaknya menjadi kaya, terkenal dan pejabat. Tetapi ia meminta agar menjadikan anak keturunannya menjadi orang-orang yang mendirikan shalat.
Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata
Karena Nabi Ibrahim tahu, jika seorang anak mendirikan shalat, maka Allah akan menjaga seluruh urusannya. Rezeki akan mengalir. Hati akan tenang. Akhlak akan mulia. Kehidupan akan berkah. Dan yang paling penting, anak yang shalat akan menjadi investasi yang tak pernah putus.
Ada satu rahasia besar yang mungkin jarang kita sadari. Ketika seorang anak shalat, lalu ia membaca Al-Fatihah, di dalamnya ada doa untuk orang tua. Ketika ia sujud, ia dekat dengan Allah, lalu ia mendoakan ayah dan ibunya yang telah tiada. Ketika ia bangun malam untuk tahajud, ia menyebut nama orang tuanya dalam doa. Dan setiap pahala shalat anak itu, pahalanya mengalir juga untuk orang tuanya.
Itulah anak yang istiqamah menjaga shalat. Ia adalah hadiah terindah buat orang tuanya.
Maka, jangan pernah lelah berdoa. Saat anak kita masih kecil, genggam tangannya dan ajarkan shalat. Saat ia mulai malas, jangan hanya memarahi, tetapi berdoalah di belakang punggungnya.
Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital
Dan setiap malam, setelah shalat tahajud, panjatkan doa ini dengan hati yang luluh.
Semoga Allah menjadikan anak-anak dan cucu-cucu kita hingga ke ujung keturunan, sebagai orang-orang yang istiqamah mendirikan dan menjaga shalat.
Semoga juga Allah selalu memberikan bimbingan kepada anak keturunan kita agar merasakan manisnya shalat, sehingga mereka menjalankannya bukan karena terpaksa, tetapi karena rindu kepada Sang Pencipta, Allah ta’ala. Aamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa
















Mina Indonesia
Mina Arabic