Teheran, MINA – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Israel bertepatan dengan perayaan Yahudi Passover, yang disebut sebagai salah satu gelombang serangan terberat sejak konflik meningkat pada awal tahun ini.
Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari respons atas agresi militer Israel. Ia menggambarkan kondisi warga Israel yang harus berlindung di bunker akibat sirene serangan yang terus berbunyi sebagai “hadiah” dari kebijakan pemerintah Israel sendiri.
Menurut pernyataan resmi IRGC, serangan itu merupakan gelombang ke-89 dalam operasi militer bertajuk “True Promise 4”. Dalam operasi tersebut, Iran menembakkan sekitar 100 rudal berat dan drone, disertai ratusan roket yang menyasar target militer Israel dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Asia Barat.
Sejumlah wilayah yang menjadi sasaran di antaranya Eilat, Tel Aviv, dan Bnei Brak. Sumber lokal melaporkan terjadinya kerusakan signifikan di beberapa titik, terutama pada fasilitas militer dan infrastruktur strategis. Pemerintah Israel bahkan menyebut serangan ini sebagai salah satu yang paling intens dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Serangan tersebut menjadi bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas antara Iran, Israel, dan sekutunya. Dalam beberapa hari terakhir, IRGC juga mengklaim berhasil menghantam berbagai target militer, termasuk sistem radar dan fasilitas pertahanan di kawasan Teluk, serta kapal yang terkait dengan Israel di perairan regional.
Momentum serangan yang bertepatan dengan hari besar keagamaan memiliki dimensi psikologis sekaligus strategis, yang bertujuan meningkatkan tekanan terhadap Israel.
Sementara itu, komunitas internasional terus menyerukan de-eskalasi konflik, mengingat meningkatnya risiko perang regional yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas Timur Tengah dan keamanan global. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
















Mina Indonesia
Mina Arabic