Paris, MINA – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa tidak hanya memecahkan rekor suhu, tetapi juga mengganggu berbagai sektor vital, mulai dari transportasi, pasokan listrik, layanan kesehatan, hingga aktivitas pertanian.
Sejak 20 Juni, suhu di berbagai wilayah Eropa terus meningkat hingga menembus 40 derajat Celsius. Jerman, Polandia, Republik Ceko, Denmark, dan Hungaria mencatat rekor suhu baru, bahkan di beberapa wilayah Jerman temperatur dilaporkan melampaui 41 derajat Celsius.
Kondisi tersebut memaksa sejumlah operator kereta api mengurangi layanan karena rel berisiko mengalami deformasi akibat panas, sementara layanan trem di beberapa kota dihentikan sementara demi alasan keselamatan. MEMO melaporkan, Senin (29/6).
Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan sektor energi. Di Prancis dan Swiss, beberapa reaktor listrik tenaga nuklir mengurangi kapasitas operasinya karena suhu air sungai yang digunakan sebagai pendingin meningkat.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Di Italia, berkurangnya debit Sungai Po menyebabkan intrusi air laut yang meningkatkan kadar garam dan mengancam lahan pertanian. Gangguan pada sistem energi dan transportasi tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi infrastruktur Eropa akibat suhu ekstrem.
Sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling terdampak. Rumah sakit di berbagai negara melaporkan peningkatan jumlah pasien akibat dehidrasi, serangan panas (heat stroke), dan komplikasi penyakit kronis.
Otoritas kesehatan Prancis bahkan mencatat sekitar 1.000 kematian berlebih selama periode gelombang panas, dengan mayoritas korban merupakan kelompok lanjut usia.
Sementara itu, World Health Organization memperingatkan sekitar 150 juta penduduk kini hidup dalam kondisi panas ekstrem yang berpotensi memicu krisis kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Gelombang panas tahun ini diperparah oleh fenomena heat dome, yaitu tekanan udara tinggi yang memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi selama beberapa hari.
Namun, mereka menegaskan bahwa fenomena alam tersebut saja tidak cukup menjelaskan tingginya suhu yang terjadi.
Perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca dinilai membuat kejadian panas ekstrem menjadi jauh lebih sering dibandingkan dua dekade lalu, sehingga peristiwa seperti ini diperkirakan akan terus berulang dengan intensitas yang semakin besar apabila emisi global tidak ditekan.
Organisasi meteorologi memperkirakan pusat gelombang panas kini bergeser menuju Eropa Tengah dan kawasan Balkan.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Meskipun suhu mulai menurun di sebagian wilayah Eropa Barat, para ahli mengingatkan dampaknya terhadap kesehatan, sistem energi, dan infrastruktur diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon semakin mendesak untuk dilakukan di tingkat global. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic