Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰىۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۚ فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَاُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُدْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ ثَوَابًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَابِ ١٩٥ (ال عمران [٣]: ١٩٥)
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
“Maka, Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan perbuatan orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Maka, orang-orang yang berhijrah, diusir dari kampung halamannya, disakiti pada jalan-Ku, berperang, dan terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai sebagai pahala dari Allah. Di sisi Allahlah ada pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3]: 195)
Ayat di atas merupakan salah satu bentuk penghargaan Islam terhadap perjuangan kaum perempuan. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan, ayat tersebut turun setelah shahabiyah (sahabat wanita) Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam, mengapa kaum perempuan tidak disebut secara khusus dalam konteks hijrah sebagaimana kaum laki-laki.
Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha menanggung beban berat ketika hendak hijrah. Ia harus berpisah dari suami dan anaknya. Kisah tersebut diriwayatkan dalam berbagai kitab sirah, menunjukkan bahwa perempuan juga menanggung penderitaan besar dalam awal-awal perjuangan Islam.
Allah Ta’ala kemudian menjawab dengan firman-Nya dalam ayat di atas. bahwa yang menjadi ukuran di sisi-Nya bukan jenis kelamin, melainkan keimanan, keikhlasan, dan pengorbanan dalam menegakkan agama-Nya.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Kalimat بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۚ (sebagian kamu adalah keturunan yang berasal dari sebagian yang lain). menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah mitra yang saling melengkapi dalam mengemban amanah perjuangan Islam.
Syaikh Yusuf Al-Qaradawi Rahimahullah menegaskan, bahwa perempuan merupakan mitra strategis dalam dakwah dan kebangkitan umat sejak zaman permulaan Islam hingga hari ini. Karena itu, hijrah dalam perspektif gender bukanlah tentang persaingan antara laki-laki dan perempuan, melainkan tentang kebersamaan dalam perjuangan yang pahalanya dijamin Allah tidak akan pernah sia-sia.
Al-Qur’an tidak memandang wanita sebagai kelompok marginal dalam sejarah dakwah, melainkan sejajar kedudukannya dengan kaum pria.
Pengakuan Al-Qur’an terhadap Perjuangan Wanita
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Di balik peristiwa hijrah Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dari Makkah ke Madinah, terdapat peran besar para wanita luar biasa. Mereka bukan sekadar saksi sejarah, melainkan menjadi bagian penting dari mata rantai perjuangan yang mengantarkan lahirnya masyarakat Islam di Madinah.
Perempuan pada masa awal Islam ikut menanggung penderitaan, menghadapi intimidasi, meninggalkan kampung halaman, bahkan berpisah dengan keluarga demi mempertahankan keimanan. Mereka mengorbankan harta, kenyamanan, dan perasaan sebagaimana dialami kaum laki-laki.
Sayyid Qutb dalam kitabnya Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan bahwa hijrah pada masa awal perjuangan Islam merupakan proses melepaskan diri dari tekanan jahiliyah menuju kehidupan yang dibangun di atas keimanan. Hal itu merupakan sebuah perjuangan yang menuntut pengorbanan dari seluruh elemen umat, baik laki-laki maupun perempuan.
Peristiwa hijrah sesungguhnya membuktikan bahwa di balik setiap langkah besar dakwah Rasulullah SAW, selalu ada wanita-wanita yang berdiri teguh memberikan dukungan dan pengorbanan tak ternilai bagi umat sepanjang zaman.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Khadijah, Benteng Pertama Risalah Islam
Jauh sebelum peristiwa hijrah mengguncang sejarah dan mengubah wajah peradaban manusia, perjuangan Islam telah lebih dahulu ditopang oleh seorang perempuan agung bernama Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu ‘anha. Jika Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam adalah pembawa risalah, maka Khadijah adalah orang pertama yang berdiri di samping beliau, menguatkan langkah dakwahnya.
Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada kerasulan Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam. Ketika banyak orang meragukan beliau, Khadijah mempercayainya. Ketika banyak orang mencela dan memusuhi beliau, Khadijah membelanya. Ketika sebagian orang menjauh dari dakwah Islam, Khadijah justru menjadi penopang perjuangan suaminya.
Pada malam turunnya wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam pulang dalam keadaan gemetar dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Pada saat itulah Ibunda Khadijah hadir bukan hanya sebagai seorang istri, tetapi juga sebagai sahabat, penenang, dan pendukung setia yang memahami kegelisahan hati beliau.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Ibunda Khadijah berkata kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau menyambung tali silaturahim, menanggung beban orang lemah, membantu orang yang tidak mampu, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah.”
Kalimat-kalimat itu bukan sekadar ungkapan penghibur, melainkan suntikan keyakinan yang menghidupkan kembali ketenangan di hati Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam pada saat-saat yang paling menentukan dalam sejarah dakwah.
Pengorbanan Khadijah tidak berhenti pada dukungan moral. Seluruh kekayaan yang dimilikinya, yang dahulu menjadikannya sebagai salah satu perempuan terpandang di Makkah, ia serahkan untuk menopang perjuangan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam. Hartanya digunakan untuk membantu kaum Muslimin yang tertindas, mendukung aktivitas dakwah, dan menguatkan kaum Muslimin dalam menghadapi tekanan bertubi-tubi dari kaum Quraisy.
Puncak pengorbanannya terlihat ketika Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dan kaum muslimin diboikot di Syi’b Abu Thalib selama 3 tahun. Dalam kondisi serba kekurangan, Khadijah yang terbiasa hidup berkecukupan rela menanggung lapar, menghadapi kesulitan bersama kaum Muslimin. Tahun-tahun berat itu menguras tenaga dan kesehatannya hingga akhirnya ia wafat tidak lama setelah masa pemboikotan berakhir.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Kesedihan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam atas wafatnya Khadijah, ditambah dengan meninggalnya paman beliau, Abu Thalib dikenal dalam sejarah sebagai ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Bertahun-tahun setelah kepergiannya, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam masih mengenang Ibunda Khadijah dengan penuh cinta dan penghormatan, sebuah bukti bahwa jasa dan pengorbanannya telah tertanam begitu dalam di hati beliau.
Dari kisah Ibunda Khadijah, Allah Ta’ala mengajarkan, bahwa di balik lahirnya sebuah peradaban besar, ada seorang wanita mulia yang dengan ketulusan, kesabaran, dan pengorbanannya menjadi tiang penyangga bagi tegaknya agama.
Asma binti Abu Bakar, Wanita di Balik Kesuksesan Hijrah
Di antara nama-nama besar yang menghiasi peristiwa hijrah, terdapat seorang wanita muda yang jasanya luar biasa. Dialah Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anha, putri Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dengan keberanian, kecerdasan, dan pengorbanannya ikut menjaga keberlangsungan misi hijrah yang akan mengubah sejarah dunia.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Saat Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari kejaran kaum Quraisy, Asma memikul tugas yang sangat berbahaya. Di tengah situasi yang mencekam, ia berjalan menembus gelapnya malam dan terjalnya jalan berbatu untuk mengantarkan makanan serta kebutuhan bagi keduanya.
Tugasnya bukan sekadar mengantar bekal. Setiap langkahnya mengandung risiko penyiksaan, penangkapan, bahkan kematian apabila diketahui oleh para pembesar Quraisy. Namun kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan rasa takut yang lazim dirasakan seorang perempuan muda seusianya.
Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dikisahkan, bahwa Abu Jahal pernah mendatangi rumahnya dan bertanya tentang keberadaan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dan ayahnya. Ketika Asma menolak membocorkan rahasia tersebut, Abu Jahal menampar wajahnya dengan keras hingga anting-antingnya terlepas, tetapi sedikit pun ia tidak bergeming dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Pengorbanan Asma tidak berhenti pada peristiwa itu. Ketika hendak menyiapkan bekal perjalanan hijrah, ia tidak menemukan tali untuk mengikat makanan yang akan dibawa kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam. Tanpa ragu, ia merobek ikat pinggang yang dikenakannya menjadi dua bagian; satu digunakan untuk mengikat bekal, sementara yang lain tetap ia gunakan. Dari peristiwa itulah Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam memberinya gelar mulia Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Kisah Asma mengajarkan bahwa perjuangan besar lahir dari pengorbanan yang tulus. Langkah sunyi seorang wanita muda yang mempertaruhkan keselamatan dirinya demi menjaga cahaya dakwah tetap menyala.
Namanya menjadi bukti bahwa sejak awal berdirinya Islam, perempuan tidak pernah berada di pinggir sejarah, melainkan berada di jantung perjuangan, memberikan kontribusi nyata yang akan dikenang sepanjang zaman.
Ummu Salamah dan Pengorbanan yang Mengharukan
Kisah Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha mengajarkan tentang kesabaran yang tak bertepi. Kisah perjuangan seorang ibu yang harus berpisah dengan suami dan anaknya demi mempertahankan keimanan kepada Allah Ta’ala.
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
Dalam kisah hijrahnya, perjalanan Ummu Salamah berubah menjadi tragedi yang memilukan hati. Keluarga sang Suami, Abu Salamah merebut anaknya dari pelukannya. Ia kehilangan suami dan buah hatinya sekaligus.
Ibnu Katsir meriwayatkan, Abu Salamah terpaksa berangkat seorang diri menuju Madinah. Sementara Ummu Salamah tertahan di lembah kota Makkah dalam keadaan hati yang remuk, menyaksikan keluarganya terpisah oleh keluarga suaminya yang tak setuju dengan hijrahnya.
Hari-hari berikutnya menjadi ujian yang sangat berat bagi Ummu Salamah. Hampir setiap hari ia keluar menuju sebuah lembah di Makkah, duduk seorang diri, lalu menangis hingga petang hari karena merindukan anaknya, juga suami yang terpisah darinya.
Bayangkan, bagaimana perasaan seorang ibu yang tidak dapat lagi memeluk anaknya, seorang istri yang tidak tahu lagi kapan dapat bertemu kembali dengan suaminya. Tidak ada kepastian kapan penderitaan itu akan berakhir. Yang ada hanyalah kesabaran, doa, dan keyakinan bahwa Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan hamba-Nya.
Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji
Penderitaan itu berlangsung satu tahun lamanya, hingga akhirnya, Ummu Salamah diizinkan berangkat membawa anaknya menyusul Abu Salamah ke Madinah. Perjalanan panjang yang ditempuh melintasi padang pasir menjadi saksi betapa kuatnya tekad seorang perempuan yang menjadikan iman lebih berharga daripada kenyamanan hidupnya.
Ummu Salamah mendapat pertolongan dari seorang bernama Utsman bin Thalhah yang masih kafir, tetapi baik akhlaknya. Ia bersama anaknya dikawal hingga sampai masuk ke kota Madinah.
Dalam sebuah kisah, Utsman bin Thalhah akhirnya masuk Islam karena kebaikan akhlak Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam yang tetap menyerahkan kunci Ka’bah kepadanya, meski kaum Muslimin sudah membebaskan kota Makkah.
Kisah Ummu Salamah menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu terjadi di medan perang. Terkadang hijrah hadir dalam deraian bentuk air mata, penderitaan, kerinduan, dan kesabaran yang harus dipikul seorang ibu dalam kesendirian.
Karena itu, ketika sejarah berbicara tentang para pahlawan hijrah, nama Ummu Salamah layak ditempatkan di antara mereka. Ia membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu ditandai oleh luka di tubuh, tetapi juga oleh keteguhan hati, hingga Allah menggantinya dengan kemuliaan yang abadi.
Relevansi bagi Muslimah Masa Kini
Kisah para shahabiyah di atas bukanlah sekadar lembaran sejarah yang indah untuk dikenang. Kisah-kisah itu adalah pelajaran yang tetap relevan, memberikan inspirasi bagi perempuan Muslimah di setiap zaman.
Hijrah pada masa kini mungkin tidak lagi berupa perjalanan meninggalkan Makkah menuju Madinah. Akan tetapi, hijrah tetap hadir dalam berbagai bentuk: berpindah dari kebodohan menuju ilmu, dari kelalaian menuju ketaatan, dari sikap apatis menuju kepedulian terhadap umat, serta dari kehidupan yang berpusat pada kepentingan diri menuju pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan masyarakat.
Dalam konteks itu, ruang perjuangan perempuan Muslim terbentang sangat luas. Mereka dapat berjuang melalui pendidikan, dakwah, penguatan keluarga, aktivitas sosial, literasi, media, pelayanan kemanusiaan, serta pembelaan terhadap berbagai persoalan umat, termasuk penderitaan yang dialami rakyat Palestina yang hingga hari ini masih menghadapi penjajahan, pengusiran, dan berbagai bentuk ketidakadilan.
Imam Al-Ghazali Rahimahullah menyebut bahwa perempuan adalah salah satu pilar utama peradaban Islam. Ketika perempuan berilmu, beriman, dan memiliki kesadaran terhadap persoalan umat, maka masyarakat akan melahirkan generasi yang kuat, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap agamanya.
Sastrawan besar Ahmad Syauqi menggambarkan betapa besar peran seorang wanita dalam syairnya:
الأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا. أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأَعْرَاقِ
“Ibu adalah madrasah. Jika Engkau mempersiapkannya dengan baik, berarti Engkau telah mempersiapkan bangsa yang kuat.”
Sejarah hijrah juga mengajarkan bahwa perjuangan Islam tidak pernah menjadi monopoli kaum laki-laki. Di setiap fase penting perjalanan umat, selalu hadir perempuan-perempuan mulia yang mengorbankan tenaga, harta, perasaan, bahkan nyawa mereka demi mempertahankan kebenaran dan menegakkan kalimat Allah.
Mereka membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap dalam sejarah Islam. Mereka adalah pilar-pilar kokoh yang ikut menopang bangunan peradaban Islam sejak masa-masa awal berdirinya hingga mampu menerangi dunia.
Karena itu, ketika Islam memuliakan perempuan, kemuliaan tersebut bukanlah slogan kosong atau penghormatan simbolik semata. Kemuliaan itu lahir dari pengakuan terhadap kontribusi nyata yang telah diberikan para muslimah dalam perjalanan dakwah dan perjuangan umat.
Hijrah pada hakikatnya adalah perjuangan besar yang pengorbanan dan ketakwaan. Dalam perjuangan besar itu, perempuan menempati posisi yang penting dan terhormat, bukan di pinggir sejarah, melainkan di jantung perjuangan, menjadi bagian tak terpisahkan dari lahir dan tegaknya peradaban Islam.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic