Tel Aviv, MINA – Gelombang serangan rudal balistik dan jelajah yang diluncurkan oleh Iran pada Kamis (26/3) kembali mengguncang sejumlah titik strategis di wilayah Israel dalam beberapa waktu terakhir.
Serangan udara ini merupakan eskalasi terbaru dari rentetan konfrontasi bersenjata yang kian intensif, memicu sirene peringatan bahaya di berbagai kota besar serta memaksa ribuan warga sipil untuk mencari perlindungan di bunker bawah tanah.
Walikota Haitham menyatakan, serangan Iran menyebabkan beberapa kerusakan di wilayahnya. Sementara ribuan warga menyelamatkan diri.
Pihak otoritas keamanan setempat melaporkan bahwa meskipun sistem pertahanan udara Iron Dome dan Arrow telah diaktifkan secara maksimal, beberapa proyektil dilaporkan berhasil menembus barikade pertahanan dan mengenai sejumlah infrastruktur penting.
Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur
Serangan ini disebut-sebut sebagai respons balasan Teheran atas serangkaian tindakan provokatif dan serangan udara sebelumnya yang menargetkan aset-aset militer serta diplomatik Iran di kawasan Timur Tengah.
Teheran melalui pernyataan resminya menegaskan bahwa operasi militer ini merupakan bagian dari hak membela diri yang sah sesuai dengan hukum internasional.
Pihak Iran juga memperingatkan bahwa setiap tindakan balasan yang diluncurkan oleh Tel Aviv atau sekutunya akan memicu gelombang serangan yang jauh lebih besar dan menghancurkan, yang menyasar pusat-pusat komando militer di seluruh wilayah pendudukan.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran global akan meletusnya perang terbuka yang melibatkan kekuatan regional dan global secara langsung. Penggunaan rudal hipersonik dalam serangan kali ini menunjukkan peningkatan kapabilitas teknologi militer Iran yang mampu menantang dominasi sistem pertahanan udara Barat.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Krisis ini juga berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi dunia, terutama terkait lonjakan harga minyak mentah dan gangguan pada jalur pelayaran strategis yang melintasi Selat Hormuz serta Laut Merah sebagai dampak dari ketegangan yang meningkat.
Hingga saat ini, dunia internasional masih menunggu langkah diplomatik konkret untuk meredakan ketegangan yang kian membara di jantung Timur Tengah tersebut.
Keberhasilan dalam mencegah perang total akan sangat bergantung pada kemauan politik para pemimpin dunia untuk mengutamakan dialog dan solusi perdamaian di atas ambisi kekuatan militer yang destruktif bagi umat manusia. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic