Oleh Dr. Deni Rahman, S.Sos. I, M.I Kom, Petugas PPIH Arab Saudi 2026, Bertugas di Sektor 2 Mekkah
JIKA dicermati, Selain perjalanan spiritual menuju Tanah Suci, Ibadah haji juga adalah perjalanan sosial dan budaya. Jutaan jamaah dari berbagai negara datang ke Arab Saudi dengan membawa latar belakang budaya, kebiasaan, dan cara hidup yang berbeda-beda. Dalam situasi seperti itu, setiap jamaah dituntut pula etika sosial dan norma yang berlaku di negeri tempat ia berada.
Belakangan ini muncul pemberitaan mengenai seorang jamaah haji Indonesia yang diamankan aparat di Madinah karena merekam seorang wanita Arab Saudi tanpa izin. Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa semangat mendokumentasikan perjalanan ibadah tidak boleh mengabaikan adab sosial dan aturan yang berlaku di negara lain.
Kasus seperti ini sesungguhnya bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan etika dan kesadaran budaya. Banyak orang mungkin tidak memiliki niat buruk ketika mengambil gambar atau merekam video. Namun dalam konteks sosial tertentu, tindakan tersebut dapat dianggap melanggar privasi dan norma masyarakat setempat.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Di Arab Saudi, persoalan privasi, khususnya terhadap perempuan, merupakan hal yang sangat dijaga. Tidak semua aktivitas boleh direkam atau dipublikasikan sembarangan. Karena itu, jamaah haji perlu memahami bahwa berada di Tanah Suci juga berarti menjadi tamu di negeri orang yang memiliki aturan dan budaya tersendiri.
Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim harus menjaga sikap agar tidak mengganggu atau merugikan orang lain, termasuk dalam bentuk tindakan yang mungkin dianggap sepele. Di era digital saat ini, tantangan etika sosial memang semakin besar. Telepon genggam membuat manusia sangat mudah mengambil foto, merekam video, lalu menyebarkannya ke media sosial dalam hitungan detik.
Banyak orang akhirnya terbiasa mengabadikan hampir semua hal yang dilihatnya tanpa berpikir panjang mengenai dampaknya terhadap orang lain.
Budaya digital seperti ini terkadang terbawa hingga ke Tanah Suci. Ada jamaah yang begitu antusias merekam suasana di sekitar Masjidil Haram, pasar, hotel, bahkan aktivitas masyarakat lokal tanpa mempertimbangkan aspek etika dan privasi. Padahal tidak semua hal pantas direkam dan dipublikasikan.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Karena itu, jamaah haji perlu memahami bahwa menjaga adab hari ini bukan hanya menjaga lisan dan perilaku, tetapi juga menjaga penggunaan kamera dan media sosial. Di zaman sekarang, kamera dapat menjadi sarana kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah jika digunakan tanpa kebijaksanaan.
Islam juga mengajarkan kehati-hatian dalam bertindak. Dalam konteks kehidupan digital, kehati-hatian itu termasuk dalam menggunakan teknologi dan menghormati hak privasi orang lain. Selain persoalan privasi, etika sosial jamaah di negeri orang juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menjaga sikap di ruang publik.
Jamaah haji Indonesia membawa identitas bangsa dan umat Islam Indonesia. Karena itu, perilaku setiap jamaah sedikit banyak akan mempengaruhi citra bangsa di mata dunia internasional.
Ketika kita bersikap santun, tertib, dan menghormati aturan, maka yang terbangun adalah citra positif tentang Indonesia sebagai bangsa yang beradab. Sebaliknya, jika jamaah melanggar aturan atau tidak menghormati budaya lokal, maka hal tersebut juga dapat memberikan kesan yang kurang baik.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Dalam Ibadah haji juga terkandung ajaran kedewasaan sosial. Kita belajar hubungan juga bagaimana hidup bersama dengan manusia lain dalam keberagaman budaya dan kebiasaan. Apalagi Islam sendiri sangat menekankan pentingnya adab dalam kehidupan sosial.
Bahkan para ulama sering mengatakan bahwa adab lebih dahulu dipelajari sebelum ilmu. Sebab ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesalahan dalam bersikap.
Maka memahami budaya lokal bukan berarti harus meninggalkan identitas diri, tetapi bagian dari penghormatan terhadap masyarakat tempat kita berada. Dalam kaidah sosial, menghormati norma masyarakat setempat selama tidak bertentangan dengan syariat merupakan bagian dari akhlak yang baik.
Dari ibadah Haji ini, kita juga bisa belajar bahwa tidak semua hal harus dipertontonkan atau didokumentasikan. Ada momen yang lebih baik disimpan sebagai pengalaman spiritual pribadi. Kadang-kadang manusia terlalu sibuk merekam sesuatu hingga lupa menjaga sensitivitas terhadap lingkungan sekitarnya.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Kita perlu memahami bahwa aturan di Arab Saudi terkait privasi dan penggunaan media digital cukup ketat. Pelanggaran tertentu dapat berimplikasi hukum, termasuk denda dan proses pidana. Karena itu, kehati-hatian menjadi sangat penting.
Namun lebih dari sekadar takut pada sanksi hukum, kesadaran menjaga etika sosial seharusnya lahir dari nilai akhlak seorang Muslim.
Penghormatan terhadap privasi, kesantunan dalam bersikap, dan kemampuan menjaga adab dapat menjadi bagian dari tanda kemabruran haji seseorang.
Hal ini sejalan dengan salah satu penjelasan Rasulullah SAW tentang tanda haji mabrur. Ketika Nabi SAW ditanya oleh para sahabat tentang apa yang dimaksud dengan haji mabrur, beliau menjawab:
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ
“Memberi makan dan berkata baik.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).
Hadis ini sangat menarik karena Rasulullah SAW tidak menjelaskan haji mabrur hanya dengan banyaknya ritual ibadah, panjangnya doa, atau lamanya seseorang berada di Tanah Suci. Justru Nabi SAW mengaitkan kemabruran dengan dimensi sosial yakni kepedulian kepada orang lain dan kemampuan menjaga ucapan. Artinya, ukuran kemabruran bukan hanya vertikal dalam hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga horizontal dalam hubungan dengan sesama manusia.
Memberi makan dalam hadis tersebut menunjukkan pentingnya kepedulian sosial, empati, dan keinginan membantu orang lain. Sedangkan ṭīb al-kalām (ucapan yang baik) menunjukkan pentingnya menjaga etika komunikasi, kesantunan, dan penghormatan terhadap sesama.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Dalam konteks kehidupan modern, makna ucapan yang baik tidak hanya terbatas pada lisan, tetapi juga mencakup sikap, perilaku, serta cara seseorang menggunakan media sosial dan teknologi.
Karena itu, menjaga etika sosial selama berhaji sejatinya merupakan bagian dari implementasi haji mabrur itu sendiri. Menghormati privasi orang lain, menjaga sikap di ruang publik, tidak sembarangan merekam orang lain, serta mampu memahami budaya masyarakat setempat merupakan bentuk nyata dari ṭīb al-kalām dan akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah SAW.
Salah satu tanda paling nyata dari haji yang mabrur adalah semakin baik akhlaknya dan semakin santun cara ia memperlakukan sesama manusia.
Wallahu a’lam bish showab []
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
















Mina Indonesia
Mina Arabic