DI sebuah wilayah bernama Tbong Khmom, Kamboja, sekitar 160 kilometer dari ibu kota Phnom Penh, ada seorang lelaki muda yang rela menapaki jalan dakwah, meski jalan itu tidak selalu mudah.
Namanya Adib bin Ghazali. Usianya baru 35 tahun. Di rumah, ia adalah seorang ayah dari lima putra. Namun di luar rumah, ia memilih mengemban tanggung jawab yang jauh lebih besar: mengenalkan Islam kepada masyarakat yang sebagian besar belum mengenal dengan mendalam.
Diwawancarai MINA, Ahad (30/8), Ustaz Adib bin Ghazali berbagai kisah seputar perjalanan dakwahnya. Kisah tentang Adib adalah jejak seorang anak negeri yang memilih pulang setelah menimba ilmu di luar negeri, lalu mengabdikan pengetahuannya untuk masyarakat di tanah kelahirannya.
Ia mengawali pendidikan agamanya di Indonesia, tepatnya di Kediri, Jawa Timur. Setelah itu, perjalanan intelektualnya berlanjut ke Malaysia hingga menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di bidang ilmu hadits.
Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Sayyidus Syuhada yang Gugur di Uhud
Setelah bekal ilmu dirasa cukup, ia kembali ke Kamboja. Bukan untuk mencari kehidupan yang lebih mudah, melainkan untuk menjalankan misi dakwah di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Buddha.
Berdakwah di Negeri Buddha
Kamboja adalah negeri yang kehidupan masyarakatnya sangat lekat dengan Buddhisme Theravada. Data Sensus Penduduk 2025 mencatat dari 17,9 juta penduduknya, sekitar 97,1 persen penduduk Kamboja beragama Buddha, sementara Muslim sekitar 2,1 persen dan Kristen sekitar 0,3 persen.
Islam merupakan agama minoritas. Sebagian besar Muslim Kamboja berasal dari komunitas Cham yang secara historis banyak bermukim di kawasan sepanjang Sungai Mekong dan Danau Tonle Sap.
Baca Juga: Kisah Sa’id bin ‘Amir, Sahabat Nabi yang Zuhud
Komunitas Muslim juga terdapat di Phnom Penh, Kampong Cham, Kampong Chhnang, Kandal, Kampot, Pursat, Battambang, Kratie, Tbong Khmum dan sejumlah wilayah lainnya.
Namun, tidak ada satu pun provinsi di Kamboja yang secara keseluruhan menjadi wilayah mayoritas Muslim. Beberapa provinsi memiliki proporsi Muslim yang relatif lebih tinggi, antara lain: Tbong Khmum, Kratie, Kampong Chhnang, Koh Kong dan Kampot.
Sementara Kandal, tempat Ustaz Adib berasal, juga memiliki komunitas Muslim, meski jumlahnya tetap menjadi minoritas.
Artinya, dakwah yang dilakukan Ustaz Adib berlangsung di tengah masyarakat yang secara demografis didominasi pemeluk Buddha.
Baca Juga: Al-Miqdad bin Amr Kesatria Berkuda Pertama di Awal Islam
Namun, kondisi itu tidak membuatnya gentar. Justru dari perjalanan dakwahnya, ia menemukan satu hal yang membuat langkahnya semakin yakin.
Tidak ada Islamophobia
Menurut Ustaz Adib, masyarakat Kamboja relatif terbuka terhadap keberadaan dan aktivitas umat Islam. Hanya ada satu pantangan utama dalam berdakwah di tengah masyarakat setempat: jangan menghina, mengolok-olok, atau menjelek-jelekkan agama yang menjadi keyakinan mereka.
Islam, kata dia, harus diperkenalkan dengan akhlak, kelembutan, dialog dan penjelasan tentang tauhid secara santun. Pendekatan itulah yang selama ini ia pegang dalam menjalankan dakwah.
Baca Juga: Mu’adz bin Jabal, Sahabat Nabi yang Paling Mengetahui Halal dan Haram
Dalam pengalaman dakwahnya, Ustaz Adib melihat ada satu pintu yang cukup terbuka di hati sebagian masyarakat yang ditemuinya: pencarian tentang Tuhan.
Ia bercerita, sebagian masyarakat non-Muslim yang ditemuinya memiliki pemahaman bahwa patung yang mereka sembah sejatinya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Saat mereka sakit, tertimpa kesulitan atau berada dalam keadaan terjepit, mereka tetap mencari dan memohon kepada kekuatan yang mereka anggap bisa membantunya, bukan meminta pertolongan kepada patung tersebut.
Di titik itulah Ustaz Adib mulai menjelaskan konsep ketuhanan dalam Islam. Bahwa Allah bukanlah patung dan bukan pula benda yang dibuat oleh tangan manusia.
Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Mahakuasa, tempat manusia bergantung dan kepada-Nya seluruh makhluk kembali.
Baca Juga: Shuhaib bin Sinan ar-Rumi: Sahabat Nabi yang Rela Kehilangan Harta demi Hijrah
Penjelasan tentang tauhid itu, menurut pengalaman Ustaz Adib, sering kali mudah dipahami oleh mereka.
Bagi sebagian orang yang ditemuinya, konsep tentang Tuhan Yang Mahasegalanya terasa masuk akal. Tuhan tidak terbatas oleh ruang dan bentuk, tidak membutuhkan manusia, tetapi manusia sepenuhnya membutuhkan-Nya.
Dari dialog-dialog sederhana itulah, menurut pengakuan Ustaz Adib kepada wartawan MINA, pintu hidayah mulai terbuka untuk mereka. Sejak mulai aktif menjalankan misi dakwah pada 2024 hingga kini, ia mengaku telah mendampingi proses syahadat ribuan orang.
Angka itu bukan sekadar statistik baginya. Setiap syahadat adalah awal dari perjalanan hidup baru seorang manusia.
Baca Juga: Sa’d bin Abi Waqqash, Panglima Perang Qadisiyah yang Mengguncang Kekaisaran Persia
Tantangan Setelah Syahadat
Namun, persoalan terbesar dakwah di Kamboja justru muncul setelah seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat.
Membimbing seseorang masuk Islam adalah satu hal yang penting. Namun, membimbingnya agar mampu memahami, mengamalkan dan mempertahankan Islam sepanjang hidup merupakan tantangan yang jauh lebih besar.
Ustaz Adib mengaku kewalahan menghadapi banyaknya orang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, sementara belum banyak orang yang dapat membimbing mereka secara konsisten.
Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits
Para mualaf tersebar di berbagai wilayah. Mereka membutuhkan guru, pembimbing, masjid, madrasah, Al-Qur’an dan pendampingan yang berkelanjutan. Di sinilah ia melihat kebutuhan terbesar dakwah Kamboja hari ini.
Bukan hanya membutuhkan dai yang mampu berbicara tentang Islam, tetapi juga orang-orang berilmu yang mau tinggal, mengajar dan istiqamah mendampingi masyarakat.
Idealnya, kata dia, setiap wilayah memiliki penduduk pribumi yang telah memahami Islam dengan baik. Mereka dapat menjadi guru dan pembimbing bagi masyarakat di sekitarnya.
Atau, ada orang berilmu yang bersedia menetap di Kamboja dan membangun kehidupan bersama masyarakat setempat.
Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa
Dalam pengalaman dakwahnya, salah satu jalan yang memungkinkan seorang dai dapat tinggal secara permanen di suatu daerah adalah melalui pernikahan dengan penduduk lokal.
Sebab dakwah bukan hanya tentang datang, berbicara, lalu pulang. Dakwah adalah tentang kehadiran dan pendampingan.
Di Kamboja, tidak sedikit orang yang telah bersyahadat tetapi belum mengetahui tata cara shalat, belum mampu membaca Al-Qur’an, bahkan masih minim pengetahuan tentang tata cara bersuci dan persoalan halal-haram.
Bukan karena mereka tidak ingin belajar. Persoalannya adalah keterbatasan orang yang dapat mengajari mereka secara rutin dan berkesinambungan.
Baca Juga: Abu Dzar al-Ghifari Sahabat Nabi yang Memilih Hidup Sederhana
Ketika Negara Memberi Ruang
Di tengah kondisi Islam sebagai agama minoritas, kehidupan umat Islam Kamboja tetap memiliki ruang dalam kehidupan publik. Konstitusi Kamboja menjamin kebebasan beragama dan beribadah serta menegaskan kesetaraan warga negara tanpa diskriminasi berdasarkan agama.
Sejumlah tokoh Muslim juga mendapat tempat dalam struktur pemerintahan dan lembaga negara, antara lain Othsman Hassan yang menjabat Senior Minister in Charge of Special Missions, Rofy Othsman sebagai anggota Majelis Nasional Kamboja, dan No Mathsath sebagai Deputy Secretary General pada Ministry of Culture and Religion.
Perhatian terhadap kerukunan umat beragama juga beberapa kali disampaikan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet. Dalam acara buka puasa bersama komunitas Muslim pada Maret 2025, ia menegaskan dukungan pemerintah terhadap kebebasan dan kerukunan beragama serta penolakan terhadap diskriminasi agama.
Baca Juga: Salman al-Farisi: Sang Pencari Kebenaran dari Persia
Sebelumnya, ketika membuka Islamic Summit pertama di Kamboja pada Februari 2025 dengan tema Islam and Buddhism, Hun Manet menekankan pentingnya perdamaian, stabilitas dan keharmonisan agar masyarakat dapat menjalankan keyakinannya masing-masing.
Situasi tersebut menjadi salah satu konteks yang membuat Ustaz Adib melihat Kamboja sebagai negeri yang memiliki ruang untuk dakwah Islam yang santun, damai dan berilmu.
Panggilan untuk Indonesia
Pengalaman itulah yang membuat Ustaz Adib semakin bersemangat mengajak umat Islam Indonesia untuk melihat Kamboja sebagai salah satu ladang dakwah.
Ia berharap ada masyarakat Indonesia yang peduli terhadap dakwah di Kamboja. Ada yang datang sebagai guru. Ada yang membantu pendidikan. Ada yang mendukung pembangunan masjid dan madrasah. Ada yang mengirim Al-Qur’an. Ada yang membantu para mualaf. Ada pula yang mungkin suatu hari bersedia menetap dan mengabdikan hidupnya di sana.
Muslim Kamboja memiliki sejarah panjang yang tidak selalu mudah. Komunitas Cham mengalami penderitaan berat pada masa Khmer Rouge 1975–1979, ketika banyak anggota komunitas tersebut menjadi korban pembunuhan, pengusiran dan penghancuran kehidupan keagamaan.
Namun sejarah kelam itu tidak memadamkan kehidupan Islam di negeri tersebut. Kini, di tengah masyarakat Kamboja yang mayoritas beragama Buddha, umat Islam tetap bisa menjalankan ibadah dan membangun kehidupan komunitasnya. Di ruang itulah, dakwah yang dilakukan dengan ilmu, kesantunan dan keteladanan menemukan tempatnya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic